Sepulang kerja, sekitar pukul 18.15 setelah Magrib, aku melintas di pertigaan lampu merah Piyungan. Di pinggir jalan kulihat seorang bapak tua berdiri sambil sesekali mengangkat tangan ke arah mobil yang lewat. Sepertinya beliau sedang mencari tumpangan. Angkutan umum jam segitu sudah hampir tidak ada.
Aku berhenti dan menghampirinya.
"Pak, mau saya antar?"
Beliau tersenyum kecil, lalu naik ke motor.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Ternyata beliau penjual sapu keliling. Sejak subuh beliau berjalan kaki dari sekitar Imogiri Timur menuju Patuk, memikul sapu di pundaknya. Setelah semua dagangannya habis terjual, hari sudah keburu malam. Tenaganya juga pasti sudah habis. Mau jalan kaki pulang rasanya sudah tidak kuat, sementara angkutan yang ditunggu tak kunjung datang.
Aku jadi lebih banyak diam.
Di kepalaku terus terbayang perjalanan bapak itu. Berjalan kaki sejak subuh, naik turunnya tanjakan Patuk sambil memikul puluhan sapu. Bahkan membayangkannya saja sudah membuatku lelah.
Tak lama kemudian kami sampai di perempatan Ring Road dekat Wojo.
Beliau meminta berhenti.
Sebelum turun, beliau menjabat tanganku sambil berkata,
"Terima kasih, Nak. Semoga selamat di jalan dan dimudahkan rezekinya sama Gusti Allah."
Aku hanya menjawab,
"Aamiin, Pak."
Beliau lalu berjalan pelan meninggalkanku.
Aku memutar motor menuju Wirosaban, tetapi pikiranku masih tertinggal di perempatan itu.
Aku baru sadar...
Barangkali hari itu aku merasa sedang menolong seorang penjual sapu. Padahal bisa jadi, justru beliau yang sedang mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur.
Karena di usia senjanya, setelah berjalan kaki seharian memikul beban hidup, beliau masih sempat menghadiahkan doa untuk orang yang baru dikenalnya beberapa menit.
Semoga Bapak Penjual Sapu selalu diberi kesehatan, kemudahan rezeki, dan keberkahan dalam setiap langkahnya.
0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.