Monday, July 7, 2014

Lalu suatu siang, aku bertemu seorang bapak penjual kerupuk.

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang menikmati semangkuk Indomie di sebuah warung pinggir jalan Sorosutan, pandanganku tertuju pada seorang bapak tua yang berjalan pelan di bawah terik matahari.

Di pundaknya tergantung dua kaleng besar berisi kerupuk. Besarnya hampir dua kali tubuh beliau. Di tangan kanannya masih menjinjing termos es yang juga tidak kecil.



Aku hanya bisa memandangi beliau dari kejauhan.

Matahari tepat berada di atas kepala. Udara terasa begitu menyengat. Entah sudah berapa kilometer beliau berjalan siang itu. Yang terbayang di pikiranku hanya satu...

Pasti haus. Pasti lelah.

Saat itu sebenarnya aku ingin menghampiri dan mentraktir beliau makan siang. Tetapi warung sedang ramai. Aku takut niat baikku justru membuat beliau sungkan atau merasa tidak enak.

Akhirnya aku hanya berkata dalam hati,

"Kalau suatu saat bertemu lagi, aku ingin memberi sesuatu untuk beliau."

Esok harinya aku sengaja kembali ke tempat yang sama. Aku menunggu cukup lama dengan harapan beliau lewat lagi. Rencanaku sederhana. Aku ingin mengikutinya sebentar, lalu di tempat yang lebih sepi memberikan sedikit uang sekadar untuk makan siang atau menambah bekal pulang.

Namun beliau tak pernah muncul.

Aku pikir mungkin kesempatan itu memang sudah lewat.

Sampai Minggu malam kemarin...

Sekitar pukul sembilan malam, aku dan istriku hendak makan bakso di daerah Umbulharjo.

Tiba-tiba istriku berkata,

"Mas... berhenti. Sepertinya itu bapak penjual kerupuk yang dulu."

Aku menoleh.

Dan benar.

Beliau masih memikul dua kaleng besar yang sama.

Masih berjalan kaki.

Bedanya, kali ini bukan di bawah terik matahari.

Melainkan di tengah malam.

Saat itu dadaku terasa sesak.

Siang beliau berjalan.

Malam pun beliau masih berjalan.

Entah sejak jam berapa beliau bekerja hari itu.

Yang terlintas di pikiranku bukan lagi soal kerupuk.

Melainkan sebuah pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa kujawab.

Seberat apa hidup seseorang, sampai di usia setua itu ia masih harus memikul beban di pundaknya dari pagi hingga larut malam?

Aku meminta istriku membuka dompet.

Lalu kami menghampiri beliau dan memberikan sedikit uang.

Tidak banyak.

Bahkan mungkin sangat kecil dibanding perjuangan beliau seharian.

Beliau menerimanya dengan senyum yang begitu tulus.

Saat kami berpamitan, justru beliau yang berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Padahal...

Akulah yang merasa mendapat pelajaran malam itu.

Tentang kerja keras.

Tentang harga diri.

Dan tentang betapa seringnya kita mengeluh, sementara di luar sana masih ada orang yang terus berjalan memikul beban hidup tanpa pernah berhenti berharap.

Maaf ya, Pak... Jangan lihat nilainya. Semoga sedikit yang kami berikan bisa bermanfaat untuk Bapak dan keluarga. Semoga Tuhan selalu menjaga kesehatan, menguatkan langkah Bapak, dan melapangkan rezeki Bapak. Aamiin.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata