Sunday, March 29, 2026

Cintaku Bersemi di Kota Lama (Part 2: Antara Rasa dan Batas)



 Senin pagi di Semarang terasa berbeda bagi Awan.

Bukan karena cuaca.
Tapi karena satu hal—statusnya dengan Sasa.

Kini, mereka bukan lagi sekadar mentor dan peserta magang.

Mereka… lebih dari itu.

Awal yang Canggung

Ruang kantor terasa sama. Meja, komputer, tumpukan laporan marketing—semuanya seperti biasa.

Tapi tidak dengan cara Awan dan Sasa saling memandang.

Sasa masuk ruangan.

Mata mereka bertemu.

Senyum kecil terlintas… lalu cepat hilang saat beberapa rekan kerja mulai memperhatikan.

“Awan, nanti jam 10 ada meeting ya,” ujar salah satu staf.

“Iya,” jawab Awan singkat.

Sasa langsung duduk di tempatnya.
Jarak mereka hanya beberapa meter—tapi terasa seperti ada batas tak kasat mata.

Chat masuk ke ponsel Awan.

Sasa: “Kita harus gimana di kantor?”
Awan: “Profesional dulu… nanti kita bahas ya.”

Awan menatap layar ponselnya lama.

Untuk pertama kalinya, ia merasa… ragu.

Bisik-Bisik Kantor

Beberapa hari berlalu.

Suasana mulai berubah.

“Awan sama anak magang itu deket banget ya…”
“Kayaknya bukan sekadar mentor deh…”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Sasa mulai merasa tidak nyaman.

Saat presentasi, tangannya sedikit gemetar.

“Awan, ini data campaign bulan lalu—” suaranya sempat terhenti.

Awan ingin menenangkan.
Tapi ia menahan diri.

Di ruangan itu, ia bukan “Awan yang memeluk Sasa di Kota Lama.”
Ia adalah supervisor.

Dan itu terasa menyakitkan.

Teguran yang Menyakitkan

Sore itu, Awan dipanggil atasan.

“Wan, saya dengar kamu terlalu dekat dengan peserta magang.”

Awan diam.

“Saya nggak melarang kamu punya hubungan personal. Tapi selama dia masih di bawah bimbingan kamu, ini bisa jadi masalah etika.”

Nada suaranya tegas.

“Kamu paham risikonya?”

Awan mengangguk pelan.
“Paham, Pak.”

“Jaga jarak. Atau… kita harus ambil keputusan lain.”

Kalimat itu menggantung.

Dan berat.

Menjauh untuk Melindungi

Hari-hari berikutnya terasa dingin.

Awan mulai menjaga jarak.

Tidak lagi mendekat saat diskusi.
Tidak lagi bercanda ringan.
Bahkan tatapannya pun lebih singkat.

Sasa mulai merasakan perubahan itu.

Sore itu, ia akhirnya mendatangi Awan.

“Kamu kenapa sih?” suaranya pelan, tapi jelas.

Awan tetap menatap layar.
“Kita lagi di kantor, Sa.”

Sasa terdiam.

“Aku tahu. Tapi kamu berubah.”

Awan menarik napas panjang.
“Aku cuma… nggak mau kamu kena dampaknya.”

“Maksud kamu?”

“Kalau orang-orang mulai ngomong, kalau atasan mulai curiga… kamu yang bakal dirugiin. Kamu masih magang, Sa.”

Sasa menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca.

“Jadi… kita harus pura-pura nggak ada apa-apa?”

Awan akhirnya menatapnya.

Dan itu menyakitkan.

“Aku lagi berusaha jaga kita.”

Retaknya Rasa

Malam itu, Sasa tidak membalas chat Awan.

Besoknya di kantor, ia lebih banyak diam.

Profesional—iya.

Tapi terasa jauh.

Terlalu jauh.

Awan mulai merasa kehilangan… padahal orangnya ada di depan mata.

Kota Lama, Tempat yang Sama

Sabtu malam.

Tanpa banyak kata, Awan mengirim pesan:

“Ke Kota Lama yuk. Kita harus ngobrol.”

Beberapa menit terasa lama.

Lalu balasan muncul:

“Oke.”

Mereka kembali ke Kota Lama Semarang.

Tempat yang sama.
Lampu yang sama.
Tapi suasananya berbeda.

Tidak ada tawa ringan seperti dulu.

Percakapan yang Menentukan

Mereka duduk diam beberapa saat.

“Aku capek, Wan,” kata Sasa akhirnya.

Awan menunduk.
“Aku juga.”

“Bukan capek sama kamu…” lanjut Sasa.
“Tapi sama keadaan ini.”

Angin malam berhembus pelan.

“Aku nggak mau jadi alasan kamu bermasalah di kantor,” kata Sasa.

Awan langsung menatapnya.
“Dan aku nggak mau kehilangan kamu.”

Hening.

“Aku cuma butuh waktu,” lanjut Awan.
“Biar semuanya jelas. Biar kita bisa jalan tanpa harus sembunyi-sembunyi.”

Sasa menatapnya dalam.

“Kamu yakin sama kita?”

Awan mengangguk.
“Lebih dari apapun.”

Pelukan yang Berbeda

Tidak seperti sebelumnya—yang penuh euforia.

Pelukan kali ini lebih dalam.

Lebih tenang.

Lebih dewasa.

Seolah mereka sadar—
cinta tidak selalu tentang momen indah,
tapi juga tentang bertahan di tengah tekanan.

Awan mencium pipi Sasa pelan.

“Aku nggak akan lepasin kamu,” bisiknya.

Sasa tersenyum kecil.
“Aku tunggu.”

Lampu-lampu Kota Lama tetap menyala.

Dan di tempat yang sama—
bukan hanya cinta yang tumbuh,

tapi juga… ujian.

 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.