Thursday, October 1, 2026

SIBARISTA Marketer Award tidak lahir sebagai acara penghargaan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari proses panjang We Are All Marketers, sebuah program untuk membangun kemampuan pemasaran pariwisata mulai dari menyiapkan produk, membangun SDM, melakukan promosi, menjemput pasar, menghasilkan transaksi, hingga mengukur dan mengapresiasi kinerja para marketer.



Tujuan besarnya sederhana, tetapi tidak mudah: membangun budaya kerja pemasaran agar kita tidak hanya sibuk membuat produk wisata, tetapi juga mampu menjualnya. Pemikiran ini sejalan dengan konsep pemasaran pariwisata yang menempatkan pengembangan produk, pemahaman pasar, promosi, penjualan, dan pengalaman wisatawan sebagai bagian yang saling berhubungan, bukan aktivitas yang berjalan sendiri-sendiri (Kotler, Bowen, Makens & Baloglu, 2017).

Dan pada akhirnya, yang ingin dijual bukan hanya satu produk atau satu desa wisata, tetapi Kota Semarang.

Berawal dari Kegelisahan Melihat Desa Wisata

Gagasan ini berawal dari kegelisahanku melihat perkembangan desa wisata di Kota Semarang. Sudah cukup banyak desa wisata yang mendapatkan legalitas, tetapi di beberapa tempat aktivitas wisatawannya masih sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Aku melihat ada kecenderungan desa wisata terkadang berhenti menjadi sebuah “status”. Legalitas kemudian lebih banyak dimanfaatkan untuk membuka akses terhadap anggaran APBD maupun program CSR, sementara perhatian terhadap hal yang menurutku paling mendasar justru belum cukup kuat: bagaimana mendatangkan wisatawan agar keberadaan desa wisata benar-benar memberikan dampak langsung kepada masyarakat, baik secara ekonomi, sosial budaya, maupun lingkungan.

Kegelisahan itu sebenarnya bersinggungan dengan persoalan yang juga ditemukan dalam pengembangan community-based tourism. Pariwisata berbasis masyarakat memang dapat menjadi strategi pemberdayaan dan pembangunan ekonomi lokal, tetapi keberlanjutannya membutuhkan kapasitas masyarakat, kepemimpinan, jejaring, serta keterlibatan para pemangku kepentingan. Ketergantungan terhadap dukungan eksternal tanpa penguatan kapasitas lokal juga menjadi salah satu tantangannya (Hamzah, 2014; Tolkach & King, 2015).

Aku sering mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang berjualan kacang goreng di toko pinggir jalan, tetapi hanya duduk menunggu pembeli datang. Kalau hanya menunggu, kapan pembelinya datang? Dari situlah muncul gagasan sederhana: bagaimana kalau para pengelola desa wisata ini dibersamai untuk meningkatkan kemampuan menjual? Jangan hanya menunggu wisatawan datang. Produknya harus ditawarkan dan pasarnya harus dijemput.

Namun setelah kutelaah lebih dalam, persoalannya ternyata tidak sesederhana meningkatkan kemampuan pemasaran. Bagaimana mau mengajari orang berjualan kalau paket wisata yang akan dijual saja belum tergarap dengan baik? :) Aku akhirnya menyadari bahwa intervensinya tidak bisa hanya berupa pelatihan marketing. Prosesnya harus dimulai lebih awal: membaca potensi, membangun produk, menyusun paket wisata, menyiapkan pemandu, membangun media promosi, melatih marketer, sampai benar-benar membawa mereka bertemu pasar.

Dari pemikiran itulah kemudian kubuat semacam “paket komplit” pendampingan dan pemasaran yang berkembang menjadi program besar We Are All Marketers.

SIBARISTA dan We Are All Marketers

SIBARISTA merupakan singkatan dari Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata, sebuah komunitas yang aku pimpin sebagai Presiden SIBARISTA, dibantu beberapa pengurus yang kami sebut dengan istilah “menteri”. Program ini mulai dijalankan sejak 2023 dengan anggaran mandiri SIBARISTA.

We Are All Marketers menjadi tujuan besar sekaligus nama program induknya. Di bawahnya terdapat beberapa tahapan dan subprogram, mulai dari pendampingan desa wisata melalui 10 Kandri Baru, Marketing Skill Up, aktivasi MBG, SALEJO, hingga SIBARISTA Marketer Award. Di dalam setiap tahapan masih terdapat kegiatan yang lebih teknis seperti pemetaan, pembuatan produk dan paket wisata, pelatihan pemandu, pelatihan marketer, pengelolaan media digital, simulasi paket wisata, pendampingan, hingga aktivitas penjualan.

Jadi, yang dibangun bukan sekadar rangkaian pelatihan, melainkan sebuah proses dari menyiapkan sesuatu yang layak dijual sampai benar-benar mampu menjualnya.

Langkah 1: 10 Kandri Baru dan Pendampingan Embrio Desa Wisata

Khusus untuk proses pendampingan desa wisata, program tersebut kuberi nama 10 Kandri Baru. Nama Kandri dipilih karena Desa Wisata Kandri pada hakikatnya merupakan desa wisata paling maju di Kota Semarang, baik dilihat dari kinerja jumlah wisatawan, omzet ekonomi, maupun berbagai penghargaan yang telah diraih.

Namun 10 Kandri Baru bukan berarti membuat sepuluh desa menjadi sama persis dengan Kandri. Setiap desa mempunyai karakter, sumber daya, masyarakat, dan potensi yang berbeda. Semangatnya adalah mendorong munculnya desa-desa wisata lain yang mampu berkembang dan menghasilkan kinerja nyata sebagaimana Kandri.

Pendekatan seperti ini penting karena pariwisata berbasis masyarakat pada dasarnya menempatkan komunitas lokal sebagai aktor dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata, bukan sekadar penerima manfaat di akhir proses. Kajian pengembangan community-based tourism juga menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat serta kapasitas lokal dalam menentukan keberlanjutan pengembangan pariwisata (Rahayu, Utami & Fitriana, 2015).

Pendampingan dilakukan sepanjang tahun dan dimulai dari pemetaan potensi atraksi, potensi pengunjung, calon pengelola, serta stakeholder yang dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung desa wisata.

Mencari Orang yang Mau Bergerak

Salah satu bagian penting dalam pemetaan adalah mencari calon pengelola sekaligus marketer lokal. Mereka tidak harus berasal dari Pokdarwis. Marketer desa wisata bisa berasal dari Pokdarwis, Karang Taruna, maupun masyarakat di luar kedua organisasi tersebut. Yang paling penting adalah mempunyai kemauan untuk aktif dalam pengelolaan dan pengembangan desa wisata.

Menurutku, membangun desa wisata tidak cukup hanya melihat struktur organisasi. Kita perlu menemukan orang-orang yang memang mau bergerak. Hal ini juga sejalan dengan kajian community-based tourism yang menunjukkan bahwa kemampuan dan keterlibatan komunitas menjadi faktor penting, sementara lemahnya kapasitas lokal dapat menjadi salah satu hambatan keberlanjutan CBT (Hamzah, 2014).

Setelah potensi dan calon pengelola dipetakan, proses dilanjutkan dengan pembuatan produk dan paket wisata. SDM kemudian disiapkan melalui pelatihan pemandu atraksi desa wisata, marketer desa wisata, serta pengelola MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business. Rangkaian tersebut dilanjutkan dengan simulasi paket wisata untuk menguji kesiapan sebelum produk benar-benar ditawarkan kepada pasar.

Setelah tahap ini selesai, setidaknya ada empat hal yang diharapkan sudah tersedia: paket wisata siap ditawarkan, pemandu siap melayani wisatawan, tim MBG mampu melakukan promosi secara online, dan marketer siap berjualan. Artinya, kita tidak meminta marketer menjual sesuatu yang produknya sendiri belum siap.

Desa Wisata dan Rintisan yang Didampingi

Pendampingan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing mencakup lima lokasi pendampingan. Tahap pertama mencakup Desa Wisata Jatirejo, Desa Wisata Kampung Sawah, Desa Wisata Pudakpayung, Desa Wisata Kampung Melayu, dan Desa Wisata Bangetayu Kulon. Tahap kedua mencakup Desa Wisata Jatirejo, rintisan Desa Wisata Ciblon Kedungwinong, rintisan wisata Curug Gondoriyo, rintisan wisata Tanjung Mas, dan Desa Wisata Krabat Pecinan.

Pada 2025 dan 2026, khusus program 10 Kandri Baru dan SIBARISTA Marketer Award mendapatkan dukungan anggaran pemerintah. Namun cakupan We Are All Marketers tidak berhenti pada lokasi yang mendapatkan pendampingan melalui 10 Kandri Baru. Ketika memasuki Marketing Skill Up, SALEJO hingga SIBARISTA Marketer Award, keterlibatannya diperluas kepada seluruh desa wisata dan sebagian besar Pokdarwis di Kota Semarang.

Langkah 2: Marketing Skill Up dan Mindset “We Are All Marketers”

Setelah produk dan SDM mulai siap, marketer desa wisata yang telah mendapatkan pelatihan di masing-masing venue dipertemukan kembali dalam Marketing Skill Up. Di sinilah kemampuan mereka ditingkatkan sekaligus mulai dibangun mindset We Are All Marketers. Marketer dibekali kemampuan menentukan target pasar, melakukan presentasi, bernegosiasi hingga melakukan closing.

Namun ada satu pemahaman yang menurutku lebih penting: marketer desa wisata tidak seharusnya hanya mampu menjual desanya sendiri. Mereka perlu memahami produk desa wisata lain dan pentingnya kolaborasi antardesa wisata maupun antarusaha pariwisata. Pemikiran mengenai pemasaran destinasi juga menempatkan destination partnership, hubungan dengan stakeholder, koordinasi, serta promosi destinasi sebagai bagian penting dalam pengelolaan dan pemasaran sebuah destinasi (Morrison, 2019).

Kebutuhan pasar tidak selalu bisa dijawab oleh satu desa wisata. Ketika marketer mengetahui berbagai produk dan paket wisata yang tersedia di Kota Semarang, “senjata” mereka menjadi jauh lebih lengkap. Kalau produk desanya tidak sesuai dengan kebutuhan calon wisatawan, bukan berarti calon konsumen tersebut harus dilepas. Bisa jadi kebutuhannya justru dapat dipenuhi oleh desa wisata lain.

Inilah salah satu makna We Are All Marketers: tidak berhenti menjual produk sendiri, tetapi bersama-sama belajar menjual Kota Semarang.

Langkah 3: Aktivasi MBG dan SALEJO

Setelah produk siap dan kemampuan marketer ditingkatkan, tahap berikutnya adalah membawa mereka benar-benar bertemu pasar melalui SALEJO atau Sales Activation Journey. SALEJO merupakan pendampingan pemasaran desa wisata melalui kegiatan direct selling dengan cara mendatangi calon customer atau wisatawan langsung ke target pasar.

Kegiatan ini dijalankan secara rutin dengan pola satu klaster setiap minggu. Dalam pelaksanaannya, SALEJO difasilitasi satu pendamping dan satu kendaraan operasional, termasuk subsidi bahan bakar. Dalam sekali perjalanan dapat bergabung sekitar 4–6 marketer dari satu hingga tiga desa wisata.

Di sinilah teori Marketing Skill Up diuji di lapangan. Marketer belajar mendatangi calon pasar, membaca kebutuhan, mempresentasikan produk, menawarkan paket, bernegosiasi, membangun relasi, melakukan follow-up hingga mengejar closing. Tujuannya adalah mempercepat munculnya dampak ekonomi bagi desa wisata yang produknya sudah siap.

SALEJO Menjemput Pasar, MBG Menebar Jaring

Ketika marketer bergerak melalui SALEJO, tim MBG—Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business—tetap melakukan promosi secara online. Keduanya berjalan bersamaan: SALEJO menjemput pasar secara langsung, sementara MBG menebar jaring pasar secara digital.

Pilihan untuk mengaktifkan kanal digital bukan sekadar pelengkap. Penelitian Zheng Xiang dan Ulrike Gretzel (2010) menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dalam pencarian informasi perjalanan secara online dan memiliki implikasi langsung terhadap strategi pemasaran pariwisata. Karena itu, keberadaan produk wisata di ruang digital menurutku harus berjalan beriringan dengan aktivitas penjualan langsung (Xiang & Gretzel, 2010).

Dengan pola tersebut, pemasaran tidak hanya bergantung pada orang yang berhasil ditemui melalui SALEJO. Jangkauan diperluas melalui media sosial, mesin pencari, konten blog, dan Google Profil Business. Harapannya bukan hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi secara bertahap juga membangun brand produk desa wisata.

Ketika SALEJO Mulai Menghasilkan Dampak

Salah satu contoh menarik datang dari Desa Wisata Jatirejo. Setelah mengikuti Marketing Skill Up, awalnya mereka masih terlihat ogah-ogahan untuk benar-benar turun berjualan melalui SALEJO. Akhirnya ya... sedikit “dipaksa-paksa” untuk berangkat. :)

Mereka kemudian melakukan SALEJO ke Kota Demak dan mendatangi beberapa target pasar. Hasilnya memang tidak langsung terlihat pada hari itu. Namun sekitar tiga bulan kemudian, satu per satu pasar dari wilayah Demak Selatan, terutama sekolah-sekolah, mulai berkunjung ke Desa Wisata Jatirejo.

Bagiku, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemasaran tidak selalu menghasilkan transaksi saat itu juga. Ada proses mengenalkan produk, membangun komunikasi, melakukan follow-up, hingga akhirnya pasar mulai bergerak.

Berangkat Menjual Bersama, Pulang Membawa Transaksi Besar

Cerita lain datang dari Desa Wisata Kandri. Semangat SALEJO adalah berangkat bersama dan saling membantu menjual produk. Kandri saat itu ikut mendampingi desa wisata lain masuk ke pasar universitas. Eh, dari proses tersebut justru muncul peluang besar bagi Kandri sendiri.

Pertemuan yang awalnya merupakan bagian dari aktivitas pemasaran bersama berkembang menjadi kesepakatan kegiatan forum nasional sebuah yayasan dari salah satu universitas terkenal di Indonesia. Nilai transaksinya lebih dari Rp60 juta, dengan kegiatan berlangsung enam hari lima malam dan diikuti peserta dari berbagai provinsi.

Pengalaman ini semakin meyakinkanku bahwa kolaborasi tidak selalu berarti membagi pasar hingga menjadi semakin kecil. Dalam pemasaran destinasi, kolaborasi dan kemitraan antarpelaku justru menjadi bagian penting karena sebuah destinasi tersusun dari banyak produk, layanan, organisasi, dan stakeholder yang saling terkait (Morrison, 2019).

Ketika pintu pasar dibuka bersama-sama, peluang yang muncul justru bisa jauh lebih besar daripada yang sebelumnya kita bayangkan.

Dari Potensi Menuju Wisatawan dan Transaksi

Setelah melewati tiga tahapan tersebut, desa wisata diharapkan tidak lagi berhenti pada kalimat “kami punya potensi.” Potensi harus berubah menjadi produk, produk dikemas menjadi paket, paket mempunyai pemandu yang siap, produk dikenal melalui MBG, marketer mampu menjualnya, dan pasar dijemput melalui SALEJO. Pada akhirnya, seluruh proses tersebut harus menghasilkan wisatawan, transaksi, dan manfaat bagi masyarakat.

Orientasi terhadap manfaat masyarakat ini merupakan salah satu gagasan mendasar dalam community-based tourism. Penelitian tentang CBT menunjukkan potensinya sebagai strategi pembangunan lokal, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa manfaat tersebut membutuhkan jaringan, kapasitas komunitas, kepemimpinan, dan hubungan stakeholder yang berfungsi dengan baik (Tolkach & King, 2015).

Manfaat serta indikator keberhasilan program secara lebih detail kutuangkan tersendiri dalam inovasi ADOL PAKETAN SIBARISTA—Ayo Dodolan Paket Wisata Semarang melalui Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata.

Langkah 4: SIBARISTA Marketer Award

Setelah seluruh proses tersebut berjalan, para marketer perlu dipertemukan kembali. Di sinilah SIBARISTA Marketer Award ditempatkan sebagai tahap keempat We Are All Marketers.

SIBARISTA Marketer Award pertama kali diselenggarakan pada 2023 menggunakan anggaran mandiri SIBARISTA. Pada 2024, kegiatan ini sempat tidak diselenggarakan karena keterbatasan pendanaan. Mulai 2025, penyelenggaraannya mendapatkan dukungan anggaran pemerintah.

Namun bagiku, award bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara. SIBARISTA Marketer Award menjadi ruang bagi marketer untuk gathering, bertukar ilmu dan pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus memvalidasi kinerja pemasaran selama satu tahun berjalan. Yang ingin dilihat bukan hanya siapa yang pandai berbicara atau terlihat aktif melakukan promosi, tetapi siapa yang benar-benar menunjukkan kinerja: aktif mencari pasar, melakukan follow-up, membangun jaringan, berkolaborasi, serta menghasilkan wisatawan dan transaksi.

Dua Kategori, Dua Tingkat Tantangan

SIBARISTA Marketer Award dibagi menjadi dua kelompok penilaian: Kategori Desa Wisata dan Kategori Umum. Pemisahan diperlukan karena kondisi marketer desa wisata tidak bisa langsung disamakan dengan marketer usaha pariwisata yang sistem pemasaran dan penjualannya sudah jauh lebih tertata.

Hotel dan usaha pariwisata yang telah mapan umumnya sudah mempunyai struktur organisasi, target penjualan, sistem pemasaran, bahkan anggaran khusus untuk marketing dan sales. Sementara desa wisata pada dasarnya merupakan gerakan masyarakat. Struktur pemasarannya belum tentu terbentuk dengan baik, apalagi mempunyai anggaran khusus untuk berjualan. Karena itu, keduanya tidak adil jika langsung dinilai menggunakan ukuran yang sama.

Kategori Desa Wisata: Membangun Budaya Menjual

Untuk marketer desa wisata, indikator penilaian masih difokuskan pada kinerja pemasaran bagi desa wisatanya sendiri. Namanya juga masih belajar. Yang ingin dibangun terlebih dahulu adalah keberanian dan kebiasaan menjual: mencari calon pasar, menawarkan produk, melakukan follow-up, membangun jaringan hingga mampu menghasilkan kunjungan dan transaksi.

Namun ada satu prinsip penting. Marketer desa wisata yang sudah pernah menjadi pemenang tidak boleh kembali mengikuti Kategori Desa Wisata pada penyelenggaraan berikutnya. Pemenang tahun 2023 maupun 2025 harus naik kelas ke Kategori Umum.

Kemenangan sebelumnya menjadi pengakuan bahwa marketer tersebut sudah mencapai tingkat kemampuan tertentu sehingga waktunya menghadapi tantangan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, ruang Kategori Desa Wisata dibuka bagi marketer lainnya agar semakin banyak orang mendapatkan kesempatan untuk maju. Award tidak dibuat agar orang yang sama terus-menerus menjadi juara. Yang ingin dibangun adalah regenerasi marketer.

Kategori Umum: dari Menjual Usaha Menuju Menjual Kota

Untuk marketer usaha pariwisata lainnya, standar penilaiannya lebih berat. Kinerja terhadap usaha masing-masing tetap diperhitungkan, tetapi secara perlahan ukurannya dinaikkan. Pertanyaannya tidak lagi hanya “Apa yang sudah kamu hasilkan untuk usahamu?”, tetapi berkembang menjadi “Apa dampak aktivitas pemasaranmu terhadap pariwisata Kota Semarang?”

Apakah mempunyai paket kolaborasi dengan usaha pariwisata lainnya? Berapa nilai ekonomi yang dihasilkan? Jika membuat program promosi, seberapa luas jangkauannya dan apa dampaknya terhadap wisatawan yang datang ke Kota Semarang? Ataukah berbagai program marketing yang dibuat sebenarnya hanya berputar sebagai kegiatan internal dan jarang diketahui pasar di luar sana?

Cara pandang tersebut sejalan dengan pengelolaan pemasaran destinasi yang tidak hanya berbicara tentang promosi individual, tetapi juga menyangkut kemitraan destinasi, hubungan stakeholder, koordinasi, kepemimpinan, komunikasi, promosi, hingga evaluasi kinerja destinasi (Morrison, 2019). Di sinilah standar marketer perlahan dinaikkan: dari menjual produk sendiri, membangun kolaborasi, menjual lintas produk, hingga memberikan kontribusi terhadap pemasaran Kota Semarang sebagai destinasi.

Pemenang Harus Naik Kelas

Bagiku, salah satu semangat penting SIBARISTA Marketer Award adalah pemenang tidak boleh berhenti pada kemenangan. Ia harus naik kelas. Mereka yang awalnya belajar menjual produk desa wisata sendiri harus mulai mengenal produk lain. Setelah mampu menghasilkan transaksi, mereka perlu belajar berkolaborasi. Setelah mampu berkolaborasi, ukuran keberhasilannya diperluas lagi pada dampaknya terhadap pariwisata Kota Semarang.

Maka jenjang yang ingin dibangun adalah:

Belajar menjual produk sendiri → menghasilkan wisatawan dan transaksi → menjual lintas produk → membangun kolaborasi → memberi dampak terhadap pemasaran Kota Semarang.

Sementara tempat yang ditinggalkannya di Kategori Desa Wisata diberikan kepada marketer lain untuk tumbuh. Dengan demikian, SIBARISTA Marketer Award bukan sekadar menghasilkan juara. Ia harus menghasilkan lebih banyak marketer.

Satu Proses Besar: We Are All Marketers

Jika seluruh rangkaian tersebut disederhanakan, alurnya menjadi:

Pemetaan Potensi → Produk dan Paket Wisata → Pemandu & MBG → Marketing Skill Up → SALEJO → Wisatawan & Transaksi → Evaluasi Kinerja → SIBARISTA Marketer Award.

Ada 10 Kandri Baru untuk memperkuat kesiapan desa wisata, Marketing Skill Up untuk meningkatkan kemampuan dan mindset marketer, MBG untuk menebar jaring pemasaran melalui Media Sosial, Blog, dan Google Profil Business, SALEJO untuk membawa marketer menjemput pasar secara langsung, serta SIBARISTA Marketer Award sebagai ruang evaluasi, apresiasi, regenerasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan jejaring marketer.

Semuanya berada dalam satu rumah besar: We Are All Marketers.

Tujuan Besarnya: Menjual Kota Semarang

Pada awalnya aku hanya berpikir bagaimana membantu pengelola desa wisata agar lebih berani berjualan. Ternyata persoalannya jauh lebih panjang. Produknya harus disiapkan, paketnya harus dibuat, orangnya harus dicari, pemandunya harus dilatih, media promosinya harus dibangun, marketernya harus belajar, pasarnya harus didatangi, transaksinya harus dikejar, dan hasilnya harus dievaluasi.

Mereka yang menunjukkan kinerja kemudian perlu mendapatkan apresiasi sekaligus tantangan untuk naik ke tingkat berikutnya. Karena itu, SIBARISTA Marketer Award bukan tujuan akhir We Are All Marketers. Penghargaan adalah salah satu cara untuk menjaga semangat, mengukur proses, melakukan regenerasi, dan mengapresiasi mereka yang mampu mengubah budaya menjual menjadi kinerja nyata.

Semua dimulai dari membiasakan marketer lokal berani menjual produk desa wisatanya sendiri, kemudian belajar menjual produk desa wisata lain, lalu membangun kolaborasi dengan berbagai usaha pariwisata. Sampai akhirnya tumbuh sebuah budaya bahwa siapa pun yang berada dalam ekosistem pariwisata mempunyai peran untuk mengenalkan, menawarkan, merekomendasikan, membuka pasar, dan mendatangkan wisatawan.

Karena tujuan terbesar We Are All Marketers bukan sekadar menjual satu paket, satu usaha, atau satu desa wisata.

Kita sedang belajar bersama untuk menjual Kota Semarang.

Dan tentu perjalanan ini belum selesai. Masih banyak produk yang perlu diperkuat, pasar yang perlu dibuka, serta kolaborasi yang bisa dibangun. Semakin banyak orang yang ikut bergerak, semakin besar pula peluang pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kalau kamu pengelola desa wisata, Pokdarwis, marketer, pelaku usaha pariwisata, atau siapa pun yang punya semangat yang sama, jangan hanya menunggu wisatawan datang. Mari bergerak, berkolaborasi, dan membuka pasar bersama.

Karena pariwisata Kota Semarang bukan hanya tugas satu-dua orang untuk menjualnya. We Are All Marketers.

Referensi

Hamzah, A. (2014). “Critical Success Factors for Creating Community-Based Tourism.” Dalam The Wiley Blackwell Companion to Tourism. Wiley Blackwell.

Kotler, P., Bowen, J. T., Makens, J. C., & Baloglu, S. (2017). Marketing for Hospitality and Tourism, 7th Edition. Pearson.

Morrison, A. M. (2019). Marketing and Managing Tourism Destinations, 2nd Edition. Routledge.

Rahayu, S., Utami, D., & Fitriana, K. N. (2015). Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Tolkach, D., & King, B. E. M. (2015). “Strengthening Community-Based Tourism in a New Resource-Based Island Nation: Why and How?” Tourism Management, 48, 386–398.

Xiang, Z., & Gretzel, U. (2010). “Role of Social Media in Online Travel Information Search.” Tourism Management, 31(2), 179–188.


0 comments:

Post a Comment

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts