Langkah Sasa terhenti sejenak.
Napasnya tersengal, tangannya menekan dada, mencoba mengatur ritme yang sejak tadi terasa berantakan. Jalur pendakian menuju Merbabu via Wekas tidak seramah yang ia bayangkan.
“Awan…” suaranya pelan. “Istirahat bentar boleh?”
Awan yang berjalan beberapa langkah di depan langsung menoleh. Senyum tipis terlukis di wajahnya—tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu akrab dengan gunung.
“Boleh. Tapi jangan lama, nanti dingin keburu masuk ke badan,” jawabnya sambil meletakkan carrier.
Sasa duduk di batu, memandang kabut yang mulai turun perlahan. Ini pertama kalinya ia mendaki. Semua terasa asing, tapi juga… anehnya, menenangkan.
“Kamu serius sering naik gunung sendirian?” tanya Sasa.
Awan mengangguk. “Sering. Tapi kali ini beda.”
“Bedanya?”
Sasa terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Pos 2 – Malam yang Menghangatkan
Mereka tiba di Pos 2 saat langit mulai gelap. Angin berdesir cukup kencang, membawa dingin yang menembus jaket.
Tenda berdiri. Kompor kecil menyala. Aroma mie instan menguar, sederhana tapi terasa mewah di tengah alam.
Di dalam tenda, hanya ada cahaya lampu redup dan suara napas mereka yang mulai tenang.
“Iya?”
“Kalau aku nggak kuat sampai puncak gimana?”
Awan menatapnya. Tidak ada nada menghakimi. Hanya ketenangan.
“Kamu sudah sampai sini, Sa. Banyak orang bahkan nggak berani mulai.”
Sasa menunduk. “Aku takut gagal.”
Hening.
Angin di luar tenda terdengar semakin kencang. Tapi di dalam, suasana justru terasa hangat.
“Awan…” suara Sasa lebih pelan. “Kamu kenapa baik banget sama aku?”
Mata mereka bertemu.
Jarak yang sejak tadi terasa biasa, perlahan menjadi berbeda.
Awan menggenggam tangan Sasa. Hangat.
Sasa tidak menariknya.
Degup jantungnya terasa jelas, bahkan di telinganya sendiri.
Beberapa detik… atau mungkin menit… dunia seperti berhenti.
Awan menatap wajah Sasa, lalu dengan hati-hati, mencium pipinya.
Singkat. Lembut.
Sasa memejamkan mata.
Pagi dan Jembatan Setan
Fajar datang dengan warna keemasan.
Langit perlahan terbuka, memperlihatkan hamparan luas yang membuat Sasa terdiam takjub.
“Ini… indah banget…” bisiknya.
Awan hanya memperhatikan ekspresi Sasa. Baginya, pemandangan itu bukan lagi hal baru. Tapi melihatnya melalui mata Sasa—itu yang membuatnya terasa berbeda.
Perjalanan berlanjut hingga mereka sampai di Jembatan Setan.
Jalur sempit. Angin cukup kencang. Di kiri kanan jurang terbuka.
Sasa ragu.
“Awan… ini aman?”
Tanpa banyak pikir, Sasa menggenggam tangannya.
Langkah demi langkah mereka lalui bersama.
Jantung Sasa berdegup kencang—antara takut dan… sesuatu yang lain.
Saat sampai di ujung, Awan berhenti.
“Sa…”
Sasa menoleh. “Kenapa?”
Sasa terdiam.
“Aku mau jadi seseorang yang nemenin kamu… bukan cuma di gunung. Tapi di perjalanan lain juga.”
Angin berhembus, membawa rambut Sasa sedikit berantakan.
“Awan…”
Sunyi.
Detik terasa panjang.
Padang Edelweis
Hamparan edelweis terbentang luas.
Putih kekuningan, berdiri anggun, tak tersentuh.
Ia hampir memetik satu, tapi Awan menahan tangannya dengan lembut.
“Jangan.”
Sasa menoleh.
“Sini,” katanya. “Kita foto.”
Klik.
Bukan sekadar foto.
Tapi janji diam-diam—bahwa mereka akan menjaga apa yang baru tumbuh.
Puncak Kenteng Songo
Angin berhembus lebih kencang di puncak.
Langit terbuka luas.
Sasa menoleh, lalu tanpa ragu memeluk Awan.
Pelukan itu lebih erat dari sebelumnya.
Lebih pasti.
Awan membalas pelukan itu, lalu menatapnya sebentar—dan mencium pipinya sekali lagi, lebih berani, tapi tetap lembut.
Sasa tertawa kecil, sedikit malu.
Di atas puncak Merbabu, mereka tidak hanya menemukan tujuan.
Mereka menemukan satu sama lain.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.