Thursday, September 17, 2026

Awalnya saya tidak pernah membayangkan Kariswisata akan berisi begitu banyak cerita. Saya hanya senang melakukan perjalanan, mendatangi tempat baru, terlibat dalam berbagai kegiatan pariwisata, lalu mencatat pengalaman yang rasanya sayang kalau hanya disimpan sendiri. Dari wisata Semarang, desa wisata, pendakian gunung hingga panjat tebing, catatan-catatan itu perlahan terkumpul dan akhirnya membentuk Kariswisata seperti sekarang.

Belakangan saya sadar, perjalanan ternyata tidak selalu berarti pergi dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya. Ada perjalanan dalam pekerjaan, organisasi, masa sekolah, keluarga, bahkan perjalanan ketika kehidupan membawa kita ke keadaan yang sama sekali tidak pernah direncanakan. Kariswisata pun ikut berubah. Akarnya tetap pariwisata dan perjalanan, tetapi cerita yang tumbuh di atasnya menjadi jauh lebih beragam.

Semarang, Kota yang Terus Saya Ceritakan

Sebagian besar aktivitas saya sekarang berada di Semarang. Wajar kalau pariwisata Kota Semarang menjadi salah satu tema yang sering muncul di Kariswisata. Ada Kota Lama, museum, festival, kuliner, hotel, kampung wisata, sampai berbagai destinasi yang terus berubah mengikuti perkembangan kota.

Kota Lama Semarang termasuk yang tidak pernah habis untuk diceritakan. Kawasan ini bukan sekadar deretan bangunan tua yang bagus untuk difoto. Ada atraksi wisata, event, museum, kuliner, pelayanan, aksesibilitas hingga promosi yang bersama-sama menentukan pengalaman wisatawan. Sebuah festival bahkan bisa mengubah suasana kawasan hanya dalam hitungan hari.

Begitu pula ketika saya menulis berbagai destinasi wisata Semarang. Saya tidak terlalu tertarik berhenti pada informasi lokasi dan apa yang bisa dilihat. Pertanyaan yang lebih menarik justru: mengapa orang mau datang? Apa yang mereka dapatkan setelah berada di sana? Dan apa yang membuat mereka ingin kembali?

Dari situlah saya semakin melihat bahwa destinasi bukan hanya soal tempat. Ada pengalaman yang harus dibangun dan cerita yang harus disampaikan.

Desa Wisata Tidak Cukup Hanya Punya Potensi

Perjalanan di dunia pariwisata membawa saya semakin dekat dengan desa wisata dan kampung wisata. Dari sini pula tulisan di Kariswisata mulai banyak bersinggungan dengan pengembangan produk dan pemasaran.

Sebuah desa wisata bisa mempunyai pemandangan indah, kuliner khas, kesenian, aktivitas pertanian atau kehidupan masyarakat yang menarik. Tetapi memiliki potensi belum tentu membuat wisatawan datang. Potensi tersebut masih harus diterjemahkan menjadi pengalaman yang mudah dipahami dan menarik untuk dibeli.

Di sinilah saya banyak belajar tentang pemasaran desa wisata.

Mulai dari mengenali pasar, membuat paket wisata, menentukan segmentasi, melakukan personal selling hingga menggunakan digital marketing. Semakin lama berkecimpung di dalamnya, saya justru semakin yakin bahwa persoalan sebuah destinasi terkadang bukan karena produknya jelek.

Bisa jadi produknya bagus, tetapi kita belum menemukan cara yang tepat untuk menceritakannya.

Hal yang sama berlaku pada wisata edukasi. Sekolah, keluarga, komunitas dan perusahaan mempunyai kebutuhan berbeda. Paket wisata untuk siswa tentu tidak bisa dikemas persis seperti perjalanan keluarga atau kegiatan komunitas. Sebelum menjual paket, kita harus tahu dahulu siapa yang akan membelinya.

Pemasaran Pariwisata Bukan Sekadar Membuat Konten

Ketika media sosial berkembang, digital marketing pariwisata sering kali langsung diterjemahkan menjadi foto, video, Reels, TikTok dan jumlah follower.

Padahal menurut saya pemasaran dimulai jauh sebelum kamera dinyalakan.

Kita harus mengenal produk terlebih dahulu. Apa sebenarnya yang kita jual? Siapa yang membutuhkannya? Mengapa orang harus memilih produk tersebut? Kalau tiga pertanyaan sederhana itu belum terjawab, konten sebagus apa pun akan kesulitan menemukan arah.

Itulah sebabnya pembahasan pemasaran pariwisata di Kariswisata tidak hanya berkutat pada media sosial. Saya juga menulis tentang produk wisata, segmentasi pasar, sales funnel, personal selling, paket wisata hingga proses mengubah orang yang awalnya hanya tahu menjadi tertarik, bertanya, bernegosiasi, dan akhirnya membeli.

Ada satu pemikiran yang kemudian semakin kuat bagi saya:

We Are All Marketers.

Dalam sebuah destinasi, pemasaran bukan hanya pekerjaan orang yang memegang akun Instagram. Pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku kuliner, pengelola atraksi hingga masyarakat yang berinteraksi dengan wisatawan ikut menentukan bagaimana sebuah tempat akan diingat.

Jauh Sebelum Bicara Pariwisata, Saya Lebih Dulu Mengenal Gunung

Sebelum banyak berkecimpung dalam pariwisata dan desa wisata, perjalanan saya justru lebih dekat dengan kegiatan alam bebas. Gunung menjadi salah satu ruang belajar yang paling membekas.

Ada cerita pendakian Gunung Merbabu, ketika sebagai mahasiswa baru saya pertama kali berhasil mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter. Ada Sumbing yang pernah saya datangi seorang diri setelah mendapat nilai ujian yang membuat pikiran tidak karuan. Ada Sundoro dan berbagai perjalanan lain dengan cerita masing-masing.

Semakin sering melakukan pendakian gunung, semakin saya sadar bahwa puncak sebenarnya hanya bagian kecil dari perjalanan.

Yang paling lama tersimpan dalam ingatan justru sering terjadi sebelum sampai ke sana. Kelelahan, perlengkapan yang bermasalah, teman seperjalanan, cuaca, rasa takut, keputusan yang keliru, atau saat kita harus memilih antara terus berjalan dan kembali.

Gunung mengajarkan sesuatu yang sampai sekarang masih saya pegang: mempunyai tujuan itu penting, tetapi mengetahui batas diri jauh lebih penting.

Puncak bisa menunggu. Keselamatan tidak.

Panjat Tebing dan Cerita dari Siung

Selain gunung, panjat tebing mempunyai tempat tersendiri dalam perjalanan saya. Dunia ini membawa saya pada latihan, organisasi, pembinaan atlet, kegiatan untuk anak-anak hingga berbagai perjalanan ke tebing alam.

Salah satu tempat yang paling sulit saya pisahkan dari cerita itu adalah Tebing Siung Gunungkidul, Yogyakarta.

Bagi wisatawan, Pantai Siung mungkin lebih dahulu dikenal sebagai pantai di pesisir selatan. Bagi pemanjat, jajaran tebing batu kapurnya mempunyai arti lain. Selama bertahun-tahun Tebing Siung didatangi pemanjat dari komunitas, klub, Mapala maupun perorangan untuk berlatih, mencoba jalur atau sekadar menghabiskan akhir pekan dengan memanjat di tepi laut.

Saya bahkan pernah membuat blog khusus mengenai rock climbing di Tebing Siung. Di sana tersimpan nama blok, jalur pemanjatan, grade, jumlah bolt hingga nama orang yang membuat jalur. Saat membuka kembali arsip itu setelah belasan tahun, rasanya seperti menemukan kotak lama yang selama ini tersimpan di gudang.

Baru sekarang saya menyadari bahwa catatan sederhana tersebut ternyata mempunyai nilai sebagai dokumentasi.

Tentu saja kondisi jalur bisa berubah. Bolt dan hanger yang terpasang bertahun-tahun lalu tidak boleh dianggap otomatis masih mempunyai kondisi yang sama sekarang. Informasi lama mengenai jalur panjat lebih tepat dibaca sebagai arsip, sedangkan keputusan untuk melakukan pemanjatan harus selalu mempertimbangkan kondisi aktual dan keselamatan.

Mungkin di situlah panjat tebing dan pendakian gunung bertemu. Kita boleh menyukai tantangan, tetapi alam tidak pernah mempunyai kewajiban mengikuti rencana kita.

Dari Memanjat Tebing hingga Belajar Memahami Pasar

Ada satu pengalaman dari dunia panjat tebing yang baru saya pahami maknanya bertahun-tahun kemudian.

Saat terlibat dalam pembinaan, saya melihat banyak anak sebenarnya tertarik mencoba memanjat. Masalahnya justru datang dari orang tua. Mereka takut karena panjat tebing dianggap olahraga ekstrem dan berbahaya.

Kalau waktu itu kami hanya mengatakan, “Panjat tebing itu aman,” belum tentu masalah selesai.

Kami mencoba pendekatan lain. Aktivitas memanjat dikemas sebagai permainan agar lebih dekat dengan dunia anak-anak dan tidak langsung menghadirkan kesan olahraga ekstrem. Anak-anak datang, mencoba memanjat, sementara orang tua mulai berani memberikan izin.

Saat itu saya tidak menyebutnya pemasaran.

Bertahun-tahun kemudian, setelah banyak berkecimpung dalam pemasaran destinasi dan desa wisata, saya baru sadar bahwa persoalannya sama: memahami apa yang membuat orang ragu.

Kadang kita terlalu sibuk memperbaiki produk, padahal produknya sebenarnya sudah bagus. Yang belum kita pahami justru alasan orang belum mau mencobanya.

Kembali ke SMA Taruna Nusantara melalui Tulisan

Perjalanan lain membawa Kariswisata kembali jauh ke masa sekolah.

Pengalaman di SMA Taruna Nusantara sudah berlalu puluhan tahun. Anehnya, ketika mulai menuliskannya kembali, detail-detail kecil yang saya kira sudah hilang justru bermunculan.

Ada cerita mengapa saya memilih sekolah karena gratis. Ada proses seleksi yang hampir membuat saya pulang. Ada kehidupan asrama, telegram, lintasan atletik, makanan di ruang makan hingga sepotong daging yang sampai sekarang masih saya ingat.

Dari situ saya sadar bahwa pengalaman SMA Taruna Nusantara tidak harus selalu diceritakan melalui peristiwa besar.

Kadang sebuah benda sederhana justru mampu membuka pintu ingatan.

Ketika menuliskannya kembali, saya bukan sedang berusaha mengatakan bahwa masa lalu selalu lebih indah. Saya hanya mencoba melihat bagaimana kejadian ketika masih berusia belasan tahun ternyata ikut membentuk cara berpikir dan mengambil keputusan puluhan tahun kemudian.

Ketika Perjalanan Berubah Arah

Tidak semua perjalanan kita pilih sendiri.

Ada masa ketika perjalanan saya bukan menuju gunung, tebing atau destinasi wisata, tetapi menuju ruang hemodialisis. Dari pengalaman itulah Kariswisata kemudian mempunyai ruang lain yang saya beri nama edukasi ginjal.

Sekilas tema ini memang terasa jauh dari wisata Semarang, desa wisata, pendakian atau panjat tebing. Tetapi setelah menjalaninya, saya merasa semuanya masih berada dalam satu garis yang sama: perjalanan kehidupan.

Banyak istilah mengenai hemodialisis dan kesehatan ginjal yang sebelumnya asing perlahan menjadi bagian dari keseharian. Ada persoalan cairan, makanan, aktivitas dan berbagai hal kecil yang ternyata harus dipelajari satu per satu.

Saya menuliskannya bukan untuk menggantikan dokter atau tenaga kesehatan. Pengalaman pribadi tetaplah pengalaman pribadi. Ketika membahas aspek medis, saya berusaha melengkapinya dengan sumber kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang berubah justru cara saya memandang perjalanan.

Dahulu perjalanan bisa berarti membawa ransel menuju gunung atau berdiri di bawah tebing sambil melihat jalur ke atas. Sekarang, bisa tetap bekerja, beraktivitas, menulis dan sesekali mendatangi tempat yang saya sukai pun sudah mempunyai makna tersendiri.

Lalu, Sebenarnya Kariswisata Blog tentang Apa?

Pertanyaan itu pernah terlintas juga di kepala saya.

Bagaimana sebuah blog bisa berisi pariwisata Semarang, Kota Lama Semarang, desa wisata, pemasaran pariwisata, pendakian gunung, panjat tebing, Tebing Siung, SMA Taruna Nusantara hingga edukasi ginjal?

Setelah dipikir-pikir, saya justru tidak ingin memaksanya menjadi satu tema yang sempit.

Semua tulisan tersebut mempunyai satu sumber yang sama: sesuatu yang pernah saya datangi, kerjakan, pikirkan atau alami sendiri.

Ketika menulis wisata Semarang, saya membawa pengalaman bekerja dan melihat perkembangan destinasi. Saat membahas pemasaran desa wisata, saya menulis persoalan yang benar-benar saya temui. Cerita pendakian dan panjat tebing berasal dari perjalanan yang pernah dijalani. Begitu pula cerita sekolah dan kehidupan sekarang.

Data dan referensi tetap penting. Tetapi bagi saya, data menjadi lebih hidup ketika bertemu pengalaman.

Dari Destinasi hingga Pengalaman, Semuanya Punya Cerita

Semakin lama menulis, semakin saya percaya bahwa tempat yang bagus belum tentu menghasilkan cerita yang bagus.

Cerita lahir dari manusia yang mengalaminya.

Destinasi wisata membutuhkan orang-orang yang menghidupkannya. Desa wisata membutuhkan produk dan pasar yang saling bertemu. Pemasaran pariwisata membutuhkan pemahaman tentang manusia yang ingin kita ajak datang. Pendakian gunung dan panjat tebing membutuhkan keberanian sekaligus kemampuan memahami risiko.

Begitu pula kehidupan.

Hari ini saya mungkin menulis Kota Lama Semarang dan wisata Semarang. Besok bisa membicarakan desa wisata, paket wisata dan pemasaran pariwisata. Pada kesempatan lain saya mungkin kembali membuka cerita Merbabu, Tebing Siung, panjat tebing, SMA Taruna Nusantara, atau perjalanan kehidupan yang sedang saya jalani sekarang.

Kelihatannya ke mana-mana.

Tetapi kalau ditarik satu garis, semuanya ternyata bertemu di tempat yang sama.

Kariswisata bukan hanya catatan tentang ke mana saya pernah pergi. Kariswisata adalah cerita tentang perjalanan, pengalaman, dan apa yang saya pelajari di sepanjang jalan.


0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran
Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis.

Popular Posts