Thursday, August 20, 2026


Kalau dipikir sekarang, mungkin cita-cita kami waktu itu agak kelewatan.

Kami ingin panjat tebing seramai sepakbola.

Bukan berarti setiap kampung harus punya papan panjat. Bukan pula berharap orang meninggalkan sepakbola lalu berbondong-bondong menjadi pemanjat.

Kami cuma ingin suatu hari panjat tebing tidak lagi menjadi olahraga yang ketika disebut orang masih bertanya:

“Memanjat tebing beneran?”

Keinginan itu muncul setelah kami membuat Festival Dolanan Penekan.

Program itu cukup berhasil menarik anak-anak mengenal panjat tebing. Mereka datang, mencoba memanjat, kemudian beberapa mulai berlatih. Kami menyebut mereka Spider Kid.

Awalnya saya senang.

Dalam pikiran saya sederhana: kalau sejak kecil sudah dikenalkan panjat tebing, nanti kita punya banyak atlet.

Ternyata saya lupa satu hal.

Anak kecil tidak bisa dipercepat menjadi dewasa.

Mau programnya sebagus apa pun, kami tetap harus menunggu bertahun-tahun sampai Spider Kid masuk usia junior, apalagi senior.

Belum lagi selama menunggu itu mereka harus terus berlatih.

Harus ada pelatih.

Harus ada kompetisi.

Harus ada tempat latihan.

Dan yang paling sulit: mereka harus punya alasan untuk tetap mencintai panjat tebing.

Saya mulai sadar bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana mencari bibit atlet.

Kami harus membuat dunia panjat tebingnya menarik untuk ditinggali.

Maka mulailah kami membuat program yang macam-macam.

Sebagian serius.

Sebagian agak aneh.

Untuk Mencari Juara, Kami Membuat Sirkuit

Yang paling normal adalah Sirkuit Panjat Tebing Kabupaten.

Ini kompetisi resmi.

Kami membutuhkan tempat untuk melihat atlet-atlet junior dan senior yang potensial, kemudian menyeleksi mereka masuk pemusatan latihan menuju Pekan Olahraga Daerah.

Ada pertandingan.

Ada hasil.

Ada seleksi.

Ada target prestasi.

Semua masuk akal untuk sebuah federasi olahraga.

Tetapi kalau hanya melakukan itu, saya merasa panjat tebing tidak akan ke mana-mana.

Yang datang ke pertandingan ya orang panjat tebing.

Yang menonton teman-temannya sendiri.

Yang tepuk tangan juga orang-orang yang sama.

Besok latihan, ketemu lagi dengan orang-orang itu.

Lingkarannya terlalu kecil.

Kalau ingin panjat tebing dikenal masyarakat, kami harus membuat alasan agar orang yang tidak bisa memanjat pun mau datang.

Lalu muncul ide yang mungkin agak kurang lazim untuk sebuah program federasi olahraga.

Kami Membuat Pertandingan Menunggu Bulan Purnama

Namanya Panjat Tebing Padang Bulan.

Pertandingannya malam hari.

Kalau bisa ketika bulan sedang terang.

Bukan karena bulan purnama membuat atlet memanjat lebih cepat. Tentu tidak.

Kami hanya ingin membuat suasana.

Inspirasi saya waktu itu kurang lebih datang dari bagaimana Pengajian Padang Mbulan mampu menjadi ruang berkumpul masyarakat.

Saya berpikir, kenapa panjat tebing tidak bisa punya suasana seperti itu?

Orang datang tidak harus menjadi atlet.

Mau nonton silakan.

Mau ngobrol silakan.

Mau nongkrong juga tidak masalah.

Yang penting mereka datang ke venue panjat tebing.

Kebetulan di dekat venue ada sebuah angkringan milik orang tua salah satu atlet. Kondisi ekonominya relatif perlu dibantu.

Di kepala saya muncul hitung-hitungan yang sangat sederhana.

Kalau pertandingan malam ramai, orang pasti haus.

Kalau haus, beli teh.

Kalau duduk lama, mungkin tambah gorengan.

Kalau yang datang banyak, angkringannya ikut ramai.

Sederhana sekali.

Tidak ada teori sport tourism, economic impact, atau istilah keren lainnya dalam kepala kami waktu itu.

Cuma ada pikiran:

kalau panjat tebing ramai, jangan sampai yang menikmati keramaiannya hanya atlet.

Kalau orang tua atlet yang jualan angkringan bisa mendapat tambahan penghasilan, saya justru merasa kegiatan itu punya arti lebih.

Medali tetap penting.

Tetapi gorengan yang habis terjual malam itu juga menyenangkan.

Kami Juga Pernah Mengadu Juara dengan Cara yang Agak Jahat

Ada program lain yang sampai sekarang menurut saya masih menarik kalau dibayangkan.

Boulder Challenge.

Kami ingin memberi panggung khusus kepada atlet-atlet yang sudah berprestasi.

Tetapi kalau cuma dipertandingkan biasa, rasanya kurang seru.

Akhirnya kami membuat format head to head antarjuara.

Yang unik, jalurnya bukan dibuat panitia.

Lawan yang membuatnya.

Misalnya Atlet A melawan Atlet B.

Atlet A membuat jalur khusus untuk Atlet B.

Tentu saja dia akan berpikir:

“Gerakan apa yang paling menyusahkan orang ini?”

Tetapi kami memberi satu aturan penting.

Atlet A sendiri wajib bisa menyelesaikan jalur buatannya.

Jadi tidak boleh membuat jalur ngawur hanya supaya lawannya gagal.

Setelah itu giliran Atlet B membalas.

Dia membuat jalur untuk Atlet A.

Dan dia juga harus mampu menyelesaikannya sendiri.

Bayangkan gengsinya.

Dua orang juara berdiri di depan papan boulder.

Mereka bukan hanya bertanding siapa paling kuat.

Mereka sedang saling membaca.

Kekuatan lawannya apa?

Kelemahannya di mana?

Gerakan seperti apa yang membuat dia kesulitan?

Tetapi jangan sampai terlalu sulit karena pembuat jalurnya sendiri nanti malah tidak bisa.

Kalau itu terjadi, malunya dobel.

Kami ingin pertandingan punya cerita.

Karena itu atlet-atlet tertentu juga kami beri julukan.

Ada Bayu “Master Boulder”.

Ada Wahyu “Turun Gunung”.

Ada Purnomo dan nama-nama lain.

Kami ingin ketika wartawan menulis pertandingan, yang muncul bukan sekadar:

“Atlet A mengalahkan Atlet B.”

Terlalu datar.

Bayangkan kalau yang muncul:

Bayu “Master Boulder” ditantang Wahyu “Turun Gunung”.

Belum bertanding saja rasanya sudah ada urusan pribadi.

Padahal setelah pertandingan ya latihan bareng lagi.

Sekarang istilahnya mungkin personal branding.

Waktu itu kami tidak berpikir sejauh itu.

Kami cuma ingin orang membuka koran lalu merasa:

“Wah, panjat tebing ternyata seru juga.”

Kalau Mau Populer, Jangan Sembunyi di Kampus

Ada persoalan lain yang cukup mengganggu pikiran saya.

Panjat tebing banyak tumbuh dari kampus.

Saya sendiri juga mengenal dunia ini dari lingkungan kampus. Peran kampus dalam perkembangan panjat tebing sangat besar.

Tetapi ada konsekuensinya.

Kalau semua papan panjat berada di dalam kampus, masyarakat hanya melihatnya dari luar.

Kami ingin membalik keadaan.

Papan panjat harus mendatangi masyarakat.

Salah satu yang kemudian hadir adalah Fitriyani Climbing Arena di Lapangan Klebengan, yang pembangunannya didanai Pemerintah Pusat.

Ada lead.

Ada speed.

Ada boulder.

Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih penting dari fasilitasnya.

Namanya.

Kami memakai nama Fitriyani sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai juara nasional dan peraih prestasi SEA Games pada Speed Track perorangan putri.

Kami juga membangun sendiri papan boulder dan menamainya Bayu Climbing Center, sebagai penghargaan atas keberhasilan Bayu menjadi juara nasional boulder perorangan putri.

Saya suka gagasan sederhana ini.

Biasanya nama atlet muncul di koran ketika menang.

Besok korannya menjadi bungkus entah apa, namanya hilang.

Tetapi kalau namanya menjadi nama venue, ceritanya bisa bertahan lebih lama.

Suatu hari mungkin ada anak datang latihan.

Dia melihat tulisan Bayu Climbing Center.

Lalu bertanya:

“Bayu siapa?”

“Juara nasional.”

Mungkin anak itu cuma mengangguk.

Tetapi siapa tahu beberapa tahun kemudian dia ingin namanya juga dipasang di suatu tempat.

Lalu Kami Berusaha Masuk Koran Setiap Minggu

Ada satu program yang tidak membutuhkan sepatu panjat.

Tidak membutuhkan tali.

Tidak membutuhkan papan.

Berteman dengan wartawan.

Kami menjalin hubungan dengan wartawan olahraga dari hampir seluruh media regional populer di wilayah federasi kami.

Target kami sederhana tetapi cukup merepotkan:

usahakan seminggu sekali panjat tebing muncul di media.

Kalau ada pertandingan, kirim berita.

Ada atlet berprestasi, kirim.

Ada kegiatan, kirim.

Ada perkembangan venue, kirim.

Pokoknya jangan membiarkan panjat tebing terlalu lama menghilang dari halaman olahraga.

Sebab saya berpikir begini:

Bagaimana seorang anak bisa bercita-cita menjadi atlet panjat tebing kalau dia bahkan tidak pernah membaca atau mendengar nama atlet panjat tebing?

Masyarakat mengenal sepakbola karena sepakbola hadir hampir setiap hari dalam kehidupan mereka.

Kami memang tidak mungkin menandingi itu.

Tetapi setidaknya kami bisa mengetuk pintunya pelan-pelan.

Minggu ini satu berita.

Minggu depan satu lagi.

Begitu terus.

Lalu Waktu yang Menjawab

Setelah itu tahun-tahun berlalu.

Ada pengurus yang datang dan pergi.

Ada atlet yang bertahan.

Ada yang mungkin berhenti.

Anak-anak Spider Kid juga semakin besar.

Kami tidak pernah benar-benar tahu apakah eksperimen yang kami lakukan itu akan menghasilkan sesuatu.

Padang Bulan.

Boulder Challenge.

Sirkuit.

Venue.

Julukan atlet.

Berita setiap minggu.

Kalau dilihat satu-satu seperti tidak berhubungan.

Sampai beberapa tahun kemudian muncul kabar yang membuat saya seperti diajak melihat ke belakang.

Salah satu atlet putri yang lahir dari rangkaian kompetisi tersebut kemudian berkembang dan meraih prestasi di SEA Games dan Asian Games.

Lalu ada kabar lain.

Salah satu anak yang dulu mengikuti Spider Kid dalam Festival Dolanan Penekan akhirnya tumbuh menjadi atlet Pelatnas Junior.

Saya langsung teringat persoalan yang dulu membuat saya gelisah:

“Berapa tahun kami harus menunggu anak-anak ini menjadi atlet?”

Ternyata jawabannya memang:

bertahun-tahun.

Tidak ada jalan pintas.

Anak kecil tetap harus tumbuh.

Atlet tetap harus berlatih.

Kalah tetap harus dirasakan.

Cedera mungkin harus dilewati.

Sekolah tetap harus dijalani.

Seleksi tetap harus dimenangkan.

Tetapi sekarang saya memahami sesuatu yang dulu belum sepenuhnya saya pahami.

Selama menunggu mereka tumbuh, tugas kami bukan sekadar duduk melihat kalender.

Kami harus membuat mereka punya dunia yang membuat mereka ingin bertahan.

Ada kompetisi untuk dikejar.

Ada juara untuk dikalahkan.

Ada venue untuk berlatih.

Ada nama senior yang bisa dibanggakan.

Ada berita yang bisa dibaca orang tuanya.

Ada penonton yang berteriak ketika mereka hampir mencapai top.

Bahkan ada angkringan di samping venue yang menjadi lebih ramai ketika mereka bertanding.

Mungkin itulah bagian paling menarik dari masa saya mengurus panjat tebing.

Kami pernah mencoba membuat panjat tebing populer dengan cara yang macam-macam.

Mengajak anak-anak bermain.

Bertanding saat terang bulan.

Membiarkan juara membuat jalur untuk menjatuhkan juara lainnya.

Memberi atlet julukan seperti petarung.

Mengabadikan nama juara menjadi nama venue.

Dan mengejar wartawan supaya panjat tebing tidak hilang dari koran.

Dulu semuanya kami anggap sebagai program yang berbeda.

Sekarang saya melihatnya sebagai satu cerita.

Kami memang ingin melahirkan juara.

Tetapi ternyata untuk melahirkan seorang juara, tidak cukup hanya menemukan anak berbakat lalu menyuruhnya berlatih.

Kami harus membuat olahraga ini punya pertandingan.

Punya panggung.

Punya tokoh.

Punya penonton.

Punya cerita.

Bahkan kalau perlu, punya angkringan.

Kami tidak hanya sedang melatih atlet.

Kami sedang membangun dunia yang membuat mereka ingin terus memanjat.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts