Pagi itu tugasku sebenarnya sederhana: berjalan kaki memutari Jalur Air Mata Mantan di Hutan Wisata Tinjomoyo. Aku tidak menyangka, inspeksi yang dimulai dengan menyusuri hutan itu justru berakhir dengan perjalanan terburu-buru menuju ruang rapat.
Ada masa ketika aku bertugas sebagai pengelola Hutan Wisata Tinjomoyo. Masa yang cukup membekas karena di sana aku belajar bahwa mengelola destinasi wisata bukan sekadar membuat program atau mempromosikan tempat. Ada proses panjang sejak sebuah gagasan lahir, diperjuangkan, diwujudkan, sampai akhirnya harus dipasarkan dan dirawat.
Salah satu gagasan yang waktu itu kami kembangkan adalah Jalur Trekking Air Mata Mantan.
Namanya memang sedikit nyeleneh. Justru itu yang kami inginkan: nama yang mudah diingat dan memancing rasa penasaran. Sebab sebuah destinasi tidak cukup hanya mempunyai tempat yang menarik. Ia juga membutuhkan identitas, cerita, dan pengalaman yang membuat orang ingin datang.
Tentu, nama dan gagasan saja tidak cukup.
Aku ikut merencanakan jalurnya, kemudian mengusulkan anggaran pembangunan infrastrukturnya kepada Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pariwisata. Dari situlah gagasan yang sebelumnya hanya berupa rencana perlahan berubah menjadi jalur yang benar-benar bisa dilalui.
Namun membangun destinasi bukan sekadar membangun fisiknya.
Infrastruktur harus berjalan bersama sumber daya manusia.
Kami kemudian berkolaborasi dengan teman-teman Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) untuk melatih warga lokal menjadi pemandu wisata. Tidak berhenti pada pelatihan, proses tersebut berlanjut hingga sertifikasi kompetensi BNSP.
Harapannya sederhana: ketika wisatawan datang, masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton. Mereka mempunyai kesempatan menjadi bagian dari aktivitas pariwisata yang berkembang di wilayahnya sendiri.
Pada saat yang sama, kami juga mulai menciptakan storytelling untuk beberapa daya tarik di Tinjomoyo. Karena sebuah tempat bisa menarik secara visual, tetapi ceritalah yang membuat sebuah tempat memiliki makna dan lebih mudah dikenang.
Setelah jalur selesai dibangun, pekerjaan ternyata belum selesai.
Justru dimulailah pekerjaan berikutnya:
memasarkan dan merawatnya.
Jalur yang sudah dibangun tidak cukup diperiksa melalui laporan. Kondisinya harus dilihat langsung. Apakah masih nyaman dilalui? Adakah bagian yang perlu diperbaiki? Bagaimana kondisi fasilitasnya? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana rasanya kalau kita sendiri berjalan di sana sebagai pengunjung?
Karena itu aku sering melakukan inspeksi dengan cara paling sederhana: berjalan kaki menyusuri Jalur Air Mata Mantan dari satu bagian ke bagian lainnya.
Biasanya aku ditemani Pak Mahmud, Kepala TU Hutan Wisata Tinjomoyo pada masa itu.
Video ini merupakan dokumentasi salah satu inspeksi tersebut.
Hari itu Senin pagi. Kami berjalan menyusuri jalur dan semakin jauh masuk ke kawasan hutan. Tidak ada seremoni. Tidak ada rombongan besar. Hanya dua orang yang berjalan sambil mengamati kondisi jalur, melihat apa yang perlu diperbaiki, sekaligus merasakan sendiri perjalanan yang nantinya akan dilalui wisatawan.
Bagiku, ada sesuatu yang berbeda ketika seorang pengelola sesekali meninggalkan meja kerjanya dan berjalan langsung di destinasi yang dikelolanya.
Kadang hal-hal kecil yang tidak pernah muncul dalam laporan justru terlihat ketika kita berjalan sendiri dan mencoba menempatkan diri sebagai pengunjung.
Pagi itu semuanya berjalan normal.
Sampai kami berada cukup jauh di tengah hutan.
Tiba-tiba telepon berbunyi.
Aku mengangkatnya.
Ada pesan dari pimpinan:
diminta segera mengikuti rapat.
Aku melihat jalur yang masih membentang di depan. Lalu menoleh ke belakang, melihat jalan yang baru saja kami tempuh.
Mau bagaimana lagi?
Putar balik.
Inspeksi Jalur Air Mata Mantan pagi itu akhirnya tidak selesai sesuai rencana.
Begitulah kadang keseharian mengelola sebuah destinasi wisata. Pagi bisa dimulai dengan sepatu lapangan, menyusuri pepohonan, memeriksa jalur trekking, dan melihat langsung kondisi destinasi.
Beberapa saat kemudian semuanya bisa berubah menjadi meja, kursi, dokumen, dan ruang rapat.
Hari itu aku kembali belajar bahwa bekerja di dunia pariwisata memang mempunyai banyak jalur.
Ada jalur perencanaan. Ada jalur pembangunan. Ada jalur pemasaran. Ada pula jalur pemeliharaan.
Dan ternyata ada satu jalur lagi yang sama sekali tidak pernah kami gambar ketika merencanakan Jalur Air Mata Mantan:
jalur tercepat keluar dari hutan menuju ruang rapat. 😄
0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.