Thursday, October 1, 2026


Memasuki 2027, pariwisata Indonesia berada di persimpangan yang menarik. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi mulai membentuk ulang cara orang bepergian. Di sisi lain, pasar domestik maupun mancanegara menunjukkan perubahan dengan arah yang semakin jelas.

Beberapa temuan dalam proyeksi pariwisata Indonesia 2027 menurutku penting diperhatikan siapa pun yang bergerak di sektor pariwisata, terutama pengelola desa wisata, wisata alam, event, maupun usaha kuliner lokal.

Sebab yang berubah bukan hanya ke mana orang ingin pergi, tetapi juga bagaimana mereka menemukan destinasi, pengalaman apa yang mereka cari, dan apa yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk datang.

Megatren Global yang Membentuk Pariwisata 2027

Hasil horizon scanning terhadap delapan laporan pariwisata dunia—OECD, UN Tourism, WEF, ASEAN, Booking.com, Amadeus, American Express Travel, dan HBX Group—menunjukkan sejumlah sinyal yang diproyeksikan membentuk lanskap pariwisata dunia menuju 2027.

Yang paling dominan adalah integrasi AI dan personalisasi perjalanan dengan frekuensi kemunculan 21% dalam dokumen yang dianalisis, diikuti adaptasi terhadap perubahan iklim (20%) dan pencarian pengalaman autentik berbasis komunitas lokal (18%). Angka tersebut bukan persentase wisatawan maupun proyeksi pertumbuhan, melainkan menunjukkan seberapa sering tren tersebut muncul dalam sumber yang dianalisis.

(Bab 3.1, hlm. 74–75)

Tren berikutnya adalah perjalanan regional yang semakin mempertimbangkan value for money dan kemudahan akses (15%), experience economy yang didorong event, olahraga, film, musik, fandom hingga momen personal (12%), serta wellness dan perjalanan transformasional (8%).

(Bab 3.1, hlm. 76–77)

OECD juga menempatkan ketidakstabilan geopolitik sebagai risiko utama pariwisata 2026 dengan angka 80%, bahkan berada di atas tekanan terhadap harga sebesar 75%.

(Bab 3.1, hlm. 70)

Artinya, tren pariwisata 2027 tidak muncul begitu saja. Teknologi, iklim, kondisi ekonomi, dan geopolitik ikut menentukan kapan orang bepergian, ke mana mereka pergi, dan pengalaman seperti apa yang akhirnya mereka pilih.

Lima Tren Pariwisata Indonesia 2027: Mana yang Diminati Siapa?

Ketika masuk ke Indonesia, experts survey memproyeksikan lima tren besar, yaitu Event Tourism, Social Media Effect, Eco-friendly Tourism, Culinary and Gastronomy Tourism, serta Nature and Adventure-based Tourism.

Menariknya, wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara menunjukkan urutan prioritas yang berbeda.

Tren Wisatawan Mancanegara

Untuk wisatawan mancanegara, lima tren teratas menuju 2027 adalah eco-friendly tourism, event tourism, nature and adventure-based tourism, culinary tourism, dan social media effect.

Tren Wisatawan Nusantara

Sementara bagi wisatawan nusantara, urutannya adalah destinasi yang sedang trending atau viral, event tourism, culinary tourism, social media and creator economy tourism, serta short-haul travel atau perjalanan jarak dekat.

(Bab 3.1, hlm. 80)

Perbedaan ini penting. Wisatawan domestik terlihat semakin dipengaruhi eksposur digital sekaligus pertimbangan biaya, jarak, dan waktu tempuh. Artinya, destinasi yang dekat sebenarnya mempunyai peluang besar selama menawarkan pengalaman menarik dan mampu ditemukan calon wisatawan.

Di antara berbagai tren tersebut, Event Tourism diproyeksikan menjadi tren berwisata terkuat di Indonesia pada 2027, dengan nilai agregat 71,81%.

(Bab 3.1, hlm. 81)

Media Sosial Bukan Lagi Sekadar Tempat Promosi

Ada satu perubahan yang menurutku sangat penting bagi pelaku wisata: media sosial mulai berubah fungsi dari sekadar media promosi menjadi tempat orang mencari destinasi.

Buku ini menyebut 55% wisatawan Indonesia menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi dan inspirasi perjalanan. Di kalangan Gen Z, Instagram, YouTube, dan TikTok digunakan untuk menemukan inspirasi sekaligus mencari tempat menginap, makanan, aktivitas, hidden gems, hingga rekomendasi perjalanan.

(Bab 3.1, hlm. 83–84)

Dari Social Graph Menuju Interest Graph

Perubahannya bahkan bergerak lebih jauh. Media sosial mulai bergeser dari pola social graph menuju interest graph. Konten semakin direkomendasikan berdasarkan minat pengguna, bukan hanya berdasarkan siapa yang mereka ikuti.

Seseorang yang menyukai hiking, misalnya, bisa dipertemukan algoritma dengan jalur trekking di sebuah desa yang sebelumnya bahkan tidak pernah didengarnya. Hal yang sama berlaku untuk orang yang tertarik pada wellness, diving, event, atau local food.

(Bab 3.1, hlm. 85)

Bagi destinasi kecil, perubahan ini membuka peluang besar. Destinasi tidak harus terkenal terlebih dahulu untuk bisa ditemukan. Yang semakin penting adalah mempunyai pengalaman yang spesifik dan mampu mengemasnya menjadi konten yang relevan dengan minat calon wisatawan.

Pasar Wisatawan Juga Sedang Bergeser

Pada semester I-2026 tercatat 7,45 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 630,41 juta perjalanan wisatawan nusantara. Asia Timur tetap menjadi salah satu pasar potensial utama dengan pertumbuhan 12,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, disusul Asia Tenggara 8,22% serta Australia dan Oseania 6,60%.

(Bab 3.2, hlm. 94)

Backpacker Semakin Menjanjikan

Perubahan yang lebih menarik terlihat pada karakter wisatawannya. Di kalangan wisatawan mancanegara, backpackers meningkat dari 15,79% pada survei 2026 menjadi 38,93% dalam proyeksi 2027, dan menempati posisi kedua setelah Millennials and Gen Z.

(Bab 3.2, hlm. 97–98)

Ini memberi sinyal menguatnya perjalanan yang lebih mandiri, fleksibel, mempertimbangkan biaya, tetapi tetap mencari pengalaman lokal.

Wisata Alam: dari Melihat Menjadi Mengalami

Prospek produk wisata 2027 menunjukkan kecenderungan yang tak kalah menarik. Untuk wisata berbasis alam, hiking/trekking berada di posisi tertinggi dengan 54,36%, disusul glamping 49,66%, island hopping 27,52%, forest bathing 20,81%, serta camping 19,46%.

(Bab 3.3, hlm. 101)

Tetapi yang menurutku menarik bukan sekadar angkanya. Buku ini menunjukkan bahwa wisata berbasis alam semakin menekankan bagaimana wisatawan berinteraksi langsung dengan alam.

Gunung tidak hanya dilihat, tetapi ditrekking. Hutan tidak sekadar menjadi latar foto, tetapi bisa menjadi ruang forest bathing. Sungai, air terjun maupun kawasan pertanian dapat dikembangkan menjadi pengalaman.

Sederhananya, wisata alam bergerak dari “apa yang bisa dilihat” menuju “apa yang bisa dilakukan dan dirasakan.”

Wisata Budaya Juga Bergerak ke Pengalaman

Hal serupa terlihat pada produk budaya. Heritage tourism berada di posisi teratas sebesar 57,05%, disusul wellness tourism 46,98%, gastronomy tourism dan traditional & cultural performance masing-masing 42,95%, serta live with locals experience 32,89%.

(Bab 3.3, hlm. 102)

Budaya dengan demikian tidak harus berhenti sebagai tontonan. Wisatawan dapat diajak mencicipi, membuat, belajar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.

Desa Wisata: Produk dengan Prospek Tertinggi

Bagian yang menurutku paling menarik bagi pelaku desa wisata muncul dalam kategori man-made/built-based tourism.

Dalam kategori ini, desa wisata menempati posisi tertinggi dengan nilai 45,64%, mengungguli sport tourism 42,28%, MICE 36,91%, wisata kreatif 36,24%, dan konser musik 26,85%.

(Bab 3.3, hlm. 103)

Peluang Menggabungkan Banyak Pengalaman

Jika dikaitkan dengan tren sebelumnya, posisi desa wisata menjadi semakin menarik.

Bayangkan satu paket perjalanan yang menggabungkan trekking ringan menyusuri desa, aktivitas bersama warga, menikmati makanan lokal, belajar membuat kerajinan, melihat pertunjukan budaya, kemudian mengikuti event yang memang tumbuh dari kehidupan masyarakat.

Dalam satu perjalanan sudah bertemu nature and adventure, gastronomy, cultural experience, event, sustainability, dan pengalaman autentik bersama masyarakat lokal.

Buku ini bahkan menegaskan bahwa semakin beragam aktivitas perjalanan yang dikembangkan menjadi pengalaman bernilai, semakin panjang pula perputaran ekonomi yang tercipta di destinasi. Desa wisata juga dinilai mampu memperluas manfaat pariwisata kepada masyarakat setempat.

(Bab 2, hlm. 60)

Membaca Arah Pariwisata Indonesia 2027

Buku ini kemudian memetakan empat kemungkinan skenario pariwisata Indonesia berdasarkan kondisi eksternal global dan kemampuan Indonesia menangkap peluang: akseleratif, adaptif, terjaga, dan rentan.

(Bab 4, hlm. 110–111)

Sekitar 61% ahli menyatakan kinerja pariwisata Indonesia perlu hingga sangat perlu ditingkatkan. Sementara sekitar 32% memandang kinerja pariwisata akan lebih baik atau jauh lebih baik dibandingkan 2026.

(Bab 4, hlm. 108)

Apa Artinya bagi Pelaku Wisata?

Bagi pelaku wisata, khususnya desa wisata, pesan dari berbagai data tersebut cukup jelas. Produk yang selama ini banyak dirintis sebenarnya berada di titik temu berbagai tren 2027: keberlanjutan, pengalaman autentik, aktivitas alam, kuliner, event, keterlibatan masyarakat, serta pemasaran digital.

Tantangannya bukan lagi sekadar apakah arah pengembangannya sudah benar, tetapi seberapa siap produk, pengelola, SDM, aksesibilitas, dan pemasaran digitalnya untuk menangkap perubahan pasar tersebut.

Memasuki 2027, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa dilihat wisatawan di tempat kita?”

Tetapi mulai bertanya:

“Pengalaman apa yang bisa mereka lakukan, rasakan, ceritakan, lalu membuat mereka ingin kembali?”

Karena bisa jadi, itulah yang sebenarnya sedang dicari wisatawan 2027.

Sumber Utama

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Indonesia Tourism Outlook 2026/2027. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, 2026.

Mau membaca buku lengkapnya bisa download disini Indonesia Tourism Outlook


0 comments:

Post a Comment

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts