Sunday, March 29, 2026

Cintaku Bersemi di Kota Lama

 

Sore itu, matahari mulai turun perlahan di langit Semarang.

Awan menatap layar laptopnya, tapi pikirannya tidak di sana.

Matanya sesekali melirik ke arah Sasa.

Mahasiswi magang itu duduk beberapa meja di seberangnya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, kulitnya cerah, dan posturnya tinggi ramping—seperti model yang sering muncul di katalog fashion perusahaan tempat mereka bekerja.

Awan menarik napas pelan.

Sudah hampir dua bulan Sasa magang di perusahaan tekstil itu. Dan selama itu pula, Awan—yang ditugaskan sebagai mentor di divisi marketing—tidak pernah benar-benar bisa bersikap biasa saja.

“Awan, ini konsep campaign yang kemarin kamu jelasin, aku coba revisi ya,” suara Sasa membuyarkan lamunannya.

Awan mendekat, berdiri di sampingnya.
“Coba aku lihat.”

Mereka berdiskusi. Dekat. Terlalu dekat.

“Menurut kamu udah oke belum?” tanya Sasa.

Awan tersenyum kecil.
“Udah bagus. Tinggal ditambah… sedikit rasa.”

Sasa mengernyit.
“Rasa?”

“Iya,” Awan menatapnya lebih dalam. “Marketing itu bukan cuma jual produk. Tapi juga jual perasaan.”

Sasa tertawa kecil.
“Berat juga ya.”

“Enggak kok,” jawab Awan pelan. “Kalau kamu ngerti rasa… semuanya jadi lebih gampang.”

Mata mereka bertemu sesaat.
Dan entah kenapa, Awan merasa itu bukan lagi sekadar pembicaraan kerja.

Malam Minggu di Kota Lama

Sabtu sore.

Awan akhirnya memberanikan diri.

“Sa, nanti malam… kamu ada rencana?” tanyanya santai.

Sasa menggeleng.
“Belum sih.”

Awan pura-pura santai.
“Jalan yuk. Cari angin… sekalian ngopi.”

Sasa berpikir sejenak, lalu tersenyum.
“Boleh.”

Jawaban sederhana itu membuat jantung Awan berdetak lebih cepat dari biasanya.

Malam pun tiba.

Lampu-lampu kuning temaram menghiasi sudut Kota Lama Semarang. Bangunan tua berdiri megah, membawa suasana seperti kembali ke masa lalu.

Mereka berjalan pelan, berdampingan.

“Aku baru pertama kali ke sini malam-malam,” kata Sasa kagum.

Awan tersenyum.
“Tempat ini beda. Banyak cerita… termasuk yang belum dimulai.”

Sasa menoleh.
“Kamu sering ke sini?”

“Kadang. Kalau lagi pengen mikir… atau ngerasain sesuatu.”

“Kayak sekarang?” goda Sasa.

Awan hanya tersenyum.

Ngopi dan Bicara Rasa

Mereka duduk di sebuah kafe dekat Gereja Blenduk.

Dua cangkir kopi hangat tersaji.

“Awan…” Sasa membuka percakapan.
“Kamu itu sebenarnya orangnya gimana sih?”

Awan mengangkat alis.
“Maksudnya?”

“Kayak… kelihatannya tenang. Tapi kadang ngomongnya dalam banget.”

Awan tersenyum tipis.
“Mungkin aku cuma… nggak suka hal yang setengah-setengah.”

“Termasuk perasaan?” tanya Sasa pelan.

Awan diam sejenak.

“Iya.”

Suasana hening. Tapi bukan hening yang canggung—justru terasa penuh.

Rumah Akar – Awal yang Berani

Setelah dari kafe, mereka berjalan menuju Rumah Akar Kota Lama.

Lampu-lampu kota memantul di dinding tua yang dipenuhi akar-akar besar. Tempat itu terasa unik… sekaligus romantis.

“Awan… ini bagus banget,” ujar Sasa.

Awan mengangguk.
“Iya. Cocok buat foto.”

Sasa tertawa.
“Kamu jadi fotografer sekarang?”

“Boleh dong. Sini aku fotoin.”

Sasa berdiri di depan dinding akar.
Awan mengangkat ponsel, memotret.

Klik.

“Lihat,” kata Awan sambil mendekatkan layar.

Sasa mendekat. Jarak mereka kembali terlalu dekat.

“Bagus ya…” bisik Sasa.

“Iya,” jawab Awan pelan. “Yang difoto juga.”

Sasa terdiam.

Jantungnya mulai berdebar.

Percakapan yang Mengubah Segalanya

“Awan…” suara Sasa pelan.
“Kamu kenapa ngajak aku ke sini?”

Awan menarik napas dalam.

Ini saatnya.

“Aku capek pura-pura biasa aja, Sa.”

Sasa menatapnya.

“Aku suka kamu.”

Angin malam berhembus pelan, membawa suara kota yang jauh.

“Aku suka cara kamu mikir. Cara kamu belajar. Cara kamu lihat dunia…” lanjut Awan.

Sasa tidak berkata apa-apa.

“Aku tahu ini mungkin tiba-tiba. Tapi aku nggak mau nunggu sampai kamu pergi dari sini tanpa tahu perasaan aku.”

Hening.

Detik terasa panjang.

Lalu, perlahan, Sasa tersenyum.

“Aku kira… cuma aku yang ngerasa aneh akhir-akhir ini.”

Awan terkejut kecil.
“Maksudnya?”

Sasa menatapnya lembut.
“Aku juga suka kamu.”

Seolah dunia berhenti sejenak.

Momen yang Tak Terlupakan

Awan melangkah lebih dekat.

Perlahan… ia memeluk Sasa.

Sasa membalas pelukan itu tanpa ragu.

Hangat. Nyaman. Nyata.

Awan menatap wajah Sasa, lalu dengan lembut mencium pipinya.

Sasa tersenyum, sedikit malu, tapi tidak menjauh.

“Jadi…” kata Awan pelan.
“Kita?”

Sasa mengangguk kecil.
“Kita.”

Lampu Kota Lama terus menyala.

Bangunan tua tetap berdiri.

Dan di antara sejarah yang tak terhitung, malam itu—
di sudut Kota Lama Semarang

sebuah cerita baru lahir.

Cerita tentang dua orang yang menemukan rasa…
dan memilih untuk menjaganya bersama.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.