Sunday, March 29, 2026

Di Antara Kabut dan Edelweis


Langkah Sasa terhenti sejenak.

Napasnya tersengal, tangannya menekan dada, mencoba mengatur ritme yang sejak tadi terasa berantakan. Jalur pendakian menuju Merbabu via Wekas tidak seramah yang ia bayangkan.

“Awan…” suaranya pelan. “Istirahat bentar boleh?”

Awan yang berjalan beberapa langkah di depan langsung menoleh. Senyum tipis terlukis di wajahnya—tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu akrab dengan gunung.

“Boleh. Tapi jangan lama, nanti dingin keburu masuk ke badan,” jawabnya sambil meletakkan carrier.

Sasa duduk di batu, memandang kabut yang mulai turun perlahan. Ini pertama kalinya ia mendaki. Semua terasa asing, tapi juga… anehnya, menenangkan.

“Kamu serius sering naik gunung sendirian?” tanya Sasa.

Awan mengangguk. “Sering. Tapi kali ini beda.”

“Bedanya?”

Awan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil.
“Karena ada kamu.”

Sasa terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Pos 2 – Malam yang Menghangatkan

Mereka tiba di Pos 2 saat langit mulai gelap. Angin berdesir cukup kencang, membawa dingin yang menembus jaket.

Tenda berdiri. Kompor kecil menyala. Aroma mie instan menguar, sederhana tapi terasa mewah di tengah alam.

Di dalam tenda, hanya ada cahaya lampu redup dan suara napas mereka yang mulai tenang.

Sasa memeluk lututnya.
“Awan…”

“Iya?”

“Kalau aku nggak kuat sampai puncak gimana?”

Awan menatapnya. Tidak ada nada menghakimi. Hanya ketenangan.

“Kamu sudah sampai sini, Sa. Banyak orang bahkan nggak berani mulai.”

Sasa menunduk. “Aku takut gagal.”

Awan mendekat sedikit.
“Di gunung… nggak ada yang namanya gagal. Yang ada cuma belajar kapan harus lanjut, kapan harus berhenti.”

Hening.

Angin di luar tenda terdengar semakin kencang. Tapi di dalam, suasana justru terasa hangat.

“Awan…” suara Sasa lebih pelan. “Kamu kenapa baik banget sama aku?”

Awan tersenyum tipis, lalu berkata pelan, hampir seperti bisikan:
“Mungkin karena… aku nggak pengen kamu ngerasa sendirian.”

Mata mereka bertemu.

Jarak yang sejak tadi terasa biasa, perlahan menjadi berbeda.

Awan menggenggam tangan Sasa. Hangat.

Sasa tidak menariknya.

Degup jantungnya terasa jelas, bahkan di telinganya sendiri.

Perlahan, Awan menarik Sasa ke dalam pelukannya.
Sasa bersandar, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Beberapa detik… atau mungkin menit… dunia seperti berhenti.

Awan menatap wajah Sasa, lalu dengan hati-hati, mencium pipinya.

Singkat. Lembut.

Sasa memejamkan mata.

Di luar, kabut menutup gunung.
Di dalam tenda, dua hati mulai terbuka.

Pagi dan Jembatan Setan

Fajar datang dengan warna keemasan.

Langit perlahan terbuka, memperlihatkan hamparan luas yang membuat Sasa terdiam takjub.

“Ini… indah banget…” bisiknya.

Awan hanya memperhatikan ekspresi Sasa. Baginya, pemandangan itu bukan lagi hal baru. Tapi melihatnya melalui mata Sasa—itu yang membuatnya terasa berbeda.

Perjalanan berlanjut hingga mereka sampai di Jembatan Setan.

Jalur sempit. Angin cukup kencang. Di kiri kanan jurang terbuka.

Sasa ragu.

“Awan… ini aman?”

Awan mengulurkan tangan.
“Pegang aku.”

Tanpa banyak pikir, Sasa menggenggam tangannya.

Langkah demi langkah mereka lalui bersama.

Jantung Sasa berdegup kencang—antara takut dan… sesuatu yang lain.

Saat sampai di ujung, Awan berhenti.

“Sa…”

Sasa menoleh. “Kenapa?”

Awan menarik napas dalam.
“Aku nggak mau cuma jadi teman pendakian kamu.”

Sasa terdiam.

“Aku mau jadi seseorang yang nemenin kamu… bukan cuma di gunung. Tapi di perjalanan lain juga.”

Angin berhembus, membawa rambut Sasa sedikit berantakan.

“Awan…”

Awan melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi tegas:

Sunyi.

Detik terasa panjang.

Sasa menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Aku juga…”

Padang Edelweis

Hamparan edelweis terbentang luas.

Putih kekuningan, berdiri anggun, tak tersentuh.

Sasa berlari kecil mendekat, matanya berbinar.
“Awan! Cantik banget…”

Ia hampir memetik satu, tapi Awan menahan tangannya dengan lembut.

“Jangan.”

Sasa menoleh.

“Edelweis itu bukan buat dimiliki,” kata Awan.
“Cukup dilihat… dijaga.”

Sasa tersenyum.
“Kayak perasaan?”

Awan ikut tersenyum.
“Iya. Kayak perasaan.”

Mereka berdiri berdampingan.
Awan mengeluarkan ponsel.

“Sini,” katanya. “Kita foto.”

Klik.

Bukan sekadar foto.

Tapi janji diam-diam—bahwa mereka akan menjaga apa yang baru tumbuh.

Puncak Kenteng Songo

Angin berhembus lebih kencang di puncak.

Langit terbuka luas.

Sasa memandang sekeliling, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Aku nggak nyangka… aku bisa sampai sini.”

Awan berdiri di sampingnya.
“Kamu hebat, Sa.”

Sasa menoleh, lalu tanpa ragu memeluk Awan.

Pelukan itu lebih erat dari sebelumnya.

Lebih pasti.

Awan membalas pelukan itu, lalu menatapnya sebentar—dan mencium pipinya sekali lagi, lebih berani, tapi tetap lembut.

Sasa tertawa kecil, sedikit malu.

Di atas puncak Merbabu, mereka tidak hanya menemukan tujuan.

Mereka menemukan satu sama lain.

Dan di antara kabut, angin, serta edelweis yang tetap abadi—
sebuah cerita baru dimulai.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.