Senin pagi di Semarang terasa berbeda bagi Awan.
Kini, mereka bukan lagi sekadar mentor dan peserta magang.
Mereka… lebih dari itu.
Awal yang Canggung
Ruang kantor terasa sama. Meja, komputer, tumpukan laporan marketing—semuanya seperti biasa.
Tapi tidak dengan cara Awan dan Sasa saling memandang.
Sasa masuk ruangan.
Mata mereka bertemu.
Senyum kecil terlintas… lalu cepat hilang saat beberapa rekan kerja mulai memperhatikan.
“Awan, nanti jam 10 ada meeting ya,” ujar salah satu staf.
“Iya,” jawab Awan singkat.
Chat masuk ke ponsel Awan.
Sasa: “Kita harus gimana di kantor?”Awan: “Profesional dulu… nanti kita bahas ya.”
Awan menatap layar ponselnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia merasa… ragu.
Bisik-Bisik Kantor
Beberapa hari berlalu.
Suasana mulai berubah.
Bisik-bisik mulai terdengar.
Sasa mulai merasa tidak nyaman.
Saat presentasi, tangannya sedikit gemetar.
“Awan, ini data campaign bulan lalu—” suaranya sempat terhenti.
Dan itu terasa menyakitkan.
Teguran yang Menyakitkan
Sore itu, Awan dipanggil atasan.
“Wan, saya dengar kamu terlalu dekat dengan peserta magang.”
Awan diam.
“Saya nggak melarang kamu punya hubungan personal. Tapi selama dia masih di bawah bimbingan kamu, ini bisa jadi masalah etika.”
Nada suaranya tegas.
“Kamu paham risikonya?”
“Jaga jarak. Atau… kita harus ambil keputusan lain.”
Kalimat itu menggantung.
Dan berat.
Menjauh untuk Melindungi
Hari-hari berikutnya terasa dingin.
Awan mulai menjaga jarak.
Sasa mulai merasakan perubahan itu.
Sore itu, ia akhirnya mendatangi Awan.
“Kamu kenapa sih?” suaranya pelan, tapi jelas.
Sasa terdiam.
“Aku tahu. Tapi kamu berubah.”
“Maksud kamu?”
“Kalau orang-orang mulai ngomong, kalau atasan mulai curiga… kamu yang bakal dirugiin. Kamu masih magang, Sa.”
Sasa menatapnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Jadi… kita harus pura-pura nggak ada apa-apa?”
Awan akhirnya menatapnya.
Dan itu menyakitkan.
“Aku lagi berusaha jaga kita.”
Retaknya Rasa
Malam itu, Sasa tidak membalas chat Awan.
Besoknya di kantor, ia lebih banyak diam.
Profesional—iya.
Tapi terasa jauh.
Terlalu jauh.
Awan mulai merasa kehilangan… padahal orangnya ada di depan mata.
Kota Lama, Tempat yang Sama
Sabtu malam.
Tanpa banyak kata, Awan mengirim pesan:
“Ke Kota Lama yuk. Kita harus ngobrol.”
Beberapa menit terasa lama.
Lalu balasan muncul:
“Oke.”
Mereka kembali ke Kota Lama Semarang.
Tidak ada tawa ringan seperti dulu.
Percakapan yang Menentukan
Mereka duduk diam beberapa saat.
“Aku capek, Wan,” kata Sasa akhirnya.
Angin malam berhembus pelan.
“Aku nggak mau jadi alasan kamu bermasalah di kantor,” kata Sasa.
Hening.
Sasa menatapnya dalam.
“Kamu yakin sama kita?”
Pelukan yang Berbeda
Tidak seperti sebelumnya—yang penuh euforia.
Pelukan kali ini lebih dalam.
Lebih tenang.
Lebih dewasa.
Awan mencium pipi Sasa pelan.
“Aku nggak akan lepasin kamu,” bisiknya.
Lampu-lampu Kota Lama tetap menyala.
tapi juga… ujian.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.