Monday, September 14, 2026

Kisah Nyata Kehidupan Sehari-hari di SMA Taruna Nusantara

Di rumah, satu telur pernah kami bagi berempat. Sepotong daging pun bisa menjadi makanan istimewa. Lalu aku masuk SMA Taruna Nusantara, tempat lauk daging justru tersedia rutin. Anehnya, aku malah kesulitan memakannya. Sampai suatu malam, sepotong daging yang kusembunyikan justru “beranak” menjadi lima.



Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku masuk SMA Taruna Nusantara bukan karena tahu sekolah itu bergengsi atau berkualitas. Waktu itu aku bahkan belum terlalu paham apa yang dimaksud sekolah top atau sekolah unggulan. Alasanku ikut seleksi jauh lebih sederhana: sekolah itu gratis.

Bagi keluargaku waktu itu, kata gratis punya arti cukup penting. Kondisi ekonomi keluarga memang tidak bisa dibilang bagus. Dibilang miskin sekali mungkin juga tidak tepat. Bapak bekerja dan selalu berusaha mencukupi kebutuhan kami. Hanya saja tanggungan beliau cukup banyak. Beberapa saudara ikut tinggal di rumah, sementara lebih banyak lagi yang sekolahnya ikut dibiayai bapak.

Kalau ingin menggambarkan keadaan keluarga kami waktu itu, mungkin paling gampang lewat cerita makanan. Semasa kecil, makan daging sapi hampir tidak pernah. Kalaupun ada, biasanya karena tetangga punya hajatan dan keluarga kami mendapat nasi berkat. Ayam juga bukan lauk sehari-hari. Biasanya baru ada saat Lebaran atau momen penting. Telur mungkin sekali atau dua kali sebulan, terutama kalau sedang tanggal muda.

Sehari-hari jauh lebih sederhana. Ada sambal dari cabai yang dipetik sendiri di kebun dan tempe goreng, itu sudah enak. Kadang kalau tempe tidak ada, nasi dicampur parutan kelapa. Kalau kelapa tidak ada, nasi pakai kecap. Kalau itu pun tidak ada, nasi dengan garam juga jadi. Aku bahkan masih ingat pernah beberapa hari di rumah tidak ada beras maupun tiwul. Yang ada hanya terong mentah dan kelapa yang bisa dipetik dari ladang. Ya sudah, itu yang dimakan.

Aku menceritakan semua ini bukan untuk mengeluh atau menyesali kehidupan yang diberikan orang tuaku. Sama sekali bukan. Semakin tua, aku justru semakin memahami bagaimana bapak dan ibu berjuang dengan apa yang mereka punya. Cerita tentang makanan ini perlu kusampaikan karena tanpa mengetahui kehidupan keluargaku waktu itu, mungkin akan sulit memahami kenapa sepotong daging kemudian bisa menjadi persoalan ketika aku tinggal di asrama SMA Taruna Nusantara.

Ketika aku SMP, keadaan ekonomi keluarga mulai sedikit membaik. Setidaknya tempe atau tahu hampir selalu tersedia setiap hari. Telur dan ayam juga mulai lebih sering kami makan. Masakan ibu semakin bervariasi. Ada sayur bening, sayur asem, sop, berbagai macam oseng-oseng dan tentu saja sambal. Salah satu masakan favoritku adalah oseng-oseng buncis buatan ibu. Bertahun-tahun kemudian, masakan sederhana itu bahkan pernah kutulis dan kuposting di media sosial sebagai salah satu caraku mengenang ibu yang sekarang sudah tiada.

Menu sepulang sekolah yang paling kuingat juga sederhana sekali: sayur bening, sambal tomat dan tempe goreng. Setelah mengayuh sepeda sekitar 13 kilometer dari sekolah, panas-panasan dan capek, menemukan makanan seperti itu di rumah rasanya sudah luar biasa. Tetapi sebenarnya yang paling membekas bukan jenis makanannya. Aku ingat bagaimana kami membaginya.

Kalau hanya ada satu telur, ya dibagi empat. Untuk bapak, ibu, aku dan adikku. Kalau mendapat sepotong kecil daging sapi dari nasi berkat orang yang punya hajatan, kami menunggu sampai bisa makan bersama. Daging yang tidak seberapa itu dibagi, lalu dimakan pelan-pelan. Mungkin karena jarang, kami benar-benar menikmatinya.

Sampai sekarang aku masih bisa membayangkan suasana seperti itu. Bahkan ketika menulis bagian ini, mataku masih mudah meleleh kalau teringat ibu. Semakin ke sini aku semakin sadar betapa setianya beliau mendampingi bapak dan menjaga keluarga kami dalam keadaan apa pun.

Lalu aku masuk SMA Taruna Nusantara di Magelang. Dalam urusan makanan, kehidupanku berubah total. Di rumah, tempe atau tahu bisa menjadi lauk utama. Di SMA Taruna Nusantara, makanan siswa sudah diperhitungkan sesuai kebutuhan dan aktivitas kami. Pagi, siang maupun malam hampir selalu tersedia sumber protein. Bisa daging sapi, ayam, ikan atau telur. Tempe dan tahu yang di rumah menjadi lauk utama, di sana malah bisa menjadi tambahan.

Seharusnya aku senang, kan? Ternyata tidak semudah itu.

Pada awal-awal tinggal di asrama aku justru sering kesulitan makan. Bukan karena makanannya tidak enak. Setiap melihat lauk yang bagiku tergolong istimewa, pikiranku malah lari ke rumah. Aku teringat bapak, ibu dan adikku di Wonogiri. Rasanya aneh melihat makanan tersedia begitu lengkap di depanku sementara aku tahu bagaimana kami makan di rumah.

Masalahnya, makan bersama di asrama juga punya aturan. Ada pamong pengasuh yang mengawasi dan makanan yang sudah disediakan harus dihabiskan. Nasi dan sayur memang kami ambil sendiri dari wadah ke ompreng, jadi porsinya masih bisa disesuaikan. Tetapi lauk protein sudah disiapkan di ompreng masing-masing.

Kalau ayam, ikan atau telur, perlahan aku masih bisa beradaptasi. Setidaknya ketika SMP makanan seperti itu sudah agak sering kumakan. Yang paling berat justru daging sapi. Entah bagaimana menjelaskannya. Mungkin karena sejak kecil kami benar-benar jarang makan daging. Setiap kali melihat daging sapi di ompreng, bukannya berselera, aku malah teringat rumah dan sulit makan.

Akhirnya aku menemukan cara sendiri. Setiap kali lauknya daging, diam-diam kusembunyikan di antara sayur. Aku makan nasi dan yang lainnya seperti biasa. Setelah teman-teman semeja hampir selesai, barulah daging itu kuberikan kepada salah seorang teman. Kenapa harus menunggu dia menghabiskan jatahnya? Ya supaya tidak ketahuan. Kalau sejak awal dagingku langsung kuberikan, tentu gampang terlihat oleh pamong.

Dan cara itu ternyata cukup berhasil. Bukan sekali dua kali. Bahkan bukan cuma tiga atau empat kali.

Sampai suatu malam, keberuntunganku habis.

Malam itu lauknya daging sapi. Kami duduk berenam dalam satu meja. Sejak awal aku sudah agak tidak tenang karena Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan waktu itu, almarhum Kolonel Marinir A. Karim Usman, beberapa kali mondar-mandir di sekitar meja tempatku duduk. Aku mulai curiga. Jangan-jangan beliau sudah memperhatikan kelakuanku pada waktu makan sebelumnya.

Aku menunggu. Ketika beliau berjalan agak menjauh, mulailah operasi penyelamatan. Daging di ompreng kupotong kecil-kecil. Sedikit kutinggalkan. Sebagian besar, mungkin sekitar 90 persennya, diam-diam kumasukkan ke wadah sayur yang ada di tengah meja.

Aman. Setidaknya begitu pikirku.

Aku kembali makan seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi aku lupa satu hal: wadah sayur itu dipakai berenam. Teman di sebelah rupanya ingin menambah sayur. Dia mengambil lagi dari wadah itu. Sayurnya semakin berkurang. Pelan-pelan, daging yang tadi kusembunyikan mulai terlihat.

Aku melihatnya.

Dan rupanya Pak Karim juga melihatnya.

Deg.

Beliau langsung mendekati meja kami.

“Kenapa dagingnya nggak dimakan?”

Aku diam. Mau menjawab apa? Akhirnya kujawab apa adanya.

“Saya nggak bisa makan daging, Pak.”

Beliau terlihat agak kaget. Setelah itu aku mendapat penjelasan cukup panjang. Intinya, makanan yang disediakan untuk siswa bukan sekadar supaya kami kenyang. Semuanya sudah diperhitungkan sesuai kebutuhan tubuh dan aktivitas kami yang memang padat. Karena itu makanan yang sudah menjadi jatah masing-masing harus dihabiskan.

Aku hanya mendengarkan. Kupikir setelah diberi pengarahan, urusannya selesai.

Ternyata belum.

Aku diperintahkan push-up 10 set. Aku jalani. Setelah selesai, aku kembali ke meja. Kupikir sekarang benar-benar selesai.

Ternyata masih belum.

Pak Karim mengambil lima potong daging sapi. Ukurannya kurang lebih sama dengan potongan daging yang tadi mati-matian ingin kuhindari. Kelima potong itu diletakkan di depanku.

“Makan. Habiskan.”

Deg.

Aku langsung pucat. Satu potong saja tadi sampai kusembunyikan di wadah sayur. Sekarang malah ada lima potong di depanku. Rasanya langsung mual. Benar-benar ingin muntah. Tapi aku juga tidak berani muntah.

Kalau dipikir sekarang memang lucu. Malam itu aku mendapat pelajaran Biologi yang rasanya tidak pernah ada di buku sekolah. Ternyata sepotong daging bisa beranak lima. Caranya sederhana: ketahuan Wakasek Kesiswaan.

Aku memandangi lima potong daging itu cukup lama. Perut rasanya sudah menolak sebelum daging masuk ke mulut. Aku diam sebentar. Entah kenapa, pikiranku kemudian pulang ke Wonogiri.

Aku membayangkan sedang berada di rumah. Ada bapak, ibu dan adikku. Kami duduk dan makan bersama seperti biasanya. Aku teringat satu telur yang dibagi empat. Aku teringat sepotong daging dari nasi berkat yang kami tunggu sampai semua berkumpul untuk menikmatinya bersama.

Lalu dalam bayanganku, aku seperti meminta izin kepada bapak dan ibu.

“Pak, Bu... yang ini aku makan sendiri, ya.”

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mereka pasti mengizinkan. Bagaimanapun aku berada di SMA Taruna Nusantara juga atas arahan dan restu mereka. Kalau di sekolah aku diwajibkan makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan menjalani semua kegiatan, tentu bapak dan ibu juga ingin aku melakukannya.

Aku mengambil satu potong dan mulai mengunyah pelan-pelan.

Mual.

Aku berhenti sebentar, lalu kunyah lagi. Aku tidak lagi berpikir harus cepat-cepat menghabiskannya. Justru sebaliknya. Aku memperlambat makanku sambil terus membayangkan sedang berada di rumah bersama mereka.

Sedikit demi sedikit, satu potong habis. Lalu potongan berikutnya. Kalau mulai terasa mual, aku berhenti sebentar. Setelah itu lanjut lagi. Begitu terus sampai akhirnya lima potong daging itu benar-benar habis. Tidak ada yang tersisa.

Malam itu aku mungkin hanya berpikir bagaimana caranya menghabiskan lima potong daging tanpa muntah. Tetapi tanpa kusadari, aku justru menemukan sebuah cara yang kemudian kupakai selama tinggal di asrama. Setelah kejadian itu, kalau ada makanan yang sulit kumakan, aku tidak lagi buru-buru mencari cara untuk membuang atau memberikannya kepada teman.

Aku makan lebih pelan. Kalau perlu berhenti sebentar. Lalu dalam pikiran, aku pulang ke Wonogiri. Membayangkan bapak, ibu dan adikku. Membayangkan kami sedang makan bersama seperti dulu.

Aneh mungkin bagi orang lain, tapi buatku cara itu bekerja. Perlahan aku bisa beradaptasi dengan makanan di asrama. Daging tidak perlu lagi bersembunyi di bawah sayur atau berpindah ke ompreng teman.

Dan ternyata kebiasaan yang bermula malam itu tidak ikut berhenti ketika aku lulus SMA Taruna Nusantara. Sampai sekarang pun aku masih melakukannya. Kalau menghadapi makanan yang sulit kumakan, aku cenderung memperlambat makanku. Sedikit demi sedikit. Kadang tanpa sadar pikiranku kembali pada meja makan sederhana di rumah. Ada bapak, ada ibu, ada adikku, dan ada aku.

Mungkin itu sebabnya kenanganku tentang SMA Taruna Nusantara tidak selalu berupa baris-berbaris, seragam, pelajaran atau latihan fisik. Kadang yang muncul justru sebuah ompreng di ruang makan dan lima potong daging.

Dari kejadian sederhana itu aku membawa satu kebiasaan yang bertahan sampai hari ini. Ketika sesuatu terasa sulit, kadang aku hanya perlu memperlambatnya. Dan ketika rasanya benar-benar berat, aku punya satu tempat untuk kembali, meskipun hanya dalam pikiran: rumah.

Jadi kalau ditanya bagaimana akhirnya aku bisa menghabiskan lima potong daging malam itu, jawabannya bukan karena tiba-tiba aku menjadi suka daging. Aku hanya merasa seperti sedang makan bersama keluargaku.

Bedanya, malam itu aku sudah meminta izin kepada mereka.

“Pak, Bu... yang ini aku habiskan sendiri, ya.”

Dan semuanya bermula dari satu potong daging yang malam itu... beranak lima.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts