Malam semakin larut ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti.
Sejak tadi sebenarnya ramai. Cerita ke mana-mana. Dari pekerjaan, pengalaman naik gunung, sampai cerita-cerita aneh yang entah kenapa selalu lebih menarik kalau dibicarakan saat camping.
Tapi ketika semuanya diam, suasananya langsung berubah.
Suara serangga yang sebelumnya kalah oleh obrolan kami mendadak terdengar jelas. Angin sesekali menggerakkan daun. Di luar tempat kami duduk, gelap.
Dan malam itu kebetulan Malam 1 Suro.
Aku sudah cukup sering tidur di tenda. Malam di alam bukan sesuatu yang asing. Tapi tetap saja, camping pada Malam 1 Suro punya rasa yang sedikit berbeda.
Apalagi setelah tadi ada yang mulai cerita macam-macam.
Untung keheningan itu nggak berlangsung lama. Entah siapa yang memulai, kami kembali ngobrol dan tertawa.
Malam berjalan seperti biasa.
Tapi justru bagian ketika semuanya sempat diam itulah yang sampai sekarang masih kuingat.
Lucunya, beberapa hari sebelumnya perjalanan ini bahkan belum ada.
Semua cuma gara-gara obrolan iseng di kantor.
Harusnya Cuma Jadi Wacana
Awalnya aku ngobrol santai dengan anak-anak magang.
Entah bagaimana ceritanya, muncul ide untuk camping.
Ide seperti ini sebenarnya sering muncul. Apalagi kalau yang ngobrol sama-sama suka jalan. Masalahnya, sebagian besar biasanya berhenti sebagai wacana.
Besoknya sudah sibuk lagi.
Lupa.
Tapi yang satu ini ternyata berlanjut.
Obrolan di kantor kubawa ke chat WhatsApp anak-anak Kapala. Bukannya mereda, malah semakin serius.
Mulai bicara siapa yang ikut.
Kapan berangkat.
Mau camping di mana.
Sampai akhirnya kami sadar waktunya bertepatan dengan Malam 1 Suro 2023.
Sempat juga terpikir soal waktunya.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam 1 Suro punya makna khusus. Ada yang mengisinya dengan doa, tirakat, atau menjalankan tradisi tertentu.
Kami tentu menghormati itu.
Kami sendiri cuma ingin camping. Nggak ada ritual atau kegiatan khusus. Sekadar ingin berkumpul, tidur di tenda dan menikmati malam di alam.
Akhirnya dipilihlah Desa Wisata Kandri.
Nggak jauh dari Semarang.
Persiapannya juga nggak ribet.
Yang penting perlengkapan cukup, logistik ada, dan orang-orangnya benar-benar jadi berangkat.
Sampai Kandri, Baru Terasa Ini Bukan Lagi Wacana
Kami menuju camping ground di Omah Pintar Petani Kandri.
Begitu sampai, aku langsung suka dengan suasananya.
Tempatnya nggak terlalu luas. Ada pepohonan, tanah lapang, kolam dan suasana desa yang masih terasa.
Aku memang selalu nyaman dengan tempat seperti ini.
Nggak harus gunung tinggi.
Nggak harus masuk hutan jauh.
Kadang cukup berada di tempat di mana suara kendaraan mulai berkurang dan udara terasa berbeda, sudah membuatku senang.
Barang diturunkan.
Tenda mulai dikeluarkan.
Dan dimulailah salah satu ritual paling menarik kalau camping dilakukan ramai-ramai:
mendirikan tenda.
Selalu ada yang serius bekerja.
Ada yang memegang tiang.
Ada yang mengurus tali.
Ada yang membantu ini-itu.
Dan seperti biasa, ada juga yang kelihatannya sibuk sekali, mondar-mandir ke sana kemari, tetapi kontribusinya sulit dijelaskan.
Nggak apa-apa.
Yang penting akhirnya tenda berdiri.
Begitu semua perlengkapan masuk, baru terasa:
Oh, jadi camping beneran.
Bukan wacana lagi.
Malam 1 Suro Itu Akhirnya Benar-Benar Datang
Menjelang malam, Kandri perlahan berubah.
Udara mulai lebih dingin.
Suara aktivitas manusia berkurang.
Yang tadinya nggak terdengar mulai muncul satu per satu.
Serangga.
Angin.
Daun.
Suara dari kejauhan yang nggak selalu jelas apa.
Kami berkumpul dan ngobrol.
Nggak ada agenda.
Nggak ada acara khusus.
Memang sejak awal tujuan kami cuma ingin menikmati malam.
Obrolannya pun bebas.
Kadang serius.
Lebih sering nggak serius.
Ngomongin pekerjaan, pengalaman naik gunung, kejadian-kejadian lama, sampai akhirnya masuk juga ke cerita-cerita yang sedikit menyerempet mistis.
Entah kenapa orang kalau camping punya kebiasaan aneh.
Sudah tahu tempatnya gelap.
Sudah tahu tidurnya di tenda.
Sudah tahu malam itu 1 Suro.
Masih saja membicarakan yang begituan.
Tapi justru suasana seperti itulah yang membuat malam terasa hidup.
Ada saat kami tertawa keras.
Lalu beberapa menit kemudian obrolan berhenti begitu saja.
Dan ketika kami diam, suara alam seperti mengambil alih.
Aku suka bagian itu.
Di kantor, rasanya kepala selalu punya pekerjaan.
Kalau pekerjaan selesai, ada ponsel.
Kalau ponsel diletakkan, kadang pikiran sendiri yang belum mau berhenti.
Di situ berbeda.
Aku cuma duduk bersama teman-teman.
Nggak melakukan sesuatu yang penting.
Nggak menghasilkan apa-apa.
Dan ternyata rasanya enak.
Mungkin memang itu yang sedang kubutuhkan.
Pagi Selalu Membongkar Romantisme Camping
Paginya aku bangun dengan badan agak pegal.
Nah, ini bagian camping yang jarang terlihat di foto.
Kalau melihat foto orang camping, semuanya kelihatan indah. Tenda di antara pepohonan, udara pagi, orang duduk santai.
Yang nggak ikut terfoto adalah punggung dan pinggang setelah semalaman tidur di atas matras.
Tapi begitu tenda dibuka, keluhan itu biasanya cepat terlupakan.
Udara pagi Kandri masih segar.
Suasananya tenang.
Dan pagi itu kami bertemu dengan sesuatu yang sangat tepat untuk kondisi orang habis tidur di tenda:
bubur ala Kandri.
Hangat.
Gurih.
Sederhana.
Aku nggak tahu apakah memang buburnya seenak itu atau kami sedang lapar.
Yang jelas, pagi itu rasanya pas sekali.
Lalu Kami Berharap pada Ikan
Setelah sarapan, acara bergeser ke kolam.
Mancing.
Kalau dipikir-pikir, memancing itu aktivitas yang agak ajaib.
Orang yang biasanya lima menit menunggu saja sudah gelisah, kalau sudah memegang pancing bisa duduk lama menatap satu titik.
Pelampung bergerak sedikit, langsung waspada.
Ditarik.
Kadang ada ikan.
Kadang cuma umpan yang hilang.
Masalahnya, ikan hasil pancingan ini bukan sekadar untuk kesenangan.
Rencananya mau kami masak.
Jadi keberhasilan memancing mulai punya hubungan dengan makan siang.
Untung kami punya rencana yang lebih masuk akal daripada sekadar berharap pada ikan.
Empat perempuan—dua dari Kapala dan dua anak magang—berangkat ke pasar membeli bahan untuk memasak.
Sementara empat laki-laki—dua Kapala dan dua anak magang—tinggal di camping ground.
Tugas kami terdengar sederhana:
mencari kayu dan menyiapkan api.
Asap Selalu Tahu Posisi Mata
Kayu dikumpulkan.
Tempat memasak disiapkan.
Api mulai dinyalakan.
Di sinilah kegiatan sederhana mulai terasa tidak sesederhana kelihatannya.
Ada kayu yang cepat terbakar.
Ada yang lebih banyak menghasilkan asap.
Ditiup dari satu sisi, asap masuk mata.
Pindah posisi.
Angin berubah.
Asap ikut pindah.
Entah kenapa kalau memasak dengan kayu, asap seperti tahu persis di mana manusia sedang berdiri.
Mata pedih.
Geser lagi.
Tapi lama-lama api stabil juga.
Ketika teman-teman dari pasar kembali, suasana berubah menjadi dapur terbuka.
Bahan dikeluarkan.
Bumbu mulai diracik.
Ikan dibersihkan.
Kemudian masuk ke atas bara.
Beberapa menit kemudian aroma ikan bakar mulai tercium.
Dan aroma seperti itu punya kemampuan memanggil orang.
Yang tadi duduk jauh mulai mendekat.
Yang tadinya belum lapar mulai melihat-lihat.
Semua menunggu ikan matang.
Ada yang hasil bakarnya bagus.
Ada bagian yang sedikit terlalu lama kena api.
Nggak masalah.
Kami bukan sedang buka restoran.
Begitu siap, kami makan bersama.
Nggak ada plating.
Nggak ada meja makan yang rapi.
Nggak ada yang sibuk menilai tampilannya.
Makan pakai tangan, ngobrol, saling komentar, kemudian nambah lagi.
Anehnya, sampai sekarang aku bahkan nggak ingat persis bumbunya seperti apa.
Tapi aku ingat suasananya.
Asapnya.
Orang-orangnya.
Dan ramainya makan siang itu.
Mungkin memang ada makanan yang kita ingat karena rasanya.
Ada juga makanan yang kita ingat karena cerita sebelum makanan itu sampai ke mulut.
Harusnya Selesai, Tapi Kami Belum Mau Pulang
Selesai makan, sebenarnya rangkaian camping kami sudah cukup.
Kalau mau langsung beres-beres dan pulang juga bisa.
Tapi rasanya masih terlalu cepat.
Akhirnya perjalanan berlanjut ke Waduk Jatibarang.
Kalau sejak malam sebelumnya suasana kami didominasi ngobrol santai, udara dingin dan suara alam, di waduk semuanya berubah.
Kami naik speedboat.
Begitu mesin menyala dan perahu mulai melaju kencang, ketenangan tadi langsung hilang.
Angin menghantam wajah.
Air sesekali muncrat.
Perahu membelah waduk.
Dan tentu saja...
teriakan mulai terdengar.
Ada yang menikmati.
Ada yang tertawa.
Ada yang terlihat santai, meskipun tangannya tetap erat memegang.
Aku melihat ke sekeliling.
Air Waduk Jatibarang terbentang luas dengan perbukitan di sekitarnya.
Langit sudah mulai menuju sore.
Anginnya kencang.
Aku menikmati pemandangan itu.
Aku memang suka melihat bentang alam yang luas. Gunung, laut, waduk, sawah—entah kenapa selalu ada rasa lega ketika melihatnya.
Nggak perlu dicari maknanya terlalu jauh.
Sore itu aku cuma merasa senang.
Dan rasanya memang cukup.
Bagian yang Selalu Ingin Ditunda
Tapi perjalanan tetap harus selesai.
Kami kembali ke camping ground dan mulai membereskan barang.
Ini bagian yang paling malas kulakukan setiap camping.
Melipat tenda.
Bukan karena sulit.
Tapi ketika pasak mulai dicabut dan tenda mulai dilipat, rasanya seperti ada pengumuman tidak tertulis:
sudah, waktunya kembali.
Barang dicek.
Sampah dikumpulkan.
Area yang kami gunakan dibersihkan lagi.
Pelan-pelan tempat yang sejak kemarin dipenuhi suara kami kembali sepi.
Baru saat itulah capek mulai terasa.
Semalam kurang tidur nyaman.
Pagi memancing.
Cari kayu.
Kena asap.
Masak.
Makan.
Naik speedboat.
Sekarang tinggal pulang.
Tapi justru ketika semua selesai, rasanya sayang juga.
Padahal cuma semalam.
Padahal Kandri nggak jauh.
Ternyata yang Paling Lama Tinggal Justru Hal-Hal Receh
Beberapa hari kemudian semuanya kembali seperti biasa.
Anak-anak magang kembali dengan kegiatannya.
Teman-teman Kapala kembali dengan urusan masing-masing.
Aku juga kembali ke pekerjaan.
Camping selesai.
Tapi anehnya, ketika sekarang mengingat perjalanan itu, yang muncul bukan sesuatu yang spektakuler.
Justru potongan-potongan kecil.
Orang yang kelihatannya paling sibuk ketika mendirikan tenda.
Obrolan Malam 1 Suro yang tiba-tiba berhenti.
Suara serangga ketika kami diam.
Bangun dengan badan pegal.
Bubur hangat.
Menunggu ikan.
Asap yang masuk mata.
Ikan bakar.
Makan ramai-ramai.
Angin yang menghantam muka di atas speedboat.
Lalu rasa malas ketika harus melipat tenda.
Hal-hal kecil yang waktu itu terasa biasa saja.
Tapi rupanya justru itu yang tertinggal.
Aku sudah cukup sering pergi ke alam dan semakin lama semakin sadar bahwa aku nggak selalu membutuhkan perjalanan jauh.
Nggak harus selalu mendaki gunung.
Nggak harus menemukan tempat baru.
Kadang aku cuma perlu keluar sebentar dari rutinitas.
Tidur di tenda.
Ngobrol sampai malam.
Bangun pagi.
Makan bersama.
Lalu pulang.
Hidup setelah itu tetap sama.
Pekerjaan masih ada.
Rutinitas juga menunggu.
Tapi setidaknya kepala terasa sedikit lebih ringan.
Dan sampai sekarang aku masih ingat malam ketika obrolan kami tiba-tiba berhenti itu.
Suara serangga terdengar jelas.
Angin melewati pepohonan.
Kami duduk di tengah gelapnya Kandri pada Malam 1 Suro.
Padahal semua itu bermula dari obrolan iseng di kantor yang seharusnya bisa saja berakhir sebagai wacana.
Untung waktu itu kami jadi berangkat.
Sebab ternyata, beberapa perjalanan yang paling enak dikenang memang tidak pernah direncanakan untuk menjadi istimewa.




