Showing posts with label seleksi taruna nusantara. Show all posts
Showing posts with label seleksi taruna nusantara. Show all posts

Sunday, August 9, 2026

Ada yang tumbang. Ada yang muntah. Bahkan aku melihat muntahan berwarna kemerahan yang waktu itu langsung kupikir darah. Entah benar darah atau bukan, aku tidak tahu. Yang jelas, melihat itu sambil menunggu giliran lari 12 menit di tengah panasnya Stadion Diponegoro jelas bukan cara yang menyenangkan untuk mempersiapkan mental.

Dan sebentar lagi giliranku.



Pagi-Pagi Sudah Bermasalah dengan Telur Asin

Hari kedua dimulai jauh sebelum Subuh.

Kami harus bangun pagi sekali karena kalau tidak, bisa antre panjang untuk mandi. Pesertanya banyak, kamar mandi terbatas. Jadi sebelum orang lain bangun, sebisa mungkin kami sudah bangun duluan.

Selesai mandi, kemudian sarapan.

Menunya nasi dengan telur asin.

Nah, ini masalah buatku.

Mungkin agak aneh. Aku ini orang desa, lahir dan besar di Wonogiri, tetapi waktu itu aku belum pernah makan telur asin.

Aku coba.

Ternyata tidak doyan.

Bukan sekadar tidak suka. Rasanya benar-benar tidak bisa masuk ke mulutku. Mau muntah rasanya. Apalagi dimakan pagi-pagi.

Padahal hari itu tes samapta.

Kalau sedang mau ikut lomba lari dari rumah, urusan makan biasanya justru sangat kuperhatikan. Ini mau tes fisik seharian, sarapannya malah makanan yang tidak bisa kutelan.

Telur asinnya akhirnya tidak kumakan.

Tapi nasinya tetap kuhabiskan.

Jadilah pagi itu aku menghadapi tes samapta dengan modal nasi putih.

Jujur, bad mood juga.

Naik Truk ke Stadion Diponegoro

Seperti hari sebelumnya, setelah semuanya siap kami dibawa menggunakan truk-truk militer menuju Stadion Diponegoro.

Cuaca Semarang hari itu panas.

Seingatku lintasan stadion waktu itu masih keras, entah beton atau semen. Aku sudah tidak ingat persis bahannya. Yang masih kuingat justru panasnya. Matahari kena lintasan, panasnya seperti memantul lagi ke atas.

Sekitar jam 10 kami masih briefing.

Petugas menjelaskan tes yang harus dijalani: lari 12 menit, push-up, sit-up, squat jump, pull-up, kemudian shuttle run atau lari angka delapan sebanyak tiga putaran.

Hampir semuanya dilakukan berurutan dengan jeda yang tidak banyak.

Sebelum mulai, tinggi dan berat badan kami diukur lagi.

Kalau ingatanku tidak salah, waktu itu ada semacam patokan berat badan ideal: tinggi badan dikurangi 110.

Jadi kalau tingginya 165 cm, berat idealnya sekitar 55 kg.

Tentunya ada toleransi. Tidak harus persis angka itu. Tetapi berapa batas terlalu kurus atau terlalu gemuk, aku sudah lupa. Bisa jadi waktu itu kami juga memang tidak diberi tahu.

Begitu juga dengan nilai tes fisik.

Berapa kali push-up supaya aman?

Lari 12 menit harus dapat berapa meter?

Pull-up minimal berapa?

Kami tidak tahu.

Pokoknya lakukan semaksimal mungkin, nanti sore baru tahu hasilnya.

Menunggu Giliran Malah Bikin Makin Tegang

Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok, kalau tidak salah sekitar 15 orang setiap kelompok.

Aku kebagian kelompok keempat.

Awalnya mungkin terasa enak karena tidak langsung tes.

Ternyata tidak juga.

Karena belum mendapat giliran, aku justru bisa melihat apa yang terjadi pada kelompok sebelumnya.

Ada yang tumbang.

Ada yang awalnya lari kemudian sudah tidak kuat dan akhirnya jalan kaki.

Ada yang muntah.

Dan itu tadi, ada seorang peserta yang muntah dengan warna kemerahan. Dalam pikiranku waktu itu: muntah darah.

Sekali lagi, aku tidak tahu apakah benar darah. Itu hanya yang kulihat dan kupikirkan saat itu.

Tapi efeknya ke mental ya sama saja.

Aku yang sebentar lagi harus lari mulai membayangkan macam-macam.

Kelompok pertama selesai.

Kelompok kedua selesai.

Kelompok ketiga.

Matahari bukannya turun, malah semakin di atas kepala.

Kemudian kelompokku dipanggil.

Kalau tidak salah, sudah hampir jam 12 siang.

Dalam hati mungkin cuma bisa bilang:

Ya sudah. Ayo.

Dua Belas Menit di Tengah Hari

Begitu mulai lari, panasnya langsung terasa.

Matahari dari atas, lintasan panas dari bawah.

Tenaga rasanya cepat sekali terkuras.

Di situ aku malah teringat sarapan pagi.

Cuma nasi.

Biasanya kalau mau ikut lomba lari dari rumah, aku punya kebiasaan sendiri. Sarapan tentu aku usahakan cukup protein. Waktu itu aku juga biasa makan satu sampai tiga kuning telur setelah bangun tidur.

Aku merasa kalau persiapannya seperti itu tenaga jadi lebih enak.

Tapi ini bukan lomba yang bisa kusiapkan dari rumah.

Kami diasramakan.

Makan apa yang disediakan, ya itu yang dimakan.

Kalau tidak suka telur asin?

Ya nasinya saja.

Tidak ada pilihan lain.

Aku terus lari.

Alhamdulillah, setelah 12 menit selesai, hasilku ternyata tidak jelek.

Dari sekitar 15 orang dalam kelompok, aku nomor dua.

Lumayan lega.

Setidaknya latihan lari selama ini tidak sia-sia.

Tapi belum selesai.

43, 42, 52, 12

Setelah lari kami lanjut ke tes berikutnya.

Push-up.

43 kali dalam satu menit.

Sit-up.

42 kali.

Squat jump.

52 kali.

Pull-up.

12 kali.

Sekarang kalau mengingat angka-angka itu aku juga heran, kok dulu bisa ya?

Tapi umur masih belasan tahun. Badan ringan, aktivitas sehari-hari juga banyak bergerak. Jadi mungkin memang saat itu tubuh masih enak diajak macam-macam.

Setelah semuanya itu, masih ada shuttle run.

Nah, yang ini aku justru senang.

“Kijang dari Wonogiri”

Shuttle run itu lari pendek yang membutuhkan kecepatan dan kelincahan. Kami berlari membentuk angka delapan sebanyak tiga putaran.

Kalau lari jarak jauh mungkin aku masih harus mengatur tenaga.

Tapi kalau disuruh sprint, berbelok cepat, lalu sprint lagi, aku cukup percaya diri.

Waktu SMP aku pernah juara sprint dan lompat jauh.

Aku juga pemain sepak bola kampung. Terbiasa membawa bola sambil lari, meliuk ke kanan-kiri melewati rintangan. Jadi gerakan seperti itu sudah cukup akrab.

Aku jalani shuttle run secepat yang kubisa.

Entah karena waktuku memang bagus atau karena cara lariku kelihatan lincah, salah seorang tentara yang menjadi petugas tes nyeletuk memberi julukan:

“Kijang dari Wonogiri.”

Aku senang juga mendengarnya.

Setelah dari pagi berurusan dengan telur asin, panas, melihat orang muntah, lari 12 menit, lalu berbagai tes fisik, akhirnya ada juga bagian yang menyenangkan.

Sampai sekarang, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, julukan itu masih kuingat.

Tapi Lolos atau Tidak?

Kalau melihat hasil tes hari itu, sebenarnya aku cukup percaya diri.

Lari nomor dua di kelompok. Push-up, sit-up, squat jump, pull-up rasanya juga lumayan. Shuttle run malah sampai dapat julukan.

Masalahnya satu.

Kami tidak tahu standar kelulusannya.

Jadi sebagus apa pun perasaan kita setelah tes, tetap saja tidak bisa mengatakan:

“Aku pasti lolos.”

Jawabannya baru keluar sore hari menjelang Magrib.

Kami dikumpulkan lagi.

Seperti hari sebelumnya, beberapa nama dipanggil dan diminta maju satu langkah.

Namaku dipanggil.

Aku maju.

Dua teman dari Wonogiri juga dipanggil. Salah satunya Soni Maharbudi dari Wonogiri Kota. Satunya lagi dari Wuryantoro.

Namanya?

Aku benar-benar sudah lupa.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun. Jadi mohon dimaklumi kalau ada nama-nama yang sudah hilang dari ingatan.

Kami bertiga maju satu langkah.

Tiga teman lainnya tidak dipanggil.

Nah, masalahnya muncul lagi.

Yang maju ini lolos atau tidak lolos?

Karena sehari sebelumnya, yang dipanggil maju justru mereka yang tidak lolos.

Kalau aturannya masih sama, berarti aku gagal.

Panitia bukannya segera menjawab, malah menjelaskan tes berikutnya.

Besok, bagi yang lolos akan mengikuti tes psikologi. Kemudian hari keempat akan dilanjutkan tes akademik.

Kami masih berdiri.

Lolos atau tidak?

Tunggu dulu.

Setelah beberapa penjelasan selesai, barulah diumumkan.

Hari itu ternyata berbeda dengan hari sebelumnya.

Yang dipanggil maju satu langkah adalah yang lolos.

Alhamdulillah.

Rasanya lega.

Berarti besok aku masih boleh melanjutkan perjalanan ini.

Masih ada tes psikologi.

Dan kalau lolos lagi, masih ada tes akademik.

Perjalanan masuk Taruna Nusantara ternyata masih panjang.

Refleksi

Kalau sekarang mengingat hari itu, yang paling membekas justru bukan angka 43 push-up, 42 sit-up atau hasil lari nomor dua.

Aku malah ingat telur asin yang tidak bisa kumakan. Ingat panasnya lintasan Stadion Diponegoro. Ingat melihat peserta lain tumbang sebelum giliranku. Dan tentu saja masih ingat julukan “Kijang dari Wonogiri.”

Mungkin memang begitu cara ingatan bekerja.

Yang tertinggal setelah puluhan tahun bukan selalu hal-hal besar.

Tapi dari hari itu aku belajar sesuatu yang baru kusadari setelah jauh lebih tua: kita tidak selalu mendapat kondisi ideal ketika harus memberikan kemampuan terbaik.

Kadang persiapannya kurang. Kadang situasinya tidak sesuai harapan. Kadang mental kita sudah dibuat jatuh bahkan sebelum mulai.

Tapi ketika waktunya tiba, ya dijalani saja.

Hari itu aku tidak merasa sedang belajar filosofi hidup.

Aku cuma anak Wonogiri yang ingin lolos seleksi Taruna Nusantara.

Dan siang itu, tugasku sederhana:

lari sekuat yang aku bisa.


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata