Kesibukan pekerjaan sering membuat olahraga menjadi urusan nomor sekian. Pagi berangkat kerja, seharian menghadapi pekerjaan dan berbagai persoalan, sore pulang dalam kondisi lelah. Sampai rumah, pilihan yang paling menggoda biasanya cuma satu: istirahat.
Saya juga pernah merasakan pola seperti itu. Padahal semakin jarang bergerak, tubuh justru terasa semakin tidak bugar dan pikiran lebih mudah jenuh. Akhirnya saya menyadari bahwa untuk tetap aktif di tengah kesibukan kerja, kita tidak harus mempunyai banyak waktu. Yang dibutuhkan justru kebiasaan menyisihkan sedikit waktu untuk bergerak.
Tidak perlu berpikir seperti seorang atlet. Kita tidak sedang mengejar medali, kecepatan, ataupun rekor. Tujuannya jauh lebih sederhana: menjaga tubuh tetap aktif sekaligus memberi kesempatan kepada pikiran untuk keluar sejenak dari rutinitas pekerjaan.
Berikut tiga aktivitas sederhana yang menurut saya cukup realistis dilakukan oleh orang yang sehari-hari sibuk bekerja.
1. Senam Pernapasan: Aktivitas Ringan Sepulang Kerja
Sepulang kerja, kita tidak selalu mempunyai tenaga untuk langsung melakukan olahraga berat. Karena itu, senam pernapasan selama sekitar 15–20 menit bisa menjadi pilihan aktivitas ringan.
Gerakan tubuh yang ringan dipadukan dengan pengaturan napas dapat menjadi cara untuk menurunkan tempo setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Tidak membutuhkan lapangan luas atau perlengkapan khusus sehingga relatif mudah dilakukan di rumah.
Kalau memungkinkan, bergabung dengan kelompok atau komunitas senam juga menarik. Selain mempunyai jadwal latihan, keberadaan teman biasanya membuat kita lebih bersemangat dan disiplin.
Namun kalau tidak memungkinkan, berlatih sendiri di rumah pun tidak masalah. Sesuaikan gerakan dengan kemampuan dan kondisi tubuh masing-masing.
2. Jogging: Tidak Harus Jauh, yang Penting Rutin
Jogging termasuk olahraga yang sederhana. Kita hanya membutuhkan sepatu yang nyaman, tempat yang aman untuk berlari, dan sedikit waktu.
Bagi orang yang sibuk bekerja, jogging ringan selama 15–20 menit dua atau tiga kali seminggu sudah lebih realistis daripada merencanakan olahraga satu jam tetapi akhirnya tidak pernah dilakukan.
Tidak perlu langsung mengejar jarak atau kecepatan.
Kalau belum terbiasa, mulailah dengan berjalan kaki. Setelah tubuh mulai nyaman, kombinasikan jalan cepat dengan lari kecil. Kemampuan setiap orang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan orang yang mampu berlari lima atau sepuluh kilometer.
Kita tidak sedang berlomba dengan orang lain.
Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan bergerak. Sedikit tetapi rutin lebih baik daripada memaksakan olahraga berat sekali, lalu berhenti berminggu-minggu karena tubuh kelelahan.
3. Futsal atau Olahraga yang Kita Sukai
Kalau saya pribadi, salah satu olahraga yang menyenangkan adalah futsal.
Berbeda dengan jogging yang bisa dilakukan sendiri, futsal mempunyai unsur permainan dan interaksi dengan teman. Kita berlari mengejar bola, menjaga lawan, mencari ruang, mengoper, hingga mencoba mencetak gol.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mengecoh lawan lalu menendang bola masuk ke gawang. Untuk beberapa saat, pikiran benar-benar terlepas dari pekerjaan.
Hal yang sama tentu bisa ditemukan pada olahraga lainnya.
Penggemar badminton mungkin merasakannya ketika melakukan smash atau drop shot yang sulit dikembalikan lawan. Orang lain mungkin lebih menikmati tenis, sepak bola, bersepeda, berenang, tenis meja, atau sekadar berjalan kaki.
Karena itu, olahraga terbaik bagi orang yang sibuk bekerja belum tentu olahraga yang paling berat.
Olahraga terbaik adalah olahraga yang membuat kita ingin melakukannya lagi.
Ketika kita menikmati aktivitasnya, olahraga tidak lagi terasa sebagai kewajiban. Ia justru bisa menjadi waktu yang kita tunggu setelah beberapa hari disibukkan pekerjaan.
Jangan Menunggu Punya Waktu Luang
Tulisan ini tentu bukan program latihan untuk atlet atau orang yang memang serius menekuni olahraga. Ini hanya berbagi pengalaman untuk teman-teman yang sehari-hari bekerja dan merasa sulit mencari waktu untuk menjaga kebugaran.
Kita sering berkata:
“Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk, saya mulai olahraga.”
Masalahnya, kapan pekerjaan benar-benar tidak sibuk?
Selesai satu pekerjaan, muncul pekerjaan berikutnya. Selesai satu target, datang target baru. Kalau olahraga selalu menunggu waktu luang, bisa jadi kita justru tidak pernah memulainya.
Karena itu, menurut saya ada perbedaan kecil tetapi penting:
Jangan mencari waktu untuk olahraga. Sisihkan waktu untuk bergerak.
Tidak harus satu jam. Lima belas atau dua puluh menit pun bisa menjadi awal. Tidak harus setiap hari. Dua atau tiga kali seminggu jauh lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Pilih aktivitas sesuai usia, kemampuan, dan kondisi tubuh. Kita juga tidak perlu memaksakan diri mengikuti kemampuan orang lain. Jika mempunyai kondisi kesehatan tertentu, jenis maupun intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan arahan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, pekerjaan memang penting. Target harus dikejar dan tanggung jawab harus diselesaikan. Tetapi ada satu hal yang kadang terlupakan ketika kita terlalu sibuk bekerja:
Tubuh inilah yang setiap hari kita gunakan untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu.
Jadi sesekali tutup laptop, tinggalkan kursi, pakai sepatu olahraga, lalu bergerak.
Senam boleh. Jogging boleh. Futsal boleh. Badminton juga boleh.
Tidak perlu menjadi atlet.
Kita hanya perlu mulai bergerak—dan membuatnya menjadi kebiasaan.
