Wednesday, August 12, 2026

Malam semakin larut ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti.

Sejak tadi sebenarnya ramai. Cerita ke mana-mana. Dari pekerjaan, pengalaman naik gunung, sampai cerita-cerita aneh yang entah kenapa selalu lebih menarik kalau dibicarakan saat camping.

Tapi ketika semuanya diam, suasananya langsung berubah.

Suara serangga yang sebelumnya kalah oleh obrolan kami mendadak terdengar jelas. Angin sesekali menggerakkan daun. Di luar tempat kami duduk, gelap.

Dan malam itu kebetulan Malam 1 Suro.




Aku sudah cukup sering tidur di tenda. Malam di alam bukan sesuatu yang asing. Tapi tetap saja, camping pada Malam 1 Suro punya rasa yang sedikit berbeda.

Apalagi setelah tadi ada yang mulai cerita macam-macam.

Untung keheningan itu nggak berlangsung lama. Entah siapa yang memulai, kami kembali ngobrol dan tertawa.

Malam berjalan seperti biasa.

Tapi justru bagian ketika semuanya sempat diam itulah yang sampai sekarang masih kuingat.

Lucunya, beberapa hari sebelumnya perjalanan ini bahkan belum ada.

Semua cuma gara-gara obrolan iseng di kantor.

Harusnya Cuma Jadi Wacana

Awalnya aku ngobrol santai dengan anak-anak magang.

Entah bagaimana ceritanya, muncul ide untuk camping.

Ide seperti ini sebenarnya sering muncul. Apalagi kalau yang ngobrol sama-sama suka jalan. Masalahnya, sebagian besar biasanya berhenti sebagai wacana.

Besoknya sudah sibuk lagi.

Lupa.

Tapi yang satu ini ternyata berlanjut.

Obrolan di kantor kubawa ke chat WhatsApp anak-anak Kapala. Bukannya mereda, malah semakin serius.

Mulai bicara siapa yang ikut.

Kapan berangkat.

Mau camping di mana.

Sampai akhirnya kami sadar waktunya bertepatan dengan Malam 1 Suro 2023.

Sempat juga terpikir soal waktunya.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam 1 Suro punya makna khusus. Ada yang mengisinya dengan doa, tirakat, atau menjalankan tradisi tertentu.

Kami tentu menghormati itu.

Kami sendiri cuma ingin camping. Nggak ada ritual atau kegiatan khusus. Sekadar ingin berkumpul, tidur di tenda dan menikmati malam di alam.

Akhirnya dipilihlah Desa Wisata Kandri.

Nggak jauh dari Semarang.

Persiapannya juga nggak ribet.

Yang penting perlengkapan cukup, logistik ada, dan orang-orangnya benar-benar jadi berangkat.

Sampai Kandri, Baru Terasa Ini Bukan Lagi Wacana

Kami menuju camping ground di Omah Pintar Petani Kandri.

Begitu sampai, aku langsung suka dengan suasananya.

Tempatnya nggak terlalu luas. Ada pepohonan, tanah lapang, kolam dan suasana desa yang masih terasa.

Aku memang selalu nyaman dengan tempat seperti ini.

Nggak harus gunung tinggi.

Nggak harus masuk hutan jauh.

Kadang cukup berada di tempat di mana suara kendaraan mulai berkurang dan udara terasa berbeda, sudah membuatku senang.

Barang diturunkan.

Tenda mulai dikeluarkan.

Dan dimulailah salah satu ritual paling menarik kalau camping dilakukan ramai-ramai:

mendirikan tenda.

Selalu ada yang serius bekerja.

Ada yang memegang tiang.

Ada yang mengurus tali.

Ada yang membantu ini-itu.

Dan seperti biasa, ada juga yang kelihatannya sibuk sekali, mondar-mandir ke sana kemari, tetapi kontribusinya sulit dijelaskan.

Nggak apa-apa.

Yang penting akhirnya tenda berdiri.

Begitu semua perlengkapan masuk, baru terasa:

Oh, jadi camping beneran.

Bukan wacana lagi.

Malam 1 Suro Itu Akhirnya Benar-Benar Datang

Menjelang malam, Kandri perlahan berubah.

Udara mulai lebih dingin.

Suara aktivitas manusia berkurang.

Yang tadinya nggak terdengar mulai muncul satu per satu.

Serangga.

Angin.

Daun.

Suara dari kejauhan yang nggak selalu jelas apa.

Kami berkumpul dan ngobrol.

Nggak ada agenda.

Nggak ada acara khusus.

Memang sejak awal tujuan kami cuma ingin menikmati malam.

Obrolannya pun bebas.

Kadang serius.

Lebih sering nggak serius.

Ngomongin pekerjaan, pengalaman naik gunung, kejadian-kejadian lama, sampai akhirnya masuk juga ke cerita-cerita yang sedikit menyerempet mistis.

Entah kenapa orang kalau camping punya kebiasaan aneh.

Sudah tahu tempatnya gelap.

Sudah tahu tidurnya di tenda.

Sudah tahu malam itu 1 Suro.

Masih saja membicarakan yang begituan.

Tapi justru suasana seperti itulah yang membuat malam terasa hidup.

Ada saat kami tertawa keras.

Lalu beberapa menit kemudian obrolan berhenti begitu saja.

Dan ketika kami diam, suara alam seperti mengambil alih.

Aku suka bagian itu.

Di kantor, rasanya kepala selalu punya pekerjaan.

Kalau pekerjaan selesai, ada ponsel.

Kalau ponsel diletakkan, kadang pikiran sendiri yang belum mau berhenti.

Di situ berbeda.

Aku cuma duduk bersama teman-teman.

Nggak melakukan sesuatu yang penting.

Nggak menghasilkan apa-apa.

Dan ternyata rasanya enak.

Mungkin memang itu yang sedang kubutuhkan.

Pagi Selalu Membongkar Romantisme Camping

Paginya aku bangun dengan badan agak pegal.

Nah, ini bagian camping yang jarang terlihat di foto.

Kalau melihat foto orang camping, semuanya kelihatan indah. Tenda di antara pepohonan, udara pagi, orang duduk santai.

Yang nggak ikut terfoto adalah punggung dan pinggang setelah semalaman tidur di atas matras.

Tapi begitu tenda dibuka, keluhan itu biasanya cepat terlupakan.

Udara pagi Kandri masih segar.

Suasananya tenang.

Dan pagi itu kami bertemu dengan sesuatu yang sangat tepat untuk kondisi orang habis tidur di tenda:

bubur ala Kandri.

Hangat.

Gurih.

Sederhana.

Aku nggak tahu apakah memang buburnya seenak itu atau kami sedang lapar.

Yang jelas, pagi itu rasanya pas sekali.

Lalu Kami Berharap pada Ikan

Setelah sarapan, acara bergeser ke kolam.

Mancing.

Kalau dipikir-pikir, memancing itu aktivitas yang agak ajaib.

Orang yang biasanya lima menit menunggu saja sudah gelisah, kalau sudah memegang pancing bisa duduk lama menatap satu titik.

Pelampung bergerak sedikit, langsung waspada.

Ditarik.

Kadang ada ikan.

Kadang cuma umpan yang hilang.

Masalahnya, ikan hasil pancingan ini bukan sekadar untuk kesenangan.

Rencananya mau kami masak.

Jadi keberhasilan memancing mulai punya hubungan dengan makan siang.

Untung kami punya rencana yang lebih masuk akal daripada sekadar berharap pada ikan.

Empat perempuan—dua dari Kapala dan dua anak magang—berangkat ke pasar membeli bahan untuk memasak.

Sementara empat laki-laki—dua Kapala dan dua anak magang—tinggal di camping ground.

Tugas kami terdengar sederhana:

mencari kayu dan menyiapkan api.

Asap Selalu Tahu Posisi Mata

Kayu dikumpulkan.

Tempat memasak disiapkan.

Api mulai dinyalakan.

Di sinilah kegiatan sederhana mulai terasa tidak sesederhana kelihatannya.

Ada kayu yang cepat terbakar.

Ada yang lebih banyak menghasilkan asap.

Ditiup dari satu sisi, asap masuk mata.

Pindah posisi.

Angin berubah.

Asap ikut pindah.

Entah kenapa kalau memasak dengan kayu, asap seperti tahu persis di mana manusia sedang berdiri.

Mata pedih.

Geser lagi.

Tapi lama-lama api stabil juga.

Ketika teman-teman dari pasar kembali, suasana berubah menjadi dapur terbuka.

Bahan dikeluarkan.

Bumbu mulai diracik.

Ikan dibersihkan.

Kemudian masuk ke atas bara.

Beberapa menit kemudian aroma ikan bakar mulai tercium.

Dan aroma seperti itu punya kemampuan memanggil orang.

Yang tadi duduk jauh mulai mendekat.

Yang tadinya belum lapar mulai melihat-lihat.

Semua menunggu ikan matang.

Ada yang hasil bakarnya bagus.

Ada bagian yang sedikit terlalu lama kena api.

Nggak masalah.

Kami bukan sedang buka restoran.

Begitu siap, kami makan bersama.

Nggak ada plating.

Nggak ada meja makan yang rapi.

Nggak ada yang sibuk menilai tampilannya.

Makan pakai tangan, ngobrol, saling komentar, kemudian nambah lagi.

Anehnya, sampai sekarang aku bahkan nggak ingat persis bumbunya seperti apa.

Tapi aku ingat suasananya.

Asapnya.

Orang-orangnya.

Dan ramainya makan siang itu.

Mungkin memang ada makanan yang kita ingat karena rasanya.

Ada juga makanan yang kita ingat karena cerita sebelum makanan itu sampai ke mulut.

Harusnya Selesai, Tapi Kami Belum Mau Pulang

Selesai makan, sebenarnya rangkaian camping kami sudah cukup.

Kalau mau langsung beres-beres dan pulang juga bisa.

Tapi rasanya masih terlalu cepat.

Akhirnya perjalanan berlanjut ke Waduk Jatibarang.



Kalau sejak malam sebelumnya suasana kami didominasi ngobrol santai, udara dingin dan suara alam, di waduk semuanya berubah.

Kami naik speedboat.

Begitu mesin menyala dan perahu mulai melaju kencang, ketenangan tadi langsung hilang.

Angin menghantam wajah.

Air sesekali muncrat.

Perahu membelah waduk.

Dan tentu saja...

teriakan mulai terdengar.

Ada yang menikmati.

Ada yang tertawa.

Ada yang terlihat santai, meskipun tangannya tetap erat memegang.

Aku melihat ke sekeliling.

Air Waduk Jatibarang terbentang luas dengan perbukitan di sekitarnya.

Langit sudah mulai menuju sore.

Anginnya kencang.

Aku menikmati pemandangan itu.

Aku memang suka melihat bentang alam yang luas. Gunung, laut, waduk, sawah—entah kenapa selalu ada rasa lega ketika melihatnya.

Nggak perlu dicari maknanya terlalu jauh.

Sore itu aku cuma merasa senang.

Dan rasanya memang cukup.

Bagian yang Selalu Ingin Ditunda

Tapi perjalanan tetap harus selesai.

Kami kembali ke camping ground dan mulai membereskan barang.

Ini bagian yang paling malas kulakukan setiap camping.

Melipat tenda.

Bukan karena sulit.

Tapi ketika pasak mulai dicabut dan tenda mulai dilipat, rasanya seperti ada pengumuman tidak tertulis:

sudah, waktunya kembali.

Barang dicek.

Sampah dikumpulkan.

Area yang kami gunakan dibersihkan lagi.

Pelan-pelan tempat yang sejak kemarin dipenuhi suara kami kembali sepi.

Baru saat itulah capek mulai terasa.

Semalam kurang tidur nyaman.

Pagi memancing.

Cari kayu.

Kena asap.

Masak.

Makan.

Naik speedboat.

Sekarang tinggal pulang.

Tapi justru ketika semua selesai, rasanya sayang juga.

Padahal cuma semalam.

Padahal Kandri nggak jauh.

Ternyata yang Paling Lama Tinggal Justru Hal-Hal Receh

Beberapa hari kemudian semuanya kembali seperti biasa.

Anak-anak magang kembali dengan kegiatannya.

Teman-teman Kapala kembali dengan urusan masing-masing.

Aku juga kembali ke pekerjaan.

Camping selesai.

Tapi anehnya, ketika sekarang mengingat perjalanan itu, yang muncul bukan sesuatu yang spektakuler.

Justru potongan-potongan kecil.

Orang yang kelihatannya paling sibuk ketika mendirikan tenda.

Obrolan Malam 1 Suro yang tiba-tiba berhenti.

Suara serangga ketika kami diam.

Bangun dengan badan pegal.

Bubur hangat.

Menunggu ikan.

Asap yang masuk mata.

Ikan bakar.

Makan ramai-ramai.

Angin yang menghantam muka di atas speedboat.

Lalu rasa malas ketika harus melipat tenda.

Hal-hal kecil yang waktu itu terasa biasa saja.

Tapi rupanya justru itu yang tertinggal.

Aku sudah cukup sering pergi ke alam dan semakin lama semakin sadar bahwa aku nggak selalu membutuhkan perjalanan jauh.

Nggak harus selalu mendaki gunung.

Nggak harus menemukan tempat baru.

Kadang aku cuma perlu keluar sebentar dari rutinitas.

Tidur di tenda.

Ngobrol sampai malam.

Bangun pagi.

Makan bersama.

Lalu pulang.

Hidup setelah itu tetap sama.

Pekerjaan masih ada.

Rutinitas juga menunggu.

Tapi setidaknya kepala terasa sedikit lebih ringan.

Dan sampai sekarang aku masih ingat malam ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti itu.

Suara serangga terdengar jelas.

Angin melewati pepohonan.

Kami duduk di tengah gelapnya Kandri pada Malam 1 Suro.

Padahal semua itu bermula dari obrolan iseng di kantor yang seharusnya bisa saja berakhir sebagai wacana.

Untung waktu itu kami jadi berangkat.

Sebab ternyata, beberapa perjalanan yang paling enak dikenang memang tidak pernah direncanakan untuk menjadi istimewa.


11 Oktober 2024 sore, saya masih berdiri di depan empat orang dewan juri untuk mempresentasikan inovasi. Saya tidak tahu bahwa itu ternyata menjadi beberapa jam terakhir saya bertahan tanpa hemodialisis. 

Tengah malam, ketika seluruh keluarga sudah tidur, saya membangunkan istri. “Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.” Kompetisi itu belum mengumumkan siapa pemenangnya. Tetapi malam itu tubuh saya seperti lebih dulu memberi keputusan: sudah cukup, saya tidak bisa menunda lagi.


Ceritanya sebenarnya dimulai beberapa bulan sebelumnya.

Saya Tahu Kondisinya Sudah Berat, tetapi Belum Siap

Juli 2024, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kreatinin saya 9,55.

Sebenarnya tanpa melihat angka laboratorium pun saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh. Mual hampir selalu ada. Kepala terasa berat, bukan sekadar pusing sebentar lalu hilang. Kadang kalau berjalan atau naik kendaraan badan terasa agak goyah, seperti kehilangan keseimbangan.

Makan juga mulai tidak enak. Bukan makanannya yang tidak enak, memang saya yang tidak berselera. Tetapi saya tetap berusaha makan sebisanya karena tahu tubuh tetap membutuhkan tenaga.

Badan semakin kurus dan wajah pucat. Justru orang-orang di sekitar yang sering mengingatkan.

“Kok tambah kurus?”

“Kok pucat terus?”

Saya biasanya hanya menjawab seadanya.

Dokter waktu itu sudah menyarankan saya ke unit hemodialisis RS Dr. Kariadi. Saya menolak.

Bukan karena saya tidak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi. Saya sudah tahu fungsi ginjal saya sangat buruk. Saya juga tahu kemungkinan suatu saat harus menjalani terapi pengganti ginjal semakin besar.

Tetapi tahu dan siap ternyata dua hal yang berbeda.

Saya belum siap.

Saya masih ingin mencoba pengobatan dan berharap kondisi bisa membaik. Selain tetap berobat secara medis, sepanjang Mei, Juni sampai Juli saya juga mencoba macam-macam. Akupunktur, herbal, pijat, sampai terapi menggunakan alat penyinaran yang diklaim sebagai terapi medis dan ada dokternya.

Saya jalani saja.

Hasilnya tidak banyak berubah.

Saya masih bisa bekerja, masih masuk kantor, masih melakukan aktivitas sehari-hari. Jadi waktu itu rasanya seperti belum benar-benar sakit berat.

Padahal kalau dipikir sekarang, sebenarnya saya bukan membaik.

Saya cuma masih bisa bertahan.

Malah Ditugaskan Ikut Kompetisi

Akhir Juli 2024, di tengah kondisi seperti itu saya mendapat tugas mengikuti kompetisi ASN Inovatif.

Kalau sedang sehat, kegiatan seperti ini justru sesuatu yang saya sukai. Ada gagasan, problem solving, strategi, inovasi, kemudian mempertanggungjawabkan apa yang kita pikirkan.

Masalahnya, saat itu berpikir saja sudah melelahkan.

Tahapan kompetisinya cukup panjang. Tes tertulis CAT, kemudian 20 besar mengikuti psikotes dan wawancara. Setelah itu dipilih lima besar untuk final dan mempresentasikan karya inovasinya.

Yang paling saya khawatirkan bukan sulit atau tidaknya soal.

Saya khawatir tidak kuat duduk dan berkonsentrasi lama.

Dalam kondisi mual dan kepala berat seperti itu, sekitar 15 menit berpikir serius saja saya sudah ingin berhenti.

Waktu CAT kurang lebih dua jam.

Dua jam?

Saya tahu tidak mungkin.

Akhirnya saya membuat cara sendiri. Begitu membaca soal, saya tidak memberi kesempatan terlalu lama kepada otak untuk menganalisis. Apa jawaban pertama yang muncul dan menurut saya paling masuk akal, itu yang saya pilih.

Baca, tangkap maksudnya, jawab, lanjut.

Begitu terus.

Saya seperti melakukan scanning soal.

Sekitar 30 menit saya sudah keluar dari ruangan.

Bukan karena merasa pintar atau yakin semua jawaban benar. Saya cuma ingin seluruh soal selesai sebelum konsentrasi saya benar-benar habis.

Awal Agustus hasilnya diumumkan.

Ternyata saya lolos.

Bahkan berada di urutan kelima dari 20 peserta.

Alhamdulillah.

Psikotes Seharian, Saya Harus Cari Cara Lain Lagi

Pertengahan Agustus giliran psikotes dan wawancara.

Kali ini hampir seharian.

Kalau CAT masih bisa saya selesaikan cepat, psikotes tidak mungkin saya perlakukan dengan cara yang sama. Ada beberapa tahapan yang memang harus dijalani sampai selesai.

Akhirnya saya mengatur tenaga sebisanya.

Selesai satu sesi problem solving, kalau kepala mulai terasa berat, saya keluar sebentar. Cuci muka. Kadang minum kopi di luar ruangan.

Agak enakan, masuk lagi.

Nanti mulai berat lagi, keluar lagi.

Begitu berkali-kali.

Saya memang sudah menyampaikan kepada panitia bahwa kondisi saya sedang tidak fit, sehingga kadang harus keluar sebentar.

Pada sesi wawancara, saya juga tidak terlalu memikirkan jawaban seperti apa yang kira-kira paling disukai pewawancara. Saya jawab saja sesuai dengan idealisme saya sebagai PNS dan berdasarkan apa yang memang selama ini saya kerjakan.

Yang penting bagi saya jangan menjatuhkan teman dan jangan mendiskreditkan institusi sendiri.

Selebihnya saya cerita tentang apa yang biasa saya lakukan, hal-hal yang pernah saya inisiasi, bagaimana saya melihat persoalan di pekerjaan, dan apa yang menurut saya bisa dilakukan.

Menjelang sore masuk sesi role play dan problem solving kelompok.

Nah, di sini tenaga saya sudah benar-benar menipis.

Saya sebenarnya bisa saja mengambil peran lebih dominan. Tetapi saya berpikir, kalau terlalu banyak mengambil peran, jangan-jangan di tengah jalan energi habis dan pikiran malah blank.

Jadi saya sengaja memilih menjadi semacam katalis.

Saya dengarkan usulan teman-teman. Kalau ada yang menurut saya paling logis, saya dukung, lalu saya tambahkan argumentasi atau sudut pandang supaya usulan itu lebih komprehensif.

Saya tetap ikut memberi warna dalam diskusi, tetapi tidak perlu mengeluarkan energi sebesar kalau harus menjadi orang yang mengendalikan kelompok.

Setelah selesai ya sudah.

Tinggal menunggu lagi.

Akhir September pengumumannya keluar.

Saya masuk lima besar.

Ide Masih Banyak, tetapi Kepala Sudah Sulit Diajak Kerja Sama

Lima finalis diminta membuat makalah inovasi. Nantinya makalah itu harus dipresentasikan di depan dewan juri.

Di sinilah saya mulai benar-benar kesulitan.

Sebenarnya bahan saya banyak. Ide juga banyak.

Biasanya kalau menulis sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan, saya bisa duduk sendiri di depan laptop. Buka referensi online, buka buku, membaca data, lalu mengembangkan ide ke mana-mana.

Kali ini tidak bisa.

Saya duduk di depan laptop, tetapi otak seperti mentok.

Apalagi kalau mualnya sedang berat sampai muntah. Kepala pusing, badan lemas, kadang keluar keringat dingin. Mau memikirkan hubungan satu gagasan dengan gagasan berikutnya saja rasanya berat sekali.

Akhirnya saya meminta bantuan salah satu staf.

Saya memang punya banyak ide dan tema tulisan terkait pekerjaan yang selama ini belum sempat dikembangkan. Salah satunya saya ambil untuk bahan kompetisi.

Saya jelaskan kepada staf saya kerangka berpikirnya. Paragraf-paragraf penting saya arahkan. Data apa yang perlu dimasukkan, urutannya bagaimana, logikanya mau dibawa ke mana, saya jelaskan satu per satu. Kemudian dia membantu menyusunnya menjadi makalah.

Makalahnya selesai.

Tapi saya tidak puas.

Rasanya masih ingin saya koreksi lagi. Ada bagian yang ingin saya tambah, ada logika yang menurut saya masih bisa diperdalam, ada ide lain yang ingin dimasukkan.

Biasanya saya akan bongkar lagi sampai merasa cukup.

Kali ini tidak sanggup.

Saya tahu kepala saya sudah tidak bisa dipaksa.

Akhirnya makalah itu saya kirim.

Saya berpikir, sudahlah. Saya simpan tenaga untuk presentasi.

Saya lebih yakin bisa menjelaskan inovasi secara langsung daripada berharap juri membaca seluruh makalah secara mendalam.

Materi presentasi saya buat sendiri.

Tidak banyak.

Saya bikin simpel dan ringkas, yang penting alur pikir inovasinya jelas dan logikanya mengalir.

11 Oktober 2024

Final dijadwalkan tanggal 11 Oktober 2024.

Saat itu kondisi saya sudah jauh berbeda dibandingkan ketika mengikuti CAT.

Pemeriksaan laboratorium bulan Oktober menunjukkan kreatinin sekitar 18 dan eGFR sekitar 5 persen.

Mual semakin berat. Kepala pusing. Badan lemas. Wajah pucat. Kadang kalau berjalan rasanya masih seperti kehilangan keseimbangan.

Ada satu hal lagi yang waktu itu sangat mengganggu.

Mulut saya kering dan lengket.

Kalau habis berbicara satu-dua kalimat, lidah dan tenggorokan rasanya lengket sekali.

Saya sampai berpikir, ini nanti bagaimana presentasinya?

Akhirnya saya membawa sebotol kecil Aqua.

Sebelum mulai saya meminta izin kepada dewan juri. Saya bilang kondisi saya sedang sakit, jadi selama presentasi mungkin saya perlu sesekali minum.

Giliran saya pukul 15.45.

Dewan jurinya empat orang, dari BKPP, Bappeda, Inspektorat, dan Undip.

Presentasi diberi waktu 10 menit, kemudian tanya jawab 35 menit.

Presentasinya bisa saya selesaikan.

Masalah justru terjadi saat tanya jawab.

Entah kenapa sore itu saya seperti sulit mengendalikan pikiran sendiri. Mungkin karena kondisi badan memang sudah buruk sekali.

Saya malah berdebat dengan salah seorang juri.

Dia menyampaikan sesuatu, saya bantah.

Dijawab lagi, saya debat lagi.

Begitu terus.

Kalau sekarang saya ingat-ingat malah agak lucu juga. Saya sudah capek setengah mati, tetapi entah dapat energi dari mana malah dipakai untuk berdebat.

Dan parahnya, seperti tidak bisa direm.

Sekitar 25 menit mungkin habis hanya dengan satu juri.

Padahal masih ada tiga juri lainnya.

Secara strategi jelas rugi. Seharusnya waktu itu bisa digunakan agar semua juri mengeksplorasi inovasi saya dari sudut pandang masing-masing.

Tetapi ya itulah yang terjadi.

Selesai sesi itu saya tidak tahu apakah penampilan saya bagus atau malah berantakan.

Saya juga sudah terlalu lelah untuk memikirkannya.

Yang penting final selesai.

Tinggal menunggu pengumuman.

Ternyata saya tidak sempat lama-lama memikirkan hasil kompetisi.

Tengah Malam Saya Membangunkan Istri

Malam tanggal 11 Oktober kondisi saya semakin berat.

Sekitar pukul 00.00, seluruh keluarga sudah tidur.

Saya sudah tidak tahan.

Akhirnya saya membangunkan istri.

“Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.”

Malam itu saya masuk IGD rumah sakit terdekat.

Kemudian saya dimasukkan ke ICCU untuk memperbaiki kondisi. Tanggal 14 Oktober tengah malam saya dirujuk ke RSND karena di sana tersedia fasilitas hemodialisis.

Tanggal 15 Oktober saya masuk bangsal dan dijadwalkan menjalani HD.

Saat itu saya belum mempunyai akses untuk hemodialisis. Saya meminta dipasang akses terlebih dahulu.

Tanggal 16 Oktober pagi dilakukan pemasangan CDL.

Sekitar satu jam setelah selesai tindakan, saya langsung masuk ruang hemodialisis.

Untuk pertama kalinya saya menjalani cuci darah.

Yang Saya Takutkan Malah Bukan Hemodialisisnya

Sebenarnya saya sudah punya waktu sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan mental sejak dokter pertama kali meminta saya menjalani HD.

Saya merasa sudah cukup siap.

Ternyata begitu benar-benar berada di sana, tetap saja ada rasa takut dan bingung.

Lucunya, yang memenuhi kepala saya malah bukan soal mesin HD.

Saya justru berpikir sebagai kepala keluarga.

Kalau sekarang saya harus HD rutin, apakah saya masih bisa bekerja?

Kalau tidak bisa bekerja bagaimana?

Apakah saya masih bisa menghidupi keluarga?

Berapa lama saya bisa bertahan?

Nanti di kantor saya seperti apa?

Apakah saya masih bisa melakukan pekerjaan yang selama ini biasa saya lakukan?

Pertanyaannya ke mana-mana.

Dua hari kemudian saya diperbolehkan pulang.

Begitu sampai rumah, teman, tetangga, dan sahabat mulai berdatangan menjenguk.

Banyak yang benar-benar kaget.

Mungkin karena mereka mengenal saya sebagai orang yang aktif. Saya suka olahraga. Saya juga masih suka mendaki gunung.

Tiba-tiba sekarang gagal ginjal kronis dan harus menjalani hemodialisis.

“Kok bisa?”

Ya bisa.

Saya sendiri sebenarnya punya riwayat hipertensi sudah puluhan tahun. Dan kalau mau jujur, selama bertahun-tahun saya memang kurang memperhatikannya. Saya tidak berobat secara rutin.

Itu fakta yang tidak bisa saya hindari.

Seminggu setelah pulang dari rumah sakit saya mulai masuk kerja lagi.

Kondisinya tentu belum normal.

Jalan sedikit kadang ngos-ngosan. Badan gampang lemas. Sesekali seperti kehilangan keseimbangan.

Kalau merasa tidak kuat membawa kendaraan sendiri, saya berangkat atau pulang menggunakan GrabCar.

Pelan-pelan saya mencoba mengenali tubuh saya lagi.

Setidaknya satu ketakutan yang muncul ketika pertama kali menjalani HD mulai terjawab.

Saya ternyata masih bisa masuk kantor.

Masih bisa bekerja.

Walaupun caranya sudah tidak sama.

Pengumuman yang Sempat Terlupakan

Hampir sebulan setelah final, tepatnya 13 November 2024, hasil kompetisi ASN Inovatif akhirnya diumumkan.

Terus terang saat itu kompetisi tersebut sudah tidak terlalu memenuhi pikiran saya.

Dalam waktu kurang dari sebulan hidup saya berubah cukup banyak. Dari berdiri di depan dewan juri, masuk IGD, dirawat di ICCU, dipasang CDL, menjalani HD pertama, pulang, kemudian belajar masuk kerja lagi.

Makanya saya juga tidak terlalu berani berharap dengan hasil lombanya.

Makalah saya sendiri menurut saya belum maksimal.

Saat final saya malah menghabiskan banyak waktu berdebat dengan satu juri.

Jadi ketika pengumumannya keluar, saya cukup kaget.

Saya mendapat peringkat III ASN Inovatif.

Hadiahnya Rp10 juta.

Alhamdulillah.

Saya sujud syukur.

Setelah itu saya malah berpikir sederhana saja.

Lumayan. Bisa buat tambah-tambah biaya perjalanan ke rumah sakit untuk HD.

Saya Baru Mengerti Arti Bertahan

Kalau mengingat kembali beberapa bulan itu, saya kadang merasa semuanya berlangsung cepat sekali.

Juli saya masih menolak ketika diarahkan ke unit HD.

Agustus saya masih sibuk mencari cara supaya bisa menyelesaikan psikotes.

September masih memikirkan makalah.

Tanggal 11 Oktober sore masih berdebat dengan juri.

Malamnya masuk IGD.

Lima hari kemudian saya sudah berbaring di ruang hemodialisis.

Dan sebulan kemudian mendapat kabar menjadi peringkat tiga ASN Inovatif.

Dulu saya mungkin menganggap bertahan itu artinya harus kuat. Kalau ada masalah ya dilawan. Kalau ada pekerjaan ya diselesaikan sendiri sebaik mungkin.

Ternyata ketika sakit, saya belajar bahwa tidak semuanya bisa dilakukan seperti itu.

CAT harus saya kerjakan dengan cara berbeda. Saat role play saya harus tahu diri dan menghemat energi. Makalah yang biasanya ingin saya kerjakan sendiri akhirnya harus dibantu staf. Ketika tidak kuat membawa kendaraan, saya naik GrabCar. Dan ketika ginjal saya sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, akhirnya saya juga harus menerima bantuan mesin hemodialisis.

Tidak semuanya berjalan seperti yang saya inginkan.

Sampai sekarang pun kalau mengingat makalah kompetisi itu, rasanya masih ada bagian yang ingin saya perbaiki. Kalau mengingat sesi tanya jawab, saya masih berpikir seharusnya waktu 35 menit itu bisa saya gunakan lebih baik.

Tetapi mungkin memang itu kemampuan terbaik saya pada saat itu.

Dan saya akhirnya mulai berdamai dengan kalimat itu.

Bukan berarti berhenti berusaha. Saya hanya mulai paham bahwa meminta bantuan, mengurangi kecepatan, atau mengubah cara bukan berarti kita kalah.

Peringkat tiga itu tentu membuat saya senang. Hadiah Rp10 juta juga sangat saya syukuri.

Tetapi yang paling saya ingat dari masa itu justru bukan ketika nama saya diumumkan sebagai pemenang.

Yang paling saya ingat adalah malam ketika saya membangunkan istri dan akhirnya mengatakan:

“Antarkan aku ke IGD. Aku sudah nggak kuat.”

Mungkin karena malam itulah untuk pertama kalinya saya benar-benar mengakui bahwa tubuh saya sudah berubah.

Dan setelah itu tugas saya bukan lagi memaksanya menjadi seperti dulu.

Saya hanya harus belajar hidup dengan tubuh yang sekarang, lalu tetap berjalan sebisa saya.


Monday, August 10, 2026

Desa Wisata Bukan Sekadar Atraksi

"Sebelum berbicara tentang pemasaran, kita harus sepakat terlebih dahulu mengenai apa yang sebenarnya dijual oleh desa wisata."

Apa yang Sebenarnya Dijual Desa Wisata?

Dalam setiap pendampingan desa wisata, saya hampir selalu mengawali diskusi dengan satu pertanyaan sederhana. “Menurut Bapak/Ibu, apa sebenarnya yang dijual oleh desa wisata?” Jawabannya hampir selalu sama. Ada yang menyebut air terjun, persawahan, embung, kuliner, kesenian tradisional, kerajinan, atau produk UMKM. Semua jawaban tersebut tentu tidak salah karena memang merupakan daya tarik yang dimiliki sebuah desa.

Namun saya biasanya melanjutkan dengan satu pertanyaan lagi. “Kalau begitu, mengapa banyak desa yang memiliki atraksi yang hampir sama, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berkembang menjadi desa wisata?” Ruangan biasanya menjadi hening. Pertanyaan tersebut ternyata tidak mudah dijawab.

Padahal, jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan bagaimana sebuah desa dikembangkan dan dipasarkan. Jika desa wisata dipahami hanya sebagai kumpulan objek wisata, maka perhatian akan lebih banyak diarahkan pada pembangunan fisik, penambahan wahana, mempercantik spot swafoto, atau meningkatkan promosi. Sebaliknya, apabila desa wisata dipahami sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar objek wisata, maka arah pengembangannya pun akan berubah.

Menurut penulis, di sinilah letak kesalahan yang paling sering terjadi dalam pengembangan desa wisata. Banyak desa berlomba memperbaiki atraksi wisatanya, tetapi belum sepenuhnya memahami produk yang sebenarnya mereka tawarkan kepada wisatawan. Karena sesungguhnya wisatawan tidak datang ke desa hanya untuk melihat sesuatu. Mereka datang untuk mengalami sesuatu.

Cara Pandang Pariwisata Telah Berubah

Perubahan cara pandang tersebut sebenarnya telah lama berkembang dalam kajian pariwisata. Selama beberapa dekade terakhir, para ahli mulai meninggalkan pandangan bahwa keberhasilan sebuah destinasi hanya ditentukan oleh banyaknya objek wisata yang dimiliki. Perhatian kemudian bergeser pada pengalaman yang dirasakan wisatawan selama melakukan perjalanan.

UN Tourism menjelaskan bahwa rural tourism bukan sekadar kunjungan ke wilayah pedesaan. Pariwisata pedesaan merupakan pengalaman wisata yang dibangun melalui kehidupan masyarakat, budaya lokal, aktivitas sehari-hari, tradisi, alam, serta karakter khas suatu desa. Dengan demikian, desa bukan hanya menjadi lokasi yang dikunjungi, tetapi menjadi ruang tempat wisatawan mengalami kehidupan yang berbeda dari kesehariannya.

Pandangan tersebut diperkuat oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore melalui konsep Experience Economy. Menurut mereka, masyarakat modern tidak lagi hanya membeli barang atau jasa, tetapi membeli pengalaman (experience). Nilai sebuah destinasi tidak lagi ditentukan semata-mata oleh keindahan objek yang dimiliki, melainkan oleh kesan yang tertinggal setelah perjalanan selesai.

Hal yang sama juga ditegaskan dalam konsep Community Based Tourism (CBT). Pendekatan ini menempatkan masyarakat lokal bukan hanya sebagai penerima manfaat pariwisata, tetapi sebagai pelaku utama sekaligus bagian dari produk wisata itu sendiri. Interaksi antara wisatawan dan masyarakat menjadi salah satu unsur yang membentuk kualitas pengalaman wisata.

Ketiga konsep tersebut sebenarnya mengarah pada pemahaman yang sama: desa wisata tidak menjual tempat. Desa wisata menjual pengalaman hidup di desa. Sederhananya, hotel menjual tempat menginap, restoran menjual makanan, maskapai menjual perjalanan, dan museum menjual pengetahuan. Lalu, apa yang dijual desa wisata? Bukan sawahnya, bukan air terjunnya, dan bukan capingnya. Yang dijual adalah kesempatan untuk merasakan kehidupan desa. Atraksi hanyalah alasan untuk datang. Pengalamanlah yang menjadi produk utamanya.

Desa Wisata Adalah Sebuah Kesatuan

Jika yang dijual adalah pengalaman, maka desa wisata tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan atraksi. Pengalaman wisata lahir dari perpaduan berbagai unsur yang saling melengkapi. Atraksi merupakan alasan pertama wisatawan datang. Keindahan alam, budaya, sejarah, kuliner, kerajinan, maupun tradisi menjadi pintu masuk yang membangkitkan rasa ingin tahu.

Namun setelah datang, wisatawan tidak hanya ingin melihat. Mereka ingin melakukan sesuatu. Mereka ingin membatik, memerah susu, menanam padi, menangkap ikan, memasak makanan tradisional, atau mengikuti aktivitas keseharian masyarakat. Aktivitas mengubah wisatawan dari sekadar penonton menjadi pelaku.

Pengalaman tersebut kemudian diperkaya melalui interaksi dengan masyarakat lokal. Wisatawan berbincang dengan petani, belajar dari pengrajin, mendengarkan cerita para sesepuh desa, atau menikmati keramahan keluarga yang menerima mereka. Hubungan antarmanusia inilah yang sering kali menjadi kenangan paling membekas setelah perjalanan berakhir.

Bagi wisatawan yang tinggal lebih lama, pengalaman tersebut dapat diperdalam melalui homestay. Mereka tidak hanya menginap, tetapi ikut menikmati ritme kehidupan desa, makan bersama keluarga tuan rumah, mengikuti aktivitas pagi, hingga memahami nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Dengan demikian, desa wisata sesungguhnya merupakan integrasi antara atraksi, aktivitas, interaksi dengan masyarakat lokal, dan homestay. Keempat unsur tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan untuk membentuk pengalaman wisata yang utuh.


Punya uang, tapi tak mau bayar utang. Aku pernah menghadapinya saat bekerja di bank. Semua cara negosiasi mentok, sampai aku mengeluarkan jurus terakhir: harga diri. Tapi satu kalimat darinya langsung membuat jurusku ambyar.



Sekitar tahun 2008–2010, selepas kuliah, aku sempat bekerja di salah satu bank sebagai Customer Service yang banyak menangani Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Saat itu pemerintah sedang gencar mendorong usaha mikro melalui KUR. Salah satu produk yang kutangani adalah KUR Mikro dengan plafon maksimal Rp5 juta, tanpa agunan, dengan bunga sekitar 1,3 persen. Lebih rendah dibanding kredit biasa yang saat itu berada di kisaran 1,5–2 persen dan masih membutuhkan agunan.

Rp5 juta mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang. Tapi selama menangani KUR, aku melihat sendiri bahwa bagi sebagian masyarakat desa, angka itu sangat berarti.

Ada yang mengajukan kredit hanya Rp500 ribu. Pinjaman Rp1–3 juta juga cukup banyak. Kalau menggunakan kredit biasa, pinjaman sekecil itu pun tetap membutuhkan jaminan, mulai dari dokumen kendaraan hingga sertifikat hak milik.

Ketika BI Checking Menjadi Penentu

Salah satu syarat KUR Mikro pada masa itu adalah calon nasabah belum pernah mempunyai pinjaman di bank. Riwayat tersebut diperiksa melalui BI Checking.

Dari data identitas nasabah, kami bisa mengetahui riwayat kredit seseorang: pernah meminjam atau tidak, nilai pinjaman, jangka waktu, besarnya angsuran, sampai kelancaran pembayarannya.

Di sinilah banyak cerita bermula.

Tidak sedikit calon nasabah yang yakin belum pernah berutang ke bank.

“Tenan, Mas. Aku durung tau utang bank.”

Begitu BI Checking keluar, ternyata ada catatannya.

Setelah ditelusuri, kadang mereka baru ingat pernah mengambil barang secara kredit melalui lembaga pembiayaan. Bagi mereka itu berbeda dengan meminjam uang di bank, tetapi riwayat pembiayaannya tetap bisa muncul dalam pemeriksaan kredit.

Dari situ aku mulai memahami bahwa bekerja di bank tidak hanya berurusan dengan uang dan angka.

Lebih sering justru berurusan dengan manusia.

Belajar Sambil Bank Berubah

Masa-masa itu cukup sibuk. Pengajuan dan realisasi KUR banyak, administrasi ikut menumpuk. Ada saatnya kami harus lembur sampai tengah malam hanya untuk menyelesaikan berkas.

Pada periode itu pula aku mengalami transformasi sistem bank dari proses yang masih banyak manual dan offline menuju sistem online.

Seru sekaligus bikin mumet.

Ada pembekalan, tetapi ketika sistem benar-benar digunakan, kami tetap harus belajar sambil bekerja. Catatan ditaruh di samping komputer. Lupa langkah berikutnya, tanya teman. Yang sudah paham mengajari yang belum paham.

Sementara nasabah tetap datang.

Pelayanan tidak mungkin berhenti hanya karena kami sedang belajar.

Mungkin karena dianggap cukup cepat belajar dan cukup bisa berkomunikasi dengan nasabah, lama-kelamaan aku mulai mendapat kepercayaan lebih dari kepala kantor.

Sampai suatu pagi aku dipanggil ke ruangannya.

Tugas yang Tidak Biasa

Pak Kepala menjelaskan bahwa besok kami akan mengunjungi beberapa nasabah besar yang kreditnya bermasalah.

Bukan sekadar terlambat satu-dua kali. Ada yang sudah berkali-kali tidak membayar angsuran. Bahkan ada yang kelihatannya sudah tidak mempunyai niat untuk membayar lagi.

Lalu beliau menyampaikan rencananya.

Besok Pak Kepala ikut.

Tapi aku yang bicara.

Beliau hanya mendampingi.

Alasannya sederhana: siapa tahu kalau orang baru yang datang menagih, respons nasabah akan berbeda.

Dalam hati aku sempat berpikir,

Wah, iki tenan aku sing dikon maju?

Aku pun dibekali data nasabah yang akan kami datangi: riwayat kredit, jumlah tunggakan, berapa kali tidak mengangsur, dan berbagai informasi lain yang perlu kupahami.

Salah satu nasabah sudah sekian kali berturut-turut sama sekali tidak membayar angsuran. Riwayat kreditnya sudah mendekati tahap yang sangat serius.

Keesokan harinya aku berangkat bersama Pak Kepala.

Berhadapan dengan Nasabah Kredit Macet

Sesampainya di rumah salah satu nasabah, sebelum masuk aku sempat memperhatikan keadaan sekeliling.

Pekarangannya cukup luas.

Ada beberapa ekor sapi.

Pemilik rumahnya seorang perempuan. Ketika bertemu dengannya, ada satu hal lain yang sulit tidak terlihat: gelang dan kalung yang dipakainya cukup besar dan berkilauan.

Tentu aku tidak bisa serta-merta menyimpulkan kemampuan finansial seseorang hanya dari luas pekarangan, jumlah sapi, atau perhiasan yang dipakainya.

Tetapi sebagai orang yang hari itu datang untuk menagih tunggakan kredit, pemandangan tersebut mau tidak mau membuatku berpikir:

Sepertinya persoalannya bukan sekadar tidak punya uang.

Sesuai rencana, Pak Kepala membuka percakapan. Beliau menyapa, berbasa-basi sebentar, lalu mengenalkanku.

Setelah itu...

giliranku.

Aku mulai dengan cara yang paling normal dan sopan. Kujelaskan posisi kreditnya, tunggakan yang sudah berjalan cukup lama, serta kewajiban yang seharusnya diselesaikan.

Tidak mempan.

Aku mencoba pendekatan lain.

Tetap tidak mempan.

Nasabah itu kukuh pada pendiriannya.

Kurang lebih jawabannya sederhana: kalau memang bank mau melelang agunannya, ya silakan.

Aku mulai memutar otak.

Beberapa pendekatan yang sebelumnya kupikir bisa membuka ruang negosiasi ternyata mental satu per satu.

Yang membuatnya semakin sulit, beliau tidak marah.

Tidak panik.

Tidak pula terlihat takut.

Santai saja.

Justru aku yang mulai kehabisan amunisi.

Sampai akhirnya aku mengeluarkan jurus terakhir.

Jurus Harga Diri

Aku tahu beliau termasuk orang yang dikenal dan cukup terpandang di desanya. Kondisi ekonominya pun diakui cukup baik oleh masyarakat sekitar.

Maka aku mencoba masuk dari sisi itu.

Aku sampaikan kurang lebih bahwa beliau dikenal sebagai orang yang berada dan terpandang. Sayang sekali kalau karena persoalan kredit kemudian mempunyai catatan buruk sampai masuk daftar hitam.

Bagaimanapun, pikirku waktu itu, nama baik dan harga diri seseorang di tengah masyarakat tentu ingin dijaga.

Dalam kepalaku:

Nah, iki mesthine kena.

Setidaknya beliau akan diam sebentar.

Berpikir.

Mungkin mulai membuka ruang negosiasi.

Ternyata aku salah.

Beliau melihatku dengan santai, lalu menjawab,

“Halah Mas, wong ndeso koyo aku wis ra mikir harga diri-harga dirian.”

Aku diam.

Pak Kepala juga diam.

Jurus pamungkasku...

ambyar.

Aku sudah membawa data kredit. Sudah mencoba bicara baik-baik. Sudah mencoba berbagai pendekatan. Sampai akhirnya membawa-bawa nama baik dan harga diri.

Ternyata orang di depanku malah sudah menyatakan tidak memikirkan harga diri-harga dirian.

Lha terus aku arep ngomong opo maneh?

Akhirnya kami menyerah untuk hari itu dan memutuskan pamit.

Kupikir ceritanya selesai.

Ternyata belum.

Pulang Membawa Undangan

Saat kami hendak meninggalkan rumah, ibu itu memanggil.

Ada sesuatu yang hendak dititipkan.

Aku menerimanya.

Undangan.

Anaknya mau menikah.

Dan dengan santainya beliau meminta undangan pernikahan itu disampaikan kepada seluruh staf di kantor bank.

Aku melihat undangan di tanganku.

Beberapa menit sebelumnya aku datang membawa data tunggakan kredit dan mencoba meyakinkan beliau agar mau membayar utangnya.

Sekarang aku malah berdiri di halaman rumahnya membawa undangan manten.

Aku menoleh ke Pak Kepala.

Pak Kepala melihatku.

Senyum.

Lalu garuk-garuk kepala.

Aku pun ikut tersenyum.

Yang Tertinggal dari Pengalaman Itu

Bertahun-tahun kemudian, aku justru paling mengingat kejadian itu. Bekerja di bank mengajariku banyak hal tentang kredit, data, komunikasi, dan negosiasi.

Tapi ada satu pelajaran yang tak pernah kutemukan dalam buku panduan: ketika berhadapan dengan manusia, sebaik apa pun persiapan kita, selalu ada respons yang tak pernah kita perhitungkan.

Hari itu aku berangkat untuk menagih utang.

Jurus harga diriku ambyar.

Dan aku pulang...

membawa undangan manten.


Sunday, August 9, 2026

Ada yang tumbang. Ada yang muntah. Bahkan aku melihat muntahan berwarna kemerahan yang waktu itu langsung kupikir darah. Entah benar darah atau bukan, aku tidak tahu. Yang jelas, melihat itu sambil menunggu giliran lari 12 menit di tengah panasnya Stadion Diponegoro jelas bukan cara yang menyenangkan untuk mempersiapkan mental.

Dan sebentar lagi giliranku.



Pagi-Pagi Sudah Bermasalah dengan Telur Asin

Hari kedua dimulai jauh sebelum Subuh.

Kami harus bangun pagi sekali karena kalau tidak, bisa antre panjang untuk mandi. Pesertanya banyak, kamar mandi terbatas. Jadi sebelum orang lain bangun, sebisa mungkin kami sudah bangun duluan.

Selesai mandi, kemudian sarapan.

Menunya nasi dengan telur asin.

Nah, ini masalah buatku.

Mungkin agak aneh. Aku ini orang desa, lahir dan besar di Wonogiri, tetapi waktu itu aku belum pernah makan telur asin.

Aku coba.

Ternyata tidak doyan.

Bukan sekadar tidak suka. Rasanya benar-benar tidak bisa masuk ke mulutku. Mau muntah rasanya. Apalagi dimakan pagi-pagi.

Padahal hari itu tes samapta.

Kalau sedang mau ikut lomba lari dari rumah, urusan makan biasanya justru sangat kuperhatikan. Ini mau tes fisik seharian, sarapannya malah makanan yang tidak bisa kutelan.

Telur asinnya akhirnya tidak kumakan.

Tapi nasinya tetap kuhabiskan.

Jadilah pagi itu aku menghadapi tes samapta dengan modal nasi putih.

Jujur, bad mood juga.

Naik Truk ke Stadion Diponegoro

Seperti hari sebelumnya, setelah semuanya siap kami dibawa menggunakan truk-truk militer menuju Stadion Diponegoro.

Cuaca Semarang hari itu panas.

Seingatku lintasan stadion waktu itu masih keras, entah beton atau semen. Aku sudah tidak ingat persis bahannya. Yang masih kuingat justru panasnya. Matahari kena lintasan, panasnya seperti memantul lagi ke atas.

Sekitar jam 10 kami masih briefing.

Petugas menjelaskan tes yang harus dijalani: lari 12 menit, push-up, sit-up, squat jump, pull-up, kemudian shuttle run atau lari angka delapan sebanyak tiga putaran.

Hampir semuanya dilakukan berurutan dengan jeda yang tidak banyak.

Sebelum mulai, tinggi dan berat badan kami diukur lagi.

Kalau ingatanku tidak salah, waktu itu ada semacam patokan berat badan ideal: tinggi badan dikurangi 110.

Jadi kalau tingginya 165 cm, berat idealnya sekitar 55 kg.

Tentunya ada toleransi. Tidak harus persis angka itu. Tetapi berapa batas terlalu kurus atau terlalu gemuk, aku sudah lupa. Bisa jadi waktu itu kami juga memang tidak diberi tahu.

Begitu juga dengan nilai tes fisik.

Berapa kali push-up supaya aman?

Lari 12 menit harus dapat berapa meter?

Pull-up minimal berapa?

Kami tidak tahu.

Pokoknya lakukan semaksimal mungkin, nanti sore baru tahu hasilnya.

Menunggu Giliran Malah Bikin Makin Tegang

Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok, kalau tidak salah sekitar 15 orang setiap kelompok.

Aku kebagian kelompok keempat.

Awalnya mungkin terasa enak karena tidak langsung tes.

Ternyata tidak juga.

Karena belum mendapat giliran, aku justru bisa melihat apa yang terjadi pada kelompok sebelumnya.

Ada yang tumbang.

Ada yang awalnya lari kemudian sudah tidak kuat dan akhirnya jalan kaki.

Ada yang muntah.

Dan itu tadi, ada seorang peserta yang muntah dengan warna kemerahan. Dalam pikiranku waktu itu: muntah darah.

Sekali lagi, aku tidak tahu apakah benar darah. Itu hanya yang kulihat dan kupikirkan saat itu.

Tapi efeknya ke mental ya sama saja.

Aku yang sebentar lagi harus lari mulai membayangkan macam-macam.

Kelompok pertama selesai.

Kelompok kedua selesai.

Kelompok ketiga.

Matahari bukannya turun, malah semakin di atas kepala.

Kemudian kelompokku dipanggil.

Kalau tidak salah, sudah hampir jam 12 siang.

Dalam hati mungkin cuma bisa bilang:

Ya sudah. Ayo.

Dua Belas Menit di Tengah Hari

Begitu mulai lari, panasnya langsung terasa.

Matahari dari atas, lintasan panas dari bawah.

Tenaga rasanya cepat sekali terkuras.

Di situ aku malah teringat sarapan pagi.

Cuma nasi.

Biasanya kalau mau ikut lomba lari dari rumah, aku punya kebiasaan sendiri. Sarapan tentu aku usahakan cukup protein. Waktu itu aku juga biasa makan satu sampai tiga kuning telur setelah bangun tidur.

Aku merasa kalau persiapannya seperti itu tenaga jadi lebih enak.

Tapi ini bukan lomba yang bisa kusiapkan dari rumah.

Kami diasramakan.

Makan apa yang disediakan, ya itu yang dimakan.

Kalau tidak suka telur asin?

Ya nasinya saja.

Tidak ada pilihan lain.

Aku terus lari.

Alhamdulillah, setelah 12 menit selesai, hasilku ternyata tidak jelek.

Dari sekitar 15 orang dalam kelompok, aku nomor dua.

Lumayan lega.

Setidaknya latihan lari selama ini tidak sia-sia.

Tapi belum selesai.

43, 42, 52, 12

Setelah lari kami lanjut ke tes berikutnya.

Push-up.

43 kali dalam satu menit.

Sit-up.

42 kali.

Squat jump.

52 kali.

Pull-up.

12 kali.

Sekarang kalau mengingat angka-angka itu aku juga heran, kok dulu bisa ya?

Tapi umur masih belasan tahun. Badan ringan, aktivitas sehari-hari juga banyak bergerak. Jadi mungkin memang saat itu tubuh masih enak diajak macam-macam.

Setelah semuanya itu, masih ada shuttle run.

Nah, yang ini aku justru senang.

“Kijang dari Wonogiri”

Shuttle run itu lari pendek yang membutuhkan kecepatan dan kelincahan. Kami berlari membentuk angka delapan sebanyak tiga putaran.

Kalau lari jarak jauh mungkin aku masih harus mengatur tenaga.

Tapi kalau disuruh sprint, berbelok cepat, lalu sprint lagi, aku cukup percaya diri.

Waktu SMP aku pernah juara sprint dan lompat jauh.

Aku juga pemain sepak bola kampung. Terbiasa membawa bola sambil lari, meliuk ke kanan-kiri melewati rintangan. Jadi gerakan seperti itu sudah cukup akrab.

Aku jalani shuttle run secepat yang kubisa.

Entah karena waktuku memang bagus atau karena cara lariku kelihatan lincah, salah seorang tentara yang menjadi petugas tes nyeletuk memberi julukan:

“Kijang dari Wonogiri.”

Aku senang juga mendengarnya.

Setelah dari pagi berurusan dengan telur asin, panas, melihat orang muntah, lari 12 menit, lalu berbagai tes fisik, akhirnya ada juga bagian yang menyenangkan.

Sampai sekarang, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, julukan itu masih kuingat.

Tapi Lolos atau Tidak?

Kalau melihat hasil tes hari itu, sebenarnya aku cukup percaya diri.

Lari nomor dua di kelompok. Push-up, sit-up, squat jump, pull-up rasanya juga lumayan. Shuttle run malah sampai dapat julukan.

Masalahnya satu.

Kami tidak tahu standar kelulusannya.

Jadi sebagus apa pun perasaan kita setelah tes, tetap saja tidak bisa mengatakan:

“Aku pasti lolos.”

Jawabannya baru keluar sore hari menjelang Magrib.

Kami dikumpulkan lagi.

Seperti hari sebelumnya, beberapa nama dipanggil dan diminta maju satu langkah.

Namaku dipanggil.

Aku maju.

Dua teman dari Wonogiri juga dipanggil. Salah satunya Soni Maharbudi dari Wonogiri Kota. Satunya lagi dari Wuryantoro.

Namanya?

Aku benar-benar sudah lupa.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun. Jadi mohon dimaklumi kalau ada nama-nama yang sudah hilang dari ingatan.

Kami bertiga maju satu langkah.

Tiga teman lainnya tidak dipanggil.

Nah, masalahnya muncul lagi.

Yang maju ini lolos atau tidak lolos?

Karena sehari sebelumnya, yang dipanggil maju justru mereka yang tidak lolos.

Kalau aturannya masih sama, berarti aku gagal.

Panitia bukannya segera menjawab, malah menjelaskan tes berikutnya.

Besok, bagi yang lolos akan mengikuti tes psikologi. Kemudian hari keempat akan dilanjutkan tes akademik.

Kami masih berdiri.

Lolos atau tidak?

Tunggu dulu.

Setelah beberapa penjelasan selesai, barulah diumumkan.

Hari itu ternyata berbeda dengan hari sebelumnya.

Yang dipanggil maju satu langkah adalah yang lolos.

Alhamdulillah.

Rasanya lega.

Berarti besok aku masih boleh melanjutkan perjalanan ini.

Masih ada tes psikologi.

Dan kalau lolos lagi, masih ada tes akademik.

Perjalanan masuk Taruna Nusantara ternyata masih panjang.

Refleksi

Kalau sekarang mengingat hari itu, yang paling membekas justru bukan angka 43 push-up, 42 sit-up atau hasil lari nomor dua.

Aku malah ingat telur asin yang tidak bisa kumakan. Ingat panasnya lintasan Stadion Diponegoro. Ingat melihat peserta lain tumbang sebelum giliranku. Dan tentu saja masih ingat julukan “Kijang dari Wonogiri.”

Mungkin memang begitu cara ingatan bekerja.

Yang tertinggal setelah puluhan tahun bukan selalu hal-hal besar.

Tapi dari hari itu aku belajar sesuatu yang baru kusadari setelah jauh lebih tua: kita tidak selalu mendapat kondisi ideal ketika harus memberikan kemampuan terbaik.

Kadang persiapannya kurang. Kadang situasinya tidak sesuai harapan. Kadang mental kita sudah dibuat jatuh bahkan sebelum mulai.

Tapi ketika waktunya tiba, ya dijalani saja.

Hari itu aku tidak merasa sedang belajar filosofi hidup.

Aku cuma anak Wonogiri yang ingin lolos seleksi Taruna Nusantara.

Dan siang itu, tugasku sederhana:

lari sekuat yang aku bisa.


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata