Thursday, September 24, 2026

Bertahun-tahun sebelum menjadi pasien hemodialisa, aku sebenarnya sudah akrab dengan ruang cuci darah. Aku sering mengantar ibundaku dan pakdheku menjalani hemodialisa. Mereka kakak beradik, sama-sama mengalami gagal ginjal, dan keduanya kemudian meninggal karena penyakitnya.



Waktu itu aku hanya menjadi orang yang mengantar dan menemani. Tidak pernah terpikir bahwa suatu hari aku akan berbaring di tempat yang sama sebagai pasien. Hari itu akhirnya datang, bermula dari pusing yang sudah tidak tertahankan sejak tengah malam, tekanan darah sekitar 220/110, masuk ICCU dalam kondisi yang ternyata sudah antara sadar dan tidak sadar, berpindah rumah sakit dengan ambulans, hingga pemasangan CDL yang sempat beberapa kali gagal.

Anehnya, dari semua rangkaian itu, hemodialisa pertama justru bukan bagian yang paling kutakuti. Aku merasa cukup tenang karena sudah berkali-kali melihat ibu dan pakdhe menjalaninya. Aku bahkan merasa sudah siap. Ternyata aku salah memperkirakan satu hal. Bukan saat akan menjalani hemodialisa yang membuatku kewalahan, tetapi apa yang terjadi setelah mesin itu selesai bekerja. Pusing luar biasa, mual dan muntah hebat membuatku bahkan tidak sanggup membuka mata sampai kembali ke bangsal.

Sebuah pengalaman yang dimulai dengan pertanyaan sederhana—“Kalau cuma pusing begini, memang termasuk gawat darurat?”—dan berakhir di sebuah ruang yang sebenarnya sudah lama kukenal. Bedanya, kali ini aku bukan lagi orang yang mengantar. Aku adalah pasiennya.

Malam Itu Pusingnya Sudah Tidak Tertahankan

Malam setelah Grand Final ASN Inovatif ternyata menjadi salah satu malam yang kemudian mengubah sejarah kesehatanku. Sejak tengah malam, pusing yang kurasakan semakin berat sampai akhirnya benar-benar tidak tertahankan. Aku membangunkan istriku.

Lucunya, dalam kondisi seperti itu aku masih sempat memikirkan sesuatu yang sangat praktis. “Ini benar-benar gawat darurat atau cuma pusing?” Aku khawatir kalau ternyata kondisiku dianggap bukan kegawatdaruratan, pelayanan di IGD tidak bisa menggunakan BPJS dan akhirnya harus membayar sendiri.

Belakangan aku baru menyadari betapa tidak perlunya kekhawatiran itu. Saat sampai di IGD, ternyata kondisiku sudah berada di antara sadar dan tidak sadar. Tekanan darahku sekitar 220/110 mmHg. Setelah diperiksa, dokter langsung merekomendasikan aku masuk ICCU. Di sanalah rangkaian panjang menuju hemodialisa pertamaku dimulai.

Ternyata Kesadaranku Sudah Tidak Sepenuhnya Baik

Ketika masuk rumah sakit, berbagai alat medis dipasang di tubuhku. Salah satunya kateter untuk BAK. Anehnya, ketika kateter itu dipasang aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku bahkan sempat berpikir, “Oh, ternyata dipasang kateter memang tidak sakit.”

Beberapa hari kemudian, ketika kondisiku sudah jauh lebih baik dan kateter itu akan dilepas, barulah aku tahu jawabannya. Sakit juga ternyata. :) Dari pengalaman sederhana itulah aku semakin yakin bahwa ketika pertama datang ke IGD, kesadaranku memang sudah tidak sepenuhnya baik. Aku merasa sadar dan masih mempunyai potongan-potongan ingatan tentang apa yang terjadi, tetapi mungkin sebenarnya kesadaranku hanya sebagian.

Tat Tit Tat Tit di ICCU

Ketika mulai benar-benar sadar di ICCU, salah satu hal yang paling kuingat justru suara. Tat... tit... tat... tit.... Entah berapa alat yang berbunyi di ruangan itu. Dalam kondisiku saat itu, suara berbagai monitor tersebut terasa gaduh sekali.

Kemudian aku menengok ke kanan dan kiri. Di situlah rasa tidak nyaman berubah menjadi rasa takut. Pasien-pasien di sekitarku hampir semuanya dalam keadaan tidak sadar, sementara aku sudah mulai bisa melihat, berpikir dan berbicara. Jujur saja, suasananya terasa seram. Aku sampai berpikir, “Kok aku ditaruh di sini? Memangnya kondisiku separah mereka?”

Akhirnya aku mencoba bernegosiasi dengan perawat dan dokter agar dipindahkan ke bagian lain. Bukan karena merasa sudah sehat, tetapi secara psikologis aku benar-benar tidak nyaman berada di sana. Hari berikutnya aku dipindahkan ke bagian lain di area ICCU. Di dekat tempatku dirawat ada ruangan bayi yang bisa kulihat dari balik kaca. Entah kenapa, melihat bayi-bayi itu membuat perasaanku jauh lebih nyaman. Di tengah kondisi seperti itu, ternyata hal sederhana bisa sangat memengaruhi pikiran.

Menunggu Tubuhku Stabil

Hari-hari itu tubuhku penuh dengan berbagai selang. Botol infus rasanya datang dan pergi. Ada selang yang mampet kemudian dibetulkan, ada pula yang harus dipasang ulang. Tekanan darahku juga terus menjadi perhatian karena sangat tinggi.

Sebenarnya gagal ginjal bukan diagnosis yang baru kuketahui saat itu. Aku sudah mengetahui kondisi ginjalku sebelumnya, tetapi sampai saat itu belum pernah menjalani hemodialisa. Dokter menjelaskan bahwa aku belum bisa langsung menjalani cuci darah karena ada kondisi tubuh yang harus dikoreksi dan distabilkan terlebih dahulu.

Aku sudah tidak ingat persis istilah medis yang digunakan dokter. Dalam ingatanku ada kaitannya dengan kondisi asam-basa tubuh, mungkin asidosis, tetapi aku tidak ingin memastikan sesuatu yang memang sudah tidak kuingat dengan jelas. Sebagai pasien, yang kupahami waktu itu sederhana: tubuhku harus dibuat cukup stabil sebelum menjalani hemodialisa.

Istriku Mencari Rumah Sakit untuk Tempatku Cuci Darah

Memasuki hari ketiga, muncul persoalan berikutnya. Aku membutuhkan hemodialisa, sementara rumah sakit tempatku dirawat saat itu tidak memungkinkan untuk langsung melakukannya. Perawat sebenarnya sudah memberikan saran beberapa rumah sakit yang bisa dicoba. Akhirnya istriku yang bergerak mencari.

Bagi sebagian orang mungkin terdengar sederhana: datang ke rumah sakit, bertanya apakah tersedia layanan hemodialisa, lalu mengurus rujukan. Tetapi bagi istriku tidak sesederhana itu. Ia bukan orang yang terbiasa pergi ke mana-mana sendirian. Aktivitasnya lebih banyak di sekitar rumah dan pergi sendiri biasanya hanya untuk berbelanja di tempat-tempat yang sudah dikenalnya. Sekarang ia harus naik kendaraan sendiri mencari rumah sakit untuk suaminya yang sedang terbaring di ICCU.

Sampai di rumah sakit tujuan pun persoalannya belum selesai. Tidak serta-merta ia bisa bertemu orang yang mempunyai kewenangan untuk memastikan apakah aku dapat diterima. Ada prosedur, administrasi dan birokrasi yang harus dilewati, sementara aku hanya bisa menunggu dari tempat tidur rumah sakit.

Akhirnya ditemukan satu rumah sakit yang bisa menerima. Rumah sakit tempatku dirawat kemudian membuat rujukan secara online dan rumah sakit tujuan memberikan respons. Malam itu kami bersiap pindah.

Untuk Kedua Kalinya Aku Naik Ambulans

Sekitar tengah malam aku dibawa menggunakan ambulans menuju rumah sakit berikutnya. Itulah pengalaman keduaku naik ambulans. Pengalaman pertama terjadi bertahun-tahun sebelumnya ketika istriku akan melahirkan anak pertama kami. Saat itu proses persalinan normal tidak berjalan sesuai harapan sehingga ia harus dirujuk ke rumah sakit lain yang jaraknya sekitar 40 kilometer.

Waktu itu aku ikut naik ambulans sebagai pendamping istriku. Sekarang posisinya terbalik. Dulu aku duduk di ambulans menemani istriku. Kali ini aku yang terbaring sebagai pasien, dan istriku yang menemaniku. Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami perjalanan dengan posisi yang bertukar seperti itu.

“Saya Belum Dipasang Akses, Lho...”

Kami tiba di rumah sakit tujuan sekitar tengah malam. Aku masuk melalui IGD terlebih dahulu dan baru keesokan paginya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dalam pikiranku, tahap berikutnya mestinya jelas: dibuatkan akses untuk hemodialisa, kemudian barulah menjalani cuci darah.

Ternyata urutannya sempat membuatku bingung. Seorang perawat dari unit hemodialisa datang untuk menjemputku. Aku kaget. “Saya belum dipasang akses, lho....” Aku langsung menolak.

Pengetahuanku tentang hemodialisa saat itu memang masih sangat terbatas. Yang terbayang di kepalaku adalah akses untuk cuci darah akan dibuat melalui pembuluh darah di sekitar selangkangan. Membayangkannya saja sudah membuatku tidak nyaman. Akhirnya proses hemodialisa belum dilakukan saat itu. Hari berikutnya barulah aku dipanggil ke ruang tindakan untuk pemasangan CDL.

Sakit, Geli, Jengkel, Lalu Maklum

CDL akan dipasang di dada sebelah kiri. Aku hanya mendapat bius lokal sehingga selama tindakan berlangsung tetap sadar. Seingatku kepalaku dimiringkan ke kanan dan ada kain atau semacam penghalang sehingga aku tidak bisa melihat secara langsung apa yang sedang dilakukan di dada kiriku. Aku memang tidak bisa melihat, tetapi aku bisa mendengar.

Ada dua dokter residen yang mengerjakan pemasangan. Setelah dada sebelah kiriku disayat, alat yang hendak dimasukkan ternyata tidak berhasil masuk sebagaimana mestinya. Dicoba lagi, gagal lagi. Ketika alat dimasukkan melalui bagian yang sudah disayat itu, rasa sakitnya lumayan terasa.

Sementara dari balik penghalang aku mendengar percakapan kedua dokter. Dari cara mereka berbicara, aku mulai menangkap bahwa tindakan itu tidak berjalan semulus yang direncanakan. Bayangkan posisiku: aku berbaring dalam keadaan sadar, dada sudah disayat, ada alat yang beberapa kali dicoba dimasukkan tetapi gagal, sementara aku mendengar sendiri percakapan dokter yang terdengar mulai agak panik.

Sejujurnya perasaanku waktu itu campur aduk. Sakit, takut, geli, sekaligus agak jengkel. Geli mendengar percakapan mereka, jengkel karena sempat terlintas dalam pikiranku, “Kok rasanya aku seperti jadi kelinci percobaan, ya?” :)

Akhirnya dokter yang lebih senior dipanggil. Setelah melihat kondisinya, kurang lebih dijelaskan bahwa posisi sayatan sebelumnya kurang tepat. Aku yang sejak tadi hanya bisa mendengarkan akhirnya pasrah. Yang penting satu: tolong diselesaikan. Setelah ditangani, CDL akhirnya berhasil terpasang.

Kalau dipikir kembali sekarang, rasa jengkelku waktu itu juga akhirnya bisa kupahami. Dokter residen memang harus belajar dan menambah jam terbang. Mungkin tindakan seperti pemasangan CDL dianggap cukup memungkinkan dilakukan dalam proses pendidikan dengan supervisi dokter yang lebih senior. Dan akhirnya aku pun bisa memakluminya.

Sebelum Cuci Darah, Harus Rontgen Dulu

Ternyata setelah CDL terpasang aku belum langsung menjalani hemodialisa. Aku harus menjalani pemeriksaan rontgen terlebih dahulu untuk memastikan posisi CDL sudah benar. Setelah hasilnya dipastikan baik, barulah aku dibawa menuju ruang hemodialisa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan benar-benar menjalani apa yang selama ini hanya kukenal sebagai cuci darah. Anehnya, aku tidak terlalu takut.

Cuci Darah Bukan Dunia yang Asing Bagiku

Ada alasan mengapa aku relatif tenang menghadapi hemodialisa pertama. Aku sudah mengenal dunia itu jauh sebelum menjadi pasien. Bertahun-tahun sebelumnya aku sering mengantar ibundaku dan pakdheku menjalani hemodialisa. Mereka kakak beradik dan sama-sama mengalami gagal ginjal. Keduanya kemudian meninggal karena sakitnya.

Terutama dengan pakdheku, ada kenangan tersendiri. Ia sebenarnya mempunyai dua orang anak. Tetapi ketika pertama kali menjalani hemodialisa dan pada beberapa momen penting seperti Lebaran, justru aku yang dimintanya mengantar. Kalau bukan bersamaku, kadang ia tidak mau. :)

Aku pernah mengantar dan menemani mereka menjalani cuci darah di Sardjito dan Moewardi. Jadi ruang hemodialisa, mesin cuci darah dan pasien-pasien yang berbaring berjam-jam bukan pemandangan yang sepenuhnya asing bagiku. Aku pernah berada di dunia itu. Hanya saja dahulu aku berada di sana sebagai orang yang mengantar.

Sekarang giliranku sendiri yang berbaring sebagai pasien. Mungkin karena pengalaman bersama ibu dan pakdhe itulah aku memasuki HD pertama dengan relatif tenang. Aku merasa siap. Ternyata yang kemudian mengejutkanku justru bukan sebelum HD, melainkan apa yang kurasakan selama dan sesudahnya.

Lapar dan Leher yang Sakit

Ketika hemodialisa mulai berjalan, salah satu hal yang paling kurasakan justru sangat sederhana: aku lapar sekali. Selain itu leherku juga sakit. Aku tidak tahu persis penyebabnya. Yang jelas leher terasa tidak nyaman sampai akhirnya aku memilih berbaring tanpa menggunakan bantal selama proses hemodialisa.

Aku menjalani semuanya dengan cukup tenang. Saat itu aku belum memahami istilah QB, QD, UF, dry weight, URR, Kt/V, dialyzer dan berbagai angka yang sekarang sudah begitu akrab dalam kehidupanku. Aku hanya tahu bahwa darahku sedang diproses melalui sebuah mesin karena ginjalku tidak lagi mampu menjalankan pekerjaannya sebagaimana mestinya.

Begitulah aku menjalani hemodialisa pertamaku sampai akhirnya proses itu selesai.

Setelah HD, Barulah Aku Benar-Benar Kewalahan

Kalau sebelum dan selama HD aku relatif tenang, justru setelah selesai kondisiku berubah. Aku mulai merasa mual, kemudian muntah dan muntah lagi. Pusingnya luar biasa sampai aku memilih terus memejamkan mata karena rasanya tidak sanggup membukanya.

Ketika dibawa kembali dari ruang hemodialisa menuju bangsal, mataku masih terus terpejam. Rasa ingin muntah datang berulang-ulang. Awalnya aku masih muntah, tetapi lama-kelamaan sudah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Tubuhku tetap seperti ingin muntah meskipun perut rasanya sudah kosong.

Aku masih terus merasakan mual dan pusing sampai berada di bangsal. Entah berapa lama persisnya kondisi itu berlangsung. Yang kuingat, setelah akhirnya bisa tertidur, tubuhku perlahan menjadi lebih tenang. Ketika kemudian terbangun, barulah aku bisa membuka mata dengan nyaman lagi.

Selesai sudah pengalaman hemodialisa pertamaku.

Dahulu Aku Mengantar, Sekarang Aku yang Menjalani

Kalau sekarang mengingat kembali perjalanan beberapa hari itu, rasanya begitu banyak kejadian berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bermula dari pusing yang tidak tertahankan, masih sempat memikirkan apakah masuk IGD bisa menggunakan BPJS, lalu mengetahui tekanan darah sudah 220/110 dan kesadaranku ternyata sudah tidak sepenuhnya baik.

Kemudian masuk ICCU dengan suara tat tit tat tit berbagai alat, ketakutan melihat pasien-pasien di sekelilingku dalam keadaan tidak sadar, meminta pindah, lalu menemukan sedikit ketenangan dengan melihat bayi-bayi dari balik kaca. Setelah itu istriku harus mencari rumah sakit untuk tempatku menjalani cuci darah, kami berpindah dengan ambulans tengah malam, aku sempat menolak dijemput untuk HD karena belum mempunyai akses, lalu menjalani pemasangan CDL yang beberapa kali gagal sebelum akhirnya berhasil.

Dan anehnya, bagian yang mungkin paling menakutkan bagi sebagian orang justru kuhadapi dengan cukup tenang. Aku sudah pernah melihat semuanya. Aku pernah menemani ibu dan pakdhe menjalani jalan yang sama. Hanya saja ada satu perbedaan besar: dahulu aku berdiri atau duduk di dekat mereka sebagai orang yang mengantar. Hari itu aku yang berbaring, aku yang menjalani hemodialisa, dan istriku yang menemaniku.

Barangkali saat itu aku belum benar-benar memahami bahwa kehidupan setelah hari tersebut akan banyak berubah. Jadwal hidup berubah, cara makan dan minum berubah, cara memahami tubuh sendiri berubah. Angka-angka yang dahulu sama sekali tidak kupedulikan perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Tetapi satu hal tidak berubah: hidup tetap harus dijalani.

Dulu aku pernah mengantar orang-orang yang kusayangi menjalani hemodialisa. Aku tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian aku akan menjalani perjalanan yang sama.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi datang sebagai pengantar. Aku datang sebagai pasien.

Itulah hari ketika babak baru dalam hidupku dimulai.


0 comments:

Post a Comment

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts