Showing posts with label cerita isnpiratif. Show all posts
Showing posts with label cerita isnpiratif. Show all posts

Monday, August 10, 2026

Punya uang, tapi tak mau bayar utang. Aku pernah menghadapinya saat bekerja di bank. Semua cara negosiasi mentok, sampai aku mengeluarkan jurus terakhir: harga diri. Tapi satu kalimat darinya langsung membuat jurusku ambyar.



Sekitar tahun 2008–2010, selepas kuliah, aku sempat bekerja di salah satu bank sebagai Customer Service yang banyak menangani Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Saat itu pemerintah sedang gencar mendorong usaha mikro melalui KUR. Salah satu produk yang kutangani adalah KUR Mikro dengan plafon maksimal Rp5 juta, tanpa agunan, dengan bunga sekitar 1,3 persen. Lebih rendah dibanding kredit biasa yang saat itu berada di kisaran 1,5–2 persen dan masih membutuhkan agunan.

Rp5 juta mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Tapi selama menangani KUR, aku melihat sendiri bahwa bagi sebagian masyarakat desa, angka itu sangat berarti.

Ada yang mengajukan kredit hanya Rp500 ribu. Pinjaman Rp1–3 juta juga cukup banyak. Kalau menggunakan kredit biasa, pinjaman sekecil itu pun tetap membutuhkan jaminan, mulai dari dokumen kendaraan hingga sertifikat hak milik.

Ketika BI Checking Menjadi Penentu

Salah satu syarat KUR Mikro pada masa itu adalah calon nasabah belum pernah mempunyai pinjaman di bank. Riwayat tersebut diperiksa melalui BI Checking.

Dari data identitas nasabah, kami bisa mengetahui riwayat kredit seseorang: pernah meminjam atau tidak, nilai pinjaman, jangka waktu, besarnya angsuran, sampai kelancaran pembayarannya.

Di sinilah banyak cerita bermula.

Tidak sedikit calon nasabah yang yakin belum pernah berutang ke bank.

“Tenan, Mas. Aku durung tau utang bank.”

Begitu BI Checking keluar, ternyata ada catatannya.

Setelah ditelusuri, kadang mereka baru ingat pernah mengambil barang secara kredit melalui lembaga pembiayaan. Bagi mereka itu berbeda dengan meminjam uang di bank, tetapi riwayat pembiayaannya tetap bisa muncul dalam pemeriksaan kredit.

Dari situ aku mulai memahami bahwa bekerja di bank tidak hanya berurusan dengan uang dan angka.

Lebih sering justru berurusan dengan manusia.

Belajar Sambil Bank Berubah

Masa-masa itu cukup sibuk. Pengajuan dan realisasi KUR banyak, administrasi ikut menumpuk. Ada saatnya kami harus lembur sampai tengah malam hanya untuk menyelesaikan berkas.

Pada periode itu pula aku mengalami transformasi sistem bank dari proses yang masih banyak manual dan offline menuju sistem online.

Seru sekaligus bikin mumet.

Ada pembekalan, tetapi ketika sistem benar-benar digunakan, kami tetap harus belajar sambil bekerja. Catatan ditaruh di samping komputer. Lupa langkah berikutnya, tanya teman. Yang sudah paham mengajari yang belum paham.

Sementara nasabah tetap datang.

Pelayanan tidak mungkin berhenti hanya karena kami sedang belajar.

Mungkin karena dianggap cukup cepat belajar dan cukup bisa berkomunikasi dengan nasabah, lama-kelamaan aku mulai mendapat kepercayaan lebih dari kepala kantor.

Sampai suatu pagi aku dipanggil ke ruangannya.

Tugas yang Tidak Biasa

Pak Kepala menjelaskan bahwa besok kami akan mengunjungi beberapa nasabah besar yang kreditnya bermasalah.

Bukan sekadar terlambat satu-dua kali. Ada yang sudah berkali-kali tidak membayar angsuran. Bahkan ada yang kelihatannya sudah tidak mempunyai niat untuk membayar lagi.

Lalu beliau menyampaikan rencananya.

Besok Pak Kepala ikut.

Tapi aku yang bicara.

Beliau hanya mendampingi.

Alasannya sederhana: siapa tahu kalau orang baru yang datang menagih, respons nasabah akan berbeda.

Dalam hati aku sempat berpikir,

Wah, iki tenan aku sing dikon maju?

Aku pun dibekali data nasabah yang akan kami datangi: riwayat kredit, jumlah tunggakan, berapa kali tidak mengangsur, dan berbagai informasi lain yang perlu kupahami.

Salah satu nasabah sudah sekian kali berturut-turut sama sekali tidak membayar angsuran. Riwayat kreditnya sudah mendekati tahap yang sangat serius.

Keesokan harinya aku berangkat bersama Pak Kepala.

Berhadapan dengan Nasabah Kredit Macet

Sesampainya di rumah salah satu nasabah, sebelum masuk aku sempat memperhatikan keadaan sekeliling.

Pekarangannya cukup luas.

Ada beberapa ekor sapi.

Pemilik rumahnya seorang perempuan. Ketika bertemu dengannya, ada satu hal lain yang sulit tidak terlihat: gelang dan kalung yang dipakainya cukup besar dan berkilauan.

Tentu aku tidak bisa serta-merta menyimpulkan kemampuan finansial seseorang hanya dari luas pekarangan, jumlah sapi, atau perhiasan yang dipakainya.

Tetapi sebagai orang yang hari itu datang untuk menagih tunggakan kredit, pemandangan tersebut mau tidak mau membuatku berpikir:

Sepertinya persoalannya bukan sekadar tidak punya uang.

Sesuai rencana, Pak Kepala membuka percakapan. Beliau menyapa, berbasa-basi sebentar, lalu mengenalkanku.

Setelah itu...

giliranku.

Aku mulai dengan cara yang paling normal dan sopan. Kujelaskan posisi kreditnya, tunggakan yang sudah berjalan cukup lama, serta kewajiban yang seharusnya diselesaikan.

Tidak mempan.

Aku mencoba pendekatan lain.

Tetap tidak mempan.

Nasabah itu kukuh pada pendiriannya.

Kurang lebih jawabannya sederhana: kalau memang bank mau melelang agunannya, ya silakan.

Aku mulai memutar otak.

Beberapa pendekatan yang sebelumnya kupikir bisa membuka ruang negosiasi ternyata mental satu per satu.

Yang membuatnya semakin sulit, beliau tidak marah.

Tidak panik.

Tidak pula terlihat takut.

Santai saja.

Justru aku yang mulai kehabisan amunisi.

Sampai akhirnya aku mengeluarkan jurus terakhir.

Jurus Harga Diri

Aku tahu beliau termasuk orang yang dikenal dan cukup terpandang di desanya. Kondisi ekonominya pun diakui cukup baik oleh masyarakat sekitar.

Maka aku mencoba masuk dari sisi itu.

Aku sampaikan kurang lebih bahwa beliau dikenal sebagai orang yang berada dan terpandang. Sayang sekali kalau karena persoalan kredit kemudian mempunyai catatan buruk sampai masuk daftar hitam.

Bagaimanapun, pikirku waktu itu, nama baik dan harga diri seseorang di tengah masyarakat tentu ingin dijaga.

Dalam kepalaku:

Nah, iki mesthine kena.

Setidaknya beliau akan diam sebentar.

Berpikir.

Mungkin mulai membuka ruang negosiasi.

Ternyata aku salah.

Beliau melihatku dengan santai, lalu menjawab,

“Halah Mas, wong ndeso koyo aku wis ra mikir harga diri-harga dirian.”

Aku diam.

Pak Kepala juga diam.

Jurus pamungkasku...

ambyar.

Aku sudah membawa data kredit. Sudah mencoba bicara baik-baik. Sudah mencoba berbagai pendekatan. Sampai akhirnya membawa-bawa nama baik dan harga diri.

Ternyata orang di depanku malah sudah menyatakan tidak memikirkan harga diri-harga dirian.

Lha terus aku arep ngomong opo maneh?

Akhirnya kami menyerah untuk hari itu dan memutuskan pamit.

Kupikir ceritanya selesai.

Ternyata belum.

Pulang Membawa Undangan

Saat kami hendak meninggalkan rumah, ibu itu memanggil.

Ada sesuatu yang hendak dititipkan.

Aku menerimanya.

Undangan.

Anaknya mau menikah.

Dan dengan santainya beliau meminta undangan pernikahan itu disampaikan kepada seluruh staf di kantor bank.

Aku melihat undangan di tanganku.

Beberapa menit sebelumnya aku datang membawa data tunggakan kredit dan mencoba meyakinkan beliau agar mau membayar utangnya.

Sekarang aku malah berdiri di halaman rumahnya membawa undangan manten.

Aku menoleh ke Pak Kepala.

Pak Kepala melihatku.

Senyum.

Lalu garuk-garuk kepala.

Aku pun ikut tersenyum.

Yang Tertinggal dari Pengalaman Itu

Bertahun-tahun kemudian, aku justru paling mengingat kejadian itu. Bekerja di bank mengajariku banyak hal tentang kredit, data, komunikasi, dan negosiasi.

Tapi ada satu pelajaran yang tak pernah kutemukan dalam buku panduan: ketika berhadapan dengan manusia, sebaik apa pun persiapan kita, selalu ada respons yang tak pernah kita perhitungkan.

Hari itu aku berangkat untuk menagih utang.

Jurus harga diriku ambyar.

Dan aku pulang...

membawa undangan manten.


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata