Sunday, December 21, 2025

Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI


Damar & Retno 

Di antara gemerisik angin pagi di padepokan kecil di pinggir kota, Damar selalu menemukan ketenangan. Lelaki itu telah lama mengabdikan diri sebagai pelatih silat—bukan sekadar mengajarkan gerak, tetapi menanamkan adab dan rasa. Namun satu hal yang tak ia sangka, bahwa sebuah rasa justru menamparnya kembali.

Retno. Muridnya yang datang dua tahun lalu dengan langkah ringan, wajah manis yang selalu tampak sejuk, dan gerak silat yang rapi seperti sudah sejak kecil ditempa angin dan tanah. Setiap kali Retno melangkah, Damar selalu merasa seperti melihat embun yang jatuh di ujung daun; bening, halus, tapi mampu memantulkan cahaya.

Mulanya Damar menahan diri. Usianya jauh lebih matang, dan ia telah berkeluarga. Tapi hati manusia kadang seperti daun kering yang tiba-tiba terseret angin: tak bisa memilih ke mana harus bergerak. Ia mencoba menjauh, namun justru di situlah ia semakin sering menoleh.

Retno pun tak buta. Ia merasakan sorot mata gurunya yang berubah—bukan sembunyi, tapi tak lantang. Ia pun menyimpan rasa yang tak berani ia beri nama. Hingga waktu yang memanjang dua tahun itu akhirnya memeras keberanian keduanya. Pada suatu sore setelah latihan panjang, Retno berdiri menunduk—entah menutupi lelah atau menahan gemuruh.

“Mas… jika perasaan itu memang ada, aku tak sanggup pura-pura tidak melihatnya,” ucap Retno lirih.

Damar terdiam. Ada hujan yang jatuh tanpa suara dalam dadanya. “Retno… hidupku bukan halaman kosong. Aku takut kita menanam sesuatu di tanah yang salah.”

Retno mengangguk, namun matanya basah. “Tapi hati manusia… kadang tumbuh di tempat yang tidak kita duga.”

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya, Damar menggenggam tangan Retno. Genggaman yang tak boleh dilihat siapa pun. Genggaman yang akan mereka bawa dalam perjalanan panjang penuh diam dan sembunyi.

Tahun berganti. Malam terakhir sebelum pergantian tahun, mereka memutuskan pergi ke Gunung Sumbing. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan pula sebagai dua manusia yang mencari pembenaran. Mereka hanya ingin menjadi dua hati yang sedang mencari ruang bernapas.

Angin di punggungan Sumbing malam itu menggigit. Kabut turun pelan seperti tirai tipis. Api kecil yang mereka buat tak benar-benar menghangatkan. Damar menatap Retno yang duduk memeluk lutut, wajahnya memerah oleh dingin.

“Dingin banget, Mas,” bisiknya.

Tanpa banyak kata, Damar merentangkan tangannya. Retno masuk ke dalam pelukan itu—perlahan, namun pasti. Di sana, di puncak dunia kecil milik mereka, tubuh mereka bertaut bukan karena nafsu, tetapi karena dingin yang begitu menyelimuti dan rindu yang sudah terlalu lama bersembunyi.

Angin melolong, tapi dada mereka terasa tenang.

Jam-jam itu berjalan pelan. Retno memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Damar. “Andai waktu bisa berhenti, Mas… aku ingin berhenti di sini saja.”

Damar menatap gelap yang tak sepenuhnya gelap. Hatinya penuh tanya. “Retno… aku takut. Takut pada apa yang kita jalani.”

“Tapi aku bahagia,” jawab Retno, suara serak oleh udara tipis.

Pelukan itu menguat. Dingin tak lagi menusuk. Yang tersisa hanya hangat yang sulit dijelaskan. Saling merapat, saling menjaga, seolah dunia luar tak pernah ada. Di sana cinta mereka mengikat semakin erat—bukan karena benar, bukan pula karena salah—tapi karena manusia kadang butuh tempat untuk meletakkan hatinya meski hanya sesaat.

Ketika kembang api di kejauhan meletup menyambut tahun baru, Damar dan Retno masih saling memeluk. Tidak merayakan, tidak bersorak. Mereka hanya diam—karena banyak hal dalam hidup lebih baik disimpan di antara dua dada yang saling bersandar.

Dan Gunung Sumbing malam itu menjadi saksi: bahwa cinta tak selalu datang pada saat yang tepat, tapi ia tetap datang. Membawa bahagia, membawa luka, membawa keraguan.

Namun pada pelukan panjang itu, mereka tak memikirkan apa pun selain satu hal:

Bahwa untuk satu malam, mereka diperbolehkan menjadi dua hati yang saling membutuhkan.

Noted : Sketsa digambar dengan AI


Wednesday, December 3, 2025

Semarang – Ajang pencarian bakat dan kompetensi pemasaran sektor pariwisata bertajuk Sibarista Marketer Award 2025 sukses terselenggara dengan antusiasme tinggi. Kompetisi ini menjadi wadah apresiasi sekaligus pembinaan bagi para pelaku pemasaran pariwisata dari berbagai unsur—mulai dari desa wisata, hotel, restoran, hingga industri hiburan.



Babak Penyisihan – 20 Oktober 2025

Babak penyisihan dilaksanakan pada 20 Oktober 2025 di Gedung Oudetrap, Kawasan Kota Lama Semarang. Sebanyak 60 peserta mengikuti tahap ini dengan mengerjakan tes tertulis yang mencakup berbagai aspek pemasaran modern, antara lain:

  • Branding

  • Advertising

  • Selling

  • Public Speaking

  • Grooming

Ajang ini dirancang tidak hanya untuk menguji pengetahuan teknis pemasaran, namun juga kemampuan personal branding dan komunikasi yang menjadi elemen penting dalam membangun citra pariwisata yang berdaya saing.

Babak Semifinal – 20 Peserta Terbaik

Setelah melalui proses penilaian, 20 peserta dengan skor tertinggi melaju ke babak semifinal. Pada tahap ini, peserta menjalani wawancara pendalaman dengan ruang lingkup kompetensi yang sama seperti sebelumnya, ditambah penilaian portofolio pemasaran dan/atau penjualan sebagai bukti konkret kontribusi mereka dalam unit kerja masing-masing.

Seluruh portofolio divalidasi oleh atasan langsung peserta untuk memastikan keaslian dan akurasi data penilaian.

Penetapan Finalis dan Grand Final

Dewan juri kemudian menggelar rapat final untuk menentukan peserta dengan akumulasi nilai tertinggi. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan penilaian portofolio, ditetapkan 5 finalis terbaik yang berhak melaju ke Babak Grand Final di Gedung Teater TBRS, Semarang.

Grand Final menampilkan presentasi terbaik dari para finalis, menegaskan kemampuan mereka dalam strategi pemasaran pariwisata, komunikasi publik, hingga inovasi program branding destinasi.

Hasil & Pemenang Sibarista Marketer Award 2025

 Kompetisi Sibarista Marketer Award 2025 menutup rangkaian kegiatan dengan penuh prestise. Dari 60 (atau lebih, menurut penyelenggara) peserta awal yang mewakili berbagai sektor pariwisata — hotel, desa wisata, restoran, dan tempat hiburan — telah melalui seleksi ketat sejak babak penyisihan, semifinal, hingga grand final. 

Pada babak Grand Final di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), dewan juri memutuskan lima pemenang utama berdasarkan gabungan hasil tes tertulis, wawancara mendalam, portofolio pemasaran/penjualan, serta performa presentasi. 

Dengan bangga, piala juara tertinggi jatuh pada Octaviani Shinta Dewi dari UP PEAK Hotel Simpang Lima — menunjukkan bahwa kualitas pemasaran pariwisata yang baik berasal dari kombinasi pengetahuan, kreativitas, serta upaya nyata di lapangan.  Selamat juga kepada Suhono (Juara II), Zunta Ovidani (Juara III), serta Bambang Wijanarko, Sumarman, dan Catur Bale sebagai juara harapan — semua menunjukkan potensi besar dalam memajukan pariwisata di Semarang. 

Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi kolektif bagi para pelaku wisata di Kota Semarang untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan membawa pariwisata kota ke tingkat lebih tinggi.


Sunday, November 30, 2025

 


SEMARANG, Jatengnews.id – Ajang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang resmi menobatkan Octaviani Shinta Dewi sebagai Juara I. Kompetisi bergengsi yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini menjadi wadah apresiasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang inovatif dan inspiratif.

Octaviani, yang akrab disapa Via, berhasil mengungguli para pesaingnya dalam babak Grand Final yang berlangsung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (6/11/2025).

Posisi kedua diraih oleh Suhono dari Desa Wisata Kandri, sementara Juara III diraih oleh Zunta Ovidani dari Hotel Louis Kienne Jalan Pemuda, Semarang.

Usai menerima penghargaan, Via dari UP PEAK Hotel Simpang Lima mengaku bangga sekaligus terharu atas pencapaian yang diraihnya.

Baca jugaSibarista Bikin 10 Kandri Baru di Desa Wisata Jatirejo Semarang

“Setelah melalui seluruh proses penilaian, rasanya bahagia dan bangga bisa meraih juara. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi saya untuk terus berkontribusi bagi pariwisata Kota Semarang,” ujarnya saat ditemui, Jatengnews.id.

Via menilai, ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana pembelajaran dan kolaborasi antar peserta.

“Persaingannya sangat sehat, karena para finalis bisa saling berbagi ilmu dan menyemangati satu sama lain. Harapannya, setelah ini bisa terjalin kolaborasi yang baik antar pelaku wisata di Semarang,” tambahnya.

Peserta Lebih Beragam

Ajang ini merupakan puncak dari rangkaian seleksi yang melibatkan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari berbagai sektor, mulai dari desa wisata, tempat hiburan, restoran, hingga hotel dan lainnya.

Salah satu dewan juri, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini lebih luas dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun ini jumlah peserta lebih banyak menjadi sekitar 70 orang dibanding tahun sebelumnya. Ruang lingkupnya juga lebih luas, tidak hanya dari hotel, tapi juga dari desa wisata, tempat hiburan, dan restoran. Jadi tantangannya semakin beragam,” jelas Eko.

Menurutnya, penilaian tahun ini menitikberatkan pada kemampuan personal peserta dalam aspek penjualan dan strategi pemasaran kreatif.

“Kami menilai dari hasil tes tertulis, wawancara, hingga performa presentasi. Selai n itu, portofolio peserta juga menjadi pertimbangan penting karena menunjukkan pencapaian mereka selama setahun terakhir,” imbuhnya.

Disbudpar Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Pariwisata

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Kota Semarang, Monie Adityorini, yang mewakili Kepala Dinas, menjelaskan bahwa tahun ini ruang lingkup peserta diperluas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor di dunia pariwisata.

“Kalau tahun lalu hanya melibatkan pelaku desa wisata, tahun ini kami merangkul lebih banyak pihak seperti hotel, restoran, tempat hiburan, hingga komunitas pariwisata. Tujuannya agar semua elemen dapat bersama-sama mempromosikan Kota Semarang,” jelas Monie.

Ia menegaskan bahwa Dinas Pariwisata tidak bisa bekerja sendiri dalam menggerakkan sektor pariwisata. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di acara penghargaan saja, tapi berlanjut dalam kerja sama nyata. Misalnya, saat ada event tanggal 7-8 seperti Festival Wayang Semesta, semua pihak bisa terlibat bersama menjadikannya magnet wisatawan ke Kota Semarang,” paparnya.

Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

“Semakin banyak wisatawan datang ke Semarang, maka pergerakan ekonomi juga akan meningkat. Kami ingin wisatawan tak hanya datang ke ikon besar seperti Kota Lama atau Lawang Sewu, tetapi juga mengenal desa wisata yang kini sudah siap dipromosikan,” tambahnya.

Baca jugaRembug Pariwisata 2025: Semarang Mantapkan Langkah Menuju Transformasi Digital Wisata

Monie berharap, kegiatan seperti Sibarista Marketer Award dapat terus berlanjut dan berkembang sebagai wadah kolaborasi antar pelaku pariwisata.

“Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut, semakin besar, dan semakin banyak pihak yang terlibat. Karena semangatnya adalah bagaimana kita bersama-sama memajukan pariwisata Kota Semarang,” pungkasnya.

Daftar Pemenang Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang

Berikut hasil penilaian dewan juri Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang:

Juara I: Octaviani Shinta

Juara II: Suhono

Juara III: Zunta Ovidani

Juara Harapan I: Bambang Wijanarko

Juara Harapan II: Sumarman

Juara Harapan III: Catur Bale

Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi Dinas Pariwisata Kota Semarang terhadap para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terus berinovasi serta berkontribusi dalam memajukan sektor pariwisata melalui strategi pemasaran yang kreatif, kolaboratif, dan berkelanjutan. (01).

sumber : Octaviani Shinta Dewi Raih Juara I Sibarista Marketer Award 2025 Kota Semarang


Thursday, October 30, 2025

2. Desa Wisata Nongkosawit


Pagi baru saja membuka tirai di Desa Wisata Nongkosawit. Kabut tipis masih menempel di pucuk bambu, sementara angin lembut berhembus membawa aroma tanah yang basah semalam. Di tengah halaman rumah joglo yang teduh, bunyi gamelan pelan-pelan mengisi udara—ting, dung, ting, dung—mengalun seperti sapaan ramah dari masa lalu.

Di satu sudut, Ibu-ibu tersenyum sambil memukul bilah logam kuningan, menciptakan irama yang membuat hati ikut menari. Tak jauh dari situ, sepasang tangan muda tengah sibuk merangkai manik-manik warna-warni menjadi gelang cantik. Setiap simpul tali seperti mengikat makna: kesabaran, ketelatenan, dan cinta pada tradisi. Lalu di halaman rumput yang hijau, seorang penari berbalut kebaya kuning mulai menggerakkan tubuhnya. Lenggoknya lembut, tapi berwibawa—seolah setiap gerakan adalah doa bagi bumi Nongkosawit.

Di desa ini, wisata bukan sekadar datang dan melihat, tapi ikut hidup di dalamnya. Setiap nada gamelan mengajak kita mendengar harmoni, setiap kerajinan mengajarkan makna tangan yang bekerja, dan setiap tarian mengingatkan bahwa budaya bukan barang pajangan, melainkan napas yang terus berdenyut.

Nongkosawit tidak menjual gemerlap, tapi menghadirkan keindahan dalam kesederhanaan. Ia mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati ada pada kebersamaan, pada tawa yang lahir dari gotong royong, dan pada rasa bangga menjaga warisan.

Saat matahari naik, cahaya menimpa wajah-wajah yang penuh semangat. Di sini, masa lalu dan masa kini bersatu, menciptakan harmoni yang membuat siapa pun betah berlama-lama. Nongkosawit bukan sekadar desa wisata—ia adalah panggung kecil di mana budaya hidup kembali dengan senyum yang tulus dan irama yang abadi.



 1. Desa Wisata Kandri


Pagi di Desa Wisata Kandri selalu dimulai dengan senyum. Udara masih basah oleh embun, sawah berkilau diterpa cahaya matahari yang malu-malu muncul dari balik bukit. Burung-burung berceloteh riang, seolah tahu bahwa hari ini akan jadi cerita indah bagi siapa pun yang datang. Begitu menginjakkan kaki di sini, suasananya langsung berbeda—lebih pelan, lebih jujur, lebih manusiawi.

Di Kandri, wisata bukan soal melihat, tapi mengalami. Cobalah paket “nyawah” — di sinilah sepatu dilepas, kaki menjejak lumpur, dan tawa pecah bersama petani yang mengajari cara menanam padi dengan sabar dan jenaka. Setelah itu, lanjut cabut singkong. Jangan kaget kalau ternyata singkongnya lebih bandel dari yang dibayangkan! Tapi di situlah serunya: sedikit peluh, banyak canda, dan hasil bumi yang langsung bisa dinikmati bersama.

Belum puas? Mari duduk di bawah pohon rindang, melukis caping dengan warna-warna ceria. Ada yang menggambar bunga, ada yang menulis nama gebetan—semuanya sah, karena di Kandri, kreativitas bebas menari. Dan ketika matahari mulai condong, perahu wisata siap menunggu di tepi sungai. Airnya tenang, hembusan anginnya lembut, dan percikan kecil di permukaan air seolah menulis puisi sederhana: bahagia itu sesederhana ini.

Desa Wisata Kandri bukan sekadar tempat singgah, tapi ruang belajar untuk kembali mencintai hal-hal kecil yang sering kita lupakan. Di sini, kita tidak sekadar berlibur, tapi juga belajar bersyukur. Karena di setiap lumpur, caping, singkong, dan kayuh perahu, ada makna tentang kehidupan yang mengalir pelan namun pasti.

Kandri — di mana wisata menjadi cerita, dan cerita menjadi kenangan yang sulit dilupakan.


Sunday, October 12, 2025

Pagi itu, di lobi sebuah hotel di Semarang, seorang resepsionis menyambut tamu dengan senyum tulus. Ia bukan hanya melayani, tapi mewakili keramahan kota ini. Di tempat lain, seorang barista menata latte art bergambar Lawang Sewu, lalu memotret hasilnya dan mengunggah ke Instagram dengan tagar #WisataSemarang. Tak jauh dari sana, pemilik homestay kecil sibuk membalas pesan di WhatsApp, menawarkan promo akhir pekan.

Mereka berbeda profesi. Tapi ada satu semangat yang sama menyatukan mereka: mereka semua adalah marketer.

Inilah semangat komunitas  Sibarista — komunitas Sinau Bareng Pemasaran Pariwisata Semarang yang percaya bahwa promosi bukan hanya soal iklan, tapi tentang bagaimana setiap dari kita menebarkan cerita.
Cerita tentang keramahan, keindahan, dan kebanggaan terhadap kota yang kita cintai.

Kita tak menunggu peluang datang.
Kita menciptakannya — melalui website dan media sosial yang aktif, kolaborasi dengan influencer dan content creator, hingga iklan digital di Google, marketplace, dan OTA. Kita bergerak juga di dunia nyata, lewat sales mission, table top, roadshow, dan pameran. Setiap langkah, setiap senyum, setiap unggahan, adalah bagian dari strategi besar mempromosikan Semarang.

Sibarista mengajarkan bahwa promosi bukan tanggung jawab satu divisi, tapi budaya bersama.
Ketika semua orang ikut berbagi cerita positif, kekuatan itu menjadi tak terbendung.
Dan dari sinilah, Semarang bersinar — bukan hanya sebagai kota tujuan wisata, tapi sebagai rumah bagi orang-orang yang mencintai pariwisatanya dengan sepenuh hati. ❤️

Sibarista – We Are All Marketer!
Karena setiap dari kita punya peran untuk membawa Semarang lebih dikenal, lebih dicintai, dan lebih mendunia. 🌍


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata