Juli 2024, hasil laboratorium menunjukkan kreatininku 9,55 mg/dL. Dokter mengatakan aku sudah harus cuci darah. Bahkan waktu itu dokter hendak memberiku surat pengantar untuk HD, tetapi aku menolak.
Alasannya sederhana: aku merasa belum sesakit itu.
Aku masih bekerja seperti biasa. Masih lembur. Masih pergi ke mana-mana. Memang wajahku mulai terlihat pucat dan tubuh lebih cepat lelah. Kadang pusing, sesekali agak mual, tetapi kemudian hilang lagi. Nafsu makanku masih sangat bagus. Aktivitas juga nyaris tidak berkurang.
Jadi ketika dokter mengatakan aku harus cuci darah, rasanya tidak nyambung dengan apa yang kurasakan. Dalam bayanganku waktu itu, orang yang sudah harus cuci darah mestinya sakit berat, lemah, mungkin sudah tidak sanggup menjalani aktivitas normal.
Sedangkan aku?
Besoknya masih ngantor. Masih lembur. Masih gas pol.
Mungkin itulah yang membuatku sulit menerima kenyataan bahwa ginjalku sudah dalam kondisi berat.
Sebenarnya usaha mencari pengobatan alternatif sudah kulakukan sekitar setahun sebelumnya. Herbal pernah, tusuk jarum pernah, pijat juga pernah. Setiap mendengar ada pengobatan yang katanya bisa membantu ginjal, aku tertarik mencari tahu.
Harapanku cuma satu: ginjalku bisa membaik dan aku tidak perlu cuci darah.
Kenyataannya berbeda. Selama setahun itu kondisiku bukannya membaik, tetapi perlahan justru semakin buruk sampai akhirnya dokter menyarankan HD.
Tetapi aku belum menyerah.
Aku masih ingin mencari jalan lain.
Suatu hari sebuah iklan lewat di FYP media sosialku. Entah kebetulan atau algoritma sudah membaca apa yang sering kucari, iklan itu menawarkan pengobatan dari luar negeri yang membuka layanan di Jakarta. Penyakit yang disebut bukan penyakit ringan. Ada gagal ginjal, kanker, termasuk kanker payudara, dan beberapa penyakit kronis lainnya. Testimoninya juga banyak.
Metodenya membuatku penasaran: semacam penyinaran yang diarahkan ke bagian tubuh atau organ yang sakit.
Harga normal satu paket sekitar Rp15 juta untuk tiga hari terapi. Kebetulan saat itu sedang ada promo besar sehingga aku hanya perlu membayar sekitar Rp5 juta.
Dalam keadaan sedang berusaha keras menghindari cuci darah, tawaran seperti itu tentu sangat menggoda.
Setelah berembug dengan istri, akhirnya aku memutuskan mencoba.
Aku berangkat sendiri naik kereta ke Jakarta. Dari stasiun lanjut ojol menuju lokasi. Ketika sampai, aku agak kaget karena tempatnya ternyata berada di sebuah ruko.
Ada resepsionis, dua atau tiga orang perawat, seorang dokter, dan beberapa pasien yang sedang menunggu giliran.
Ketika namaku dipanggil, aku masuk ke ruangan dan mendapatkan cairan melalui infus. Sampai sekarang aku tidak tahu persis cairan apa yang diberikan. Yang kuingat, setelah itu badanku terasa segar.
Setelah infus selesai, aku menunggu giliran untuk penyinaran.
Aku dibaringkan di depan sebuah mesin, kemudian tubuhku digeser sedikit masuk ke semacam lorong. Posisi tubuh diatur agar bagian yang dituju tepat di area ginjal. Mataku ditutup. Aku sudah lupa persis durasinya, tetapi seingatku satu sesi berlangsung sekitar 15–20 menit.
Karena satu paket berlangsung tiga hari, aku mencari penginapan di sekitar lokasi.
Di sana aku bertemu banyak pasien gagal ginjal lainnya. Ada yang datang jauh-jauh dari luar Pulau Jawa. Beberapa bahkan langsung mengambil beberapa paket sekaligus dan memilih tinggal lebih lama di Jakarta daripada harus bolak-balik naik pesawat.
Melihat mereka, waktu itu aku justru semakin optimistis.
Mungkin memang ada jalan lain.
Tiga hari selesai. Aku pulang ke Semarang dengan badan yang terasa segar. Setelah itu hidup kembali berjalan seperti biasanya.
Beberapa waktu kemudian aku mendapatkan penawaran lagi. Ada diskon untuk pemeriksaan dan terapi berikutnya. Kalau tidak salah, dari sekitar Rp15 juta menjadi Rp7,5 juta. Paketnya memang bermacam-macam, termasuk lama penyinarannya. Ada sekitar 15 menit, 20 menit, 30 menit, dengan harga yang berbeda.
Aku tertarik lagi.
Untuk kedua kalinya aku berangkat sendiri naik kereta ke Jakarta.
Kalau mengingat kondisiku waktu itu, sekarang kadang aku sendiri heran. Aku masih makan seperti biasa, minum seperti biasa, dan BAK juga masih normal menurut yang kurasakan. Aku belum membatasi protein. Belum menghitung cairan. Aku masih bekerja dan masih mampu bepergian sendiri.
Bahkan secara mental, aku merasa baik-baik saja.
Aku tidak merasa sedang membawa penyakit berat di dalam tubuh. Aku bisa merencanakan perjalanan sendiri, naik kereta, pesan ojol, mencari penginapan dan mengurus semuanya tanpa bantuan orang lain.
Sampai pada kunjungan kedua itu aku diminta melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap.
Hasilnya kubawa kepada dokter di sana.
Dokter membaca angka-angkanya.
Lalu dia mengatakan bahwa eGFR-ku tinggal sekitar 5.
Aku diam.
Lima?
Jantungku langsung berdegup kencang. Badanku seperti gemetar.
Aku sendirian di Jakarta. Jauh dari istri. Jauh dari keluarga.
Beberapa saat sebelumnya aku masih merasa biasa saja. Aku datang sendiri naik kereta, lanjut ojol, berjalan sendiri dan mengurus semuanya sendiri.
Sekarang sebuah angka di hasil laboratorium tiba-tiba mengatakan bahwa kondisi ginjalku sudah sangat berat.
Aku benar-benar tidak siap.
Yang terus berputar di kepalaku hanya satu pertanyaan:
Kalau ginjalku memang sudah separah itu, kok aku masih bisa melakukan semuanya?
Sejak hari itu aku mulai banyak membaca tentang gagal ginjal.
Dan mungkin di situlah masalah baru muncul.
Aku membaca terlalu banyak ketika sedang takut.
Semakin kubaca, semakin ke mana-mana pikiranku. Gagal ginjal bisa menyebabkan ini, bisa menyebabkan itu. Risiko jantung, kelebihan cairan, kalium, anemia, sesak, dan berbagai komplikasi lainnya.
Satu istilah medis membawaku ke istilah lain. Kubaca lagi, muncul risiko berikutnya.
Bukannya semakin tenang, pikiranku justru semakin kacau.
Sebelumnya kalau pusing sedikit, ya kupikir cuma pusing. Kalau capek, kupikir karena kebanyakan kerja. Kalau agak mual, beberapa saat kemudian hilang dan aku melupakannya.
Setelah mengetahui eGFR-ku sekitar 5, semuanya terasa berbeda.
Pusing sedikit mulai membuatku takut. Mual sedikit mulai kupikirkan. Badan terasa tidak enak sedikit, pikiranku langsung lari ke gagal ginjal.
Padahal kalau kuingat sekarang, tubuhku tidak mendadak berubah pada hari itu. Yang berubah drastis justru pikiranku.
Sebelum mendengar angka 5, aku adalah orang dengan ginjal yang sudah rusak berat tetapi masih merasa baik-baik saja. Beberapa menit setelah mendengarnya, aku mulai menjadi orang yang takut terhadap tubuhnya sendiri.
Barulah perlahan aku memahami mengapa dokter pada bulan Juli sudah menyuruhku bersiap menjalani cuci darah.
Ternyata masih bisa bekerja bukan berarti ginjalku masih baik. Masih doyan makan bukan berarti kondisiku ringan. Masih bisa BAK bukan berarti fungsi ginjalku masih aman. Dan masih sanggup naik kereta sendirian ke Jakarta bukan berarti semuanya baik-baik saja.
Ada penyakit yang kedatangannya tidak langsung membuat seseorang terbaring. Tubuh masih bisa diajak berjalan, bekerja, bahkan lembur. Dan mungkin justru karena itulah aku terus merasa masih punya banyak waktu.
Aku datang ke Jakarta membawa harapan untuk menemukan jalan agar tidak perlu cuci darah.
Tetapi aku pulang membawa sesuatu yang tidak kubawa ketika berangkat:
ketakutan.
Waktu itu aku belum tahu, tubuhku ternyata hanya memberiku waktu beberapa bulan lagi untuk terus merasa bahwa semuanya masih bisa kuatasi.
Oktober 2024, semuanya berubah.

0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.