No
|
Kriteria
|
Indikator
|
Penjelasan
|
|
1
|
Aksesibilitas
|
Bandara
Internasional
|
Destinasi
memiliki bandara internasional dengan jadwal penerbangan internasional
|
|
Biaya
|
Jumlah uang
yang harus disediakan untuk transportasi dan akses menuju destinasi
|
|||
Jadwal
Penerbangan
|
Memiliki
jadwal penerbangan internasional dari dan menuju destinasi
|
|||
Frekuensi
Penerbangan
|
Frekuensi penerbangan ke tempat tujuan/destinasi
|
|||
Kenyamanan
Transit
|
Kenyamanan
jadwal transportasi ke tempat tujuan/ destinasi
|
|||
Pelayanan
Kepabeanan
|
Berbagai formalitas
peraturan kepabeanan yang diperlukan untuk memasuki destinasi
|
|||
Pelayanan
Imigrasi dan Karantina
|
Berbagai
formalitas peraturan keimigrasian yang diperlukan untuk memasuki destinasi
|
|||
Konektifitas
Bandara
|
Bandara
memiliki akses untuk terhubung ke pusat-pusat hiburan dalam destinasi
|
Tuesday, January 14, 2014
5:33 AM
kariswisata.id
MICE, wisatasemarang
No comments
Sunday, January 12, 2014
11:51 PM
kariswisata.id
Diklat, kariswisata
No comments
Diklat Pra Jabatan adalah suatu tahapan yang harus dilewati seseorang yang akan menjadi pegawa negeri sipil. Demikian juga diriku, setelah berhasil lolos tes CPNS Tahun 2009, diterima tahun 2010 lalu setelah melalui masa orientasi (CPNS) selama kurang lebih 1 tahun dipanggil untuk menjalani diklat Prajab.
Thursday, January 9, 2014
3:44 PM
kariswisata.id
Cerita Fiksi, kariswisata
No comments
Kepribadian sangunis biasanya sangat populer di lingkungan atau aktifitas sosialnya. Pribadi yang hangat, pandai bercerita dari berbagai sudut pandang dan disetiap ceritanya diselipi "rasa" yang khas. Bila ada dua orang yang satu sanguinis sementara yang lain bukan sanguinis, kemudian diperlihatkan pada satu peristiwa yang sama, maka cerita dua orang ini akan lain. Sang sangunis akan bercerita seolah-olah kejadian itu masih berlangsung, dikemas dalam sebuah cerita yang apik dan dibumbui dengan suasana hatinya, yang kusebut sebagai "rasa"
Begitu pula rerasan dua orang sanguinis siang kemaren menyisakan rasa yang mendalam dihati masing-masing. Aku gak tau, bilamana rasa itu datang. Tiba-tiba saja rasa itu muncul dan memenuhi hati dan kepalaku seharian. Jujur aku sendiri juga bingung, sebenarnya rasa ini cenderung sebagai rasa apa? sayang? cinta? kangen? atau hanya sebatas kedekatan sesaat menyebabkan rasa itu muncul. Kupikir gak perlu dijawab, toh rasa itu ada atau tidak ada nanti ujung-ujungnya juga akan sama. Ada batas pemisah diantara dua insan sesama sanguinis ini.
Rasa yang sedemikian kuat kupikir perlu untuk diungkapkan. Ini sebuah pilihan. Resikonya bisa tambah dekat, bisa bergerak menjauh tapi gak mungkin akan masih sama seperti hari-hari kemaren. Karena aku sendiri tidak tau apakah rasa itu juga menghampiri nya? apakah rasa ini juga singgah ke perasaanya? lalu aku bisa tau dari mana?
Ada beberapa pemikiran, sebagai seorang sanguinis, aku tau pasti bahwa klo aku tanya langsung pasti tidak mau menjawab. Klo ku sms pasti tidak dibalas dan dialihkan ke hal lain. Klo melalui pihak ketiga akan menimbulkan masalah. Maka kupilih jalan yang lebih cerdas yaitu memperhatikan bahasa non verbalnya. Itu langkah yang paling mudah untuk kulakukan, lalu bagaimana aku bisa perhatikan? sementara aku duduk di depan, dia di belakang?.... aku harus membuat langkah yang mudah , simpel dan efektif. Hmm tunggu cerita selanjutnya!
Ungkapan Isi Hati Wanita Muda Itu
Hujan rintik-rintik mengawal keberangkatanku. Hari ini ku berharap ada perubahan, ada perbedaan dalam menjalani tiap waktu. Asaku membumbung, membelah derasnya hujan ditengah perjalanan. Aku tak peduli apa kata orang, aku tak peduli apa dalam pandangan orang, yang pasti aku berniat belajar tentang semuanya. Belajar tentang akademis, belajar tentang hidup dan kehidupan dan belajar untuk menuliskan naskah hidupku di masa depan.
Aku rindu, aku kangen, aku berharap kembali ke masa lalu. Masa yang indah, belajar dan bermain dengan riang. Suasana yang akhir-akhir ini terasa menghilang dari hidupku. Aku ingin semuanya kembali terulang dalam bentuk dan suasana yang berbeda. Sungguh... aku bersungguh-sungguh, setelah ku mengenal seseorang, aku merasa ada kesempatan membuat sejarah, membuat prestasi, minimal bagi diriku sendiri.
Seseorang itu bagaikan kawanku sepermainan. Bercerita apa saja, tentang kampus, tentang kuliah, tentang pacar-pacarku, tentang sahabatku, juga tentang dia dan aku. Kadang aku merasa seseorang itu seperti temanku, di saat yang lain seperti kakakku dan di saat yang lain lagi seperti pacarku. Begitu pula hari ini, disaat rintik hujan belum juga reda, di saat rintik hujan itu terus deras membasahi bumi, aku merasa nyaman dengannya.
Kuberharap, hubungan ini terus terjaga. Walau aku sudah memutuskan tak berharap ada keajaiban, namun rasaku terus tumbuh, menjadi benang-benang lembut yang mengait satu dengan yang lain. Seperti sebuah bangunan yang mula-mula sederhana menjadi sebuah istana yang megah lengkap dengan perabotan dan penghuninya. Benang yang kadang berwarna hijau, penuh dengan harapan, kadang berwarna biru, penuh dengan kepimpinan, kadang berwarna merah, penuh dengan keberanian dan kadang berwarna putih, penuh dengan kesucian. Sesuci benih cinta kasih yang tidak harus diperbincangkan, namun bisa dirasakan oleh semua ciptaan Tuhan.
Begitulah perasaanku saat ini, kadang aku sadar bahwa ini bukan mimpi, namun diwaktu yang lain aku seperti tenggelam dalam gelombang, antara gunung dan laut, antara hutan dan padang pasir. entahlah.... biar waktu yang menjawab, tidak saat ini juga tidak esuk hari...
1:02 AM
kariswisata.id
Cerita Fiksi, kariswisata
No comments
Hari itu semua seperti biasa. Masuk kantor, apel pagi dan duduk di depan laptop. Sambil sesekali berbincang agenda kegiatan dengan teman, kadang ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang hangat pada hari itu. Tiba-tiba ada dua wanita masuk, yang satu setengah baya dan satunya lagi masih muda. Yang setengah baya aku sudah mengenalnya, yaitu salah satu pimpinan di ruang sebelah, namun satu lagi aku merasa gak kenal. Cuek aja pikirku sambill masih menggerakkan jari-jariku diatas keyboard laptop kecilku.
Tiba-tiba ada yang memanggilku, " Dik tolong adik ini dibantu diarahkan harus bantu apa dan kerjaannya apa!", kata Pimpinanku. " Siap Pak", jawabku. Dan wanita muda itu menghampiriku lalu bersalaman dan mengenalkan dirinya, " Nama saya sasa, magang dari fakultas Johar di Universitas Banyumanik", lalu duduk persis disamping meja kerjaku. "Panggil aja aku Awan Dik", kataku pada wanita muda itu.
Sambil masih setengah hati, karena aku juga belum merasa mengenalnya, kuberikan beberapa arahan tentang magang, etika kerja dan lain-lain yang wajib dipahami selama kerja. Wanita muda itu selalu hanya menjawab "iya, iya dan iya". Ditanya apakah sudah paham? jawabnya iya, ada pertanyaan? hanya tersenyum. Mungkin masih malu malu.
Detik berjalan menjadi menit, menit menjadi jam dan akhirnya waktu pulang kantor. Hari itu biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kehadiran wanita muda itu juga kupikir hanya lewat, gak ada sesuatu yang menarik untuk di catat atau dibicarakan. Bedanya selepas apel pagi biasannya kembali mengerjakan tugas rutin, tapi hari itu ada tamu dan aku harus memberikan arahan.
Suatu hari, tugasku menumpuk. Batas waktu penyelesaian sangat mepet sementara volume pekerjaan sangat banyak. Malam sudah lembur, mata sudah memerah namun belum selesai juga. Sampai pada suatu hari, wanita muda itu menawarkan diri untuk membantuku, bahkan ikut menyelesaikan tugas-tugasku sampai sore. ya tepatnya sampai jam lima sore di suatu ruangan yang biasanya.
Kerja bareng dari pagi hingga jam lima sore, menyadarkanku ada sosok menarik didekatku, namun aku sama sekali tak menyadarinya. Hingga ketika senja sudah mulai memerahkan langit, aku memutuskan untuk pulang. " Jangan pulang dulu ya dik, ntar kita maem dulu", kataku. Wanita muda itu menganggukkan kepala pertanda setuju. Aku sendiri tak tau harus makan apa, karena aku tidak mengenalnya apalagi sampai tahu makanan favoritnya. Jadi kupikir yang standar aja, makan bakso mungkin pilihan yang tepat.
Kebetulan cuaca agak gerimis, sehingga semangkuk bakso akan menghangatkan tubuh yang lelah seharian di depan laptop. Walaupun dipinggir jalan alias Bakso kaki lima, namun pengemarnya banyak, tempat makan penuh dan meja pesanan menumpuk. Bagiku tak mengurangi rasa apapun pada sore itu, karena aku masih penasaran dengan wanita muda ini. Kok kayaknya aku mengenalinya? kok sepertinya aku sudah kenal lama? Bukan wajahnya yang lugu, juga bukan senyumnya yang manis, namun perilaku dan karakternya membuatku ingin kenal dengan nya.
Jam lima sore itu, adalah awal dari cerita di blog ini. Jam lima sore itu adalah hari yang mengubah sejarah, menggoreskan tinta hitam di relung hatiku yang paling dalam. Berawal dari Jam lima Sore di Ruangan itu, aku seperti bermimpi, melihat cermin watak dan karakterku pada diri wanita itu. Lalu apa yang akan aku lakukan? apa yang terjadi selanjutnya?
Pagi kali ini ada yang lain, entah darimana datangnya, tiba-tiba setelah apel pagi aku berharap ada yang muncul di pintu. Sesekali aku melihat ke arah luar, apakah seseorang itu sudah datang atau belum. Dan seperti biasa jam delapan muncul sosok wanita muda itu. Beberapa saat dia menyalami semua yang ada di dalam ruangan termasuk aku, lalu duduk di tempat yang sudah disediakan khusus untuknya.
Tanpa sadar aku dan wanita muda itu mulai akrab, mulai dekat. Disamping membantu pekerjaanku, setiap saat kami berbincang diluar pekerjaan. Sesekali saling menanyakan tentang pribadi masing-masing, dan saat lain saling tertawa. Aku sudah seperti mengenalnya bertahun-tahun, padahal sesungguhnya baru kemaren sore jam lima petang aku mulai memperhatikan perilaku dan wataknya. Sepanjang pagi sampai siang itu terjadi rerasan antara aku dan wanita muda itu sebagai sesama sanguinis. Itu kesimpulan sementara, karena aku belum mengamati lebih dalam, apakah wanita muda itu benar-benar berkarakter sanguinis.
Waktu makan siang telah tiba, dan aku mengajaknya barengan ke warung. Hmm aku jadi teringat masa kuliah. Wanita ini memilih lauknya pisang goreng.... gak tau apa alasannya. Klo aku dulu makan nasi lauknya pisang goreng agar terasa lebih kenyang. Kupikir wanita ini punya alasan berbeda, atau mungkin kebiasaan saja. Gak terlalu penting untuk dibahas, namun penting untuk di catat sebagai bahan pembicaraan. Ingat : wanita membutuhkan alasan untuk mau dekat dengan kita. Teori lawas yang tidak lekang oleh waktu.
Makan siang ini menjadi titik balik baru, karena pasca makan siang terhembus isu yang kurang sedap. Isu kedekatan antara dua orang sanguinis yang sebenarnya belum apa-apa. baru tahap saling mengenal dan mungkin juga tidak akan pernah dekat sebagai seorang pria dan wanita, tetapi dekat sebagai sahabat yang saling bercermin untuk dirinya sendiri. Isu berhembus makin kencang, wanita muda itu mulai merasa tidak nyaman, mulai gundah dan menyatakan ketidakkerasanan menyelesaikan tugasnya di kantor.
Peristiwa baru dan isu baru namun bukan barang baru bagi aku, dah biasa banget dibicarakan dan di isukan sesuatu yang tidak pas atau tidak ada kenyataanya. Bagiku biar saja lewat, namun bagi wanita muda ini jelas belum terbiasa, sehingga sedikit menggangu konsentrasinya. Aku merasa bersalah, aku merasa harus bertanggung jawab atas kemelut ini. Seperti ada mendung di matanya, yang biasanya cerah berseri, tiba-tiba menjadi pendiam. Rerasan dua orang sanguinis ini menjadi isu hangat yang menarik untuk dibicarakan setiap orang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)