Wednesday, February 25, 2026

Kampung Jajan Pasar Bangetayu Kulon yang berlokasi di Bugen Utara RW 03, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kota Semarang, merupakan destinasi wisata yang menawarkan pengalaman unik dan berkesan. Di tempat ini, pengunjung dapat memilih beragam paket edukasi dan wisata menarik, mulai dari belajar kuliner tradisional, membuat tas sekolah, hingga wisata religi yang sarat makna.

Berikut beberapa pilihan paket yang dapat dinikmati:

1. Paket Edukasi Kuliner

Paket ini sangat cocok bagi para pecinta kuliner tradisional. Dalam durasi 3 jam, pengunjung akan disambut hangat dengan sajian snack serta pertunjukan tarian tradisional. Selanjutnya, peserta diajak belajar membuat Syrup Jahe dan Wedang Telang yang menyegarkan.

Tidak hanya itu, peserta juga dapat mengikuti kelas memasak untuk membuat hidangan tradisional seperti Nasi Merah, Manyung Gembus, dan Es Putu Mayang. Paket ini sudah termasuk makan siang serta kunjungan ke pusat pembuatan tas.

Harga paket ini adalah Rp70.000 per orang dengan minimal 20 peserta.

2. Paket Pembuatan Tas Sekolah

Bagi yang menyukai aktivitas kreatif, paket ini menjadi pilihan yang tepat. Dengan durasi 2 jam, pengunjung akan mendapatkan sambutan meriah sebelum diajak mengunjungi UMKM Syrup Jahe dan UMKM Tas.

Di sana, peserta akan memperoleh edukasi mengenai proses produksi serta kesempatan untuk mencoba langsung membuat tas sekolah.

Paket ini ditawarkan dengan harga Rp70.000 per orang dengan minimal 15 peserta.

3. Paket Musholla Ka’bah

Untuk pengunjung yang menginginkan pengalaman spiritual, tersedia Paket Musholla Ka’bah. Dalam waktu 3 jam, peserta akan diajak berziarah ke Musholla Ka’bah sekaligus mengikuti kegiatan edukatif.

Pengunjung dapat belajar membuat souvenir berupa gantungan kunci rajut, serta mengikuti kelas memasak jajanan pasar seperti Klepon dan Putu Mayang. Paket ini sudah termasuk makan siang.

Harga paket ini adalah Rp80.000 per orang dengan minimal 20 peserta.


Segera rencanakan kunjungan Anda ke Desa Wisata Kampung Jajan Pasar Bangetayu Kulon dan rasakan langsung pengalaman wisata yang edukatif, kreatif, serta penuh nilai kebersamaan.



Di Desa Wisata Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, terdapat sebuah ruang sederhana yang menyimpan makna besar: Omah Pang. Berlokasi di RT 2 RW 1, tepat di sebelah utara Kantor Kelurahan Nongkosawit, tempat ini menjadi salah satu spot unggulan yang memikat hati para pengunjung.

Omah Pang bukan sekadar bangunan kayu. Ia dihadirkan sebagai ruang tumbuh bagi anak-anak—tempat mereka belajar melestarikan seni dan budaya, sekaligus berinteraksi sosial secara langsung. Di tengah derasnya arus digital, Omah Pang menjadi ruang alternatif agar anak-anak tidak larut dalam ketergantungan gadget, melainkan kembali akrab dengan permainan tradisional dan kebersamaan.

Proses pembangunannya memakan waktu sekitar empat bulan, sejak Januari hingga April 2019. Pang—atau ranting—yang digunakan berasal dari kayu jati, memberikan kesan kokoh sekaligus alami pada bangunannya.

Berkunjung ke Omah Pang serasa melangkah mundur ke masa lalu. Bangunan kayu berdiri teduh di bawah rindangnya pepohonan. Halaman rumahnya masih berselimut tanah liat, menghadirkan suasana yang hangat, membumi, dan penuh nostalgia.

Di area ini, anak-anak bebas bermain egrang, dakon, blarak sempal, serta berbagai permainan tradisional lainnya. Tawa mereka menyatu dengan semilir angin desa. Menariknya, Omah Pang terbuka untuk semua kalangan dan dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya.

Tak hanya Omah Pang, Desa Wisata Nongkosawit juga menawarkan beragam pesona lain. Pengunjung dapat mencoba sensasi river tubing di Kali Jedung, menikmati keindahan Curug Mahtukung, menyusuri sawah terasering yang hijau membentang, bermain tubruk ikan, hingga merasakan pengalaman wisata tanam padi yang sarat makna.

Nongkosawit bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman—tentang kembali pada alam, tradisi, dan kebersamaan yang sederhana namun berharga.


Tuesday, December 23, 2025

Bagian 1

Pendakian Massal Merbabu: Bibit Rasa Mulai Bersemi

Pendakian massal itu bermula dari sebuah pengumuman sederhana di papan kampus. Gunung Merbabu, dengan jalur panjang dan sabana luasnya, akan menjadi saksi ratusan langkah anak muda yang haus petualangan. Aku mendaftar tanpa banyak pikir, hanya ingin menguji kaki dan paru-paru. Tak pernah terlintas bahwa di sanalah hatiku ikut mendaki.

Di tengah rombongan yang riuh oleh tawa dan teriakan semangat, aku melihatmu. Kemeja flanelmu tampak biasa saja, tapi caramu tersenyum pada semua orang membuat suasana menjadi ringan. Kita tidak langsung berjalan berdampingan, hanya sesekali bertukar pandang saat berhenti mengambil napas.

Merbabu mengajarkan kami untuk sabar. Jalurnya panjang, kadang landai, kadang menanjak tanpa ampun. Saat kakimu terpeleset di tanah berdebu, reflek aku mengulurkan tangan. “Terima kasih,” katamu singkat, tapi sejak itu langkah kita seolah berirama.

Malam turun di pos peristirahatan. Api unggun kecil menyala, kopi dibagi dalam gelas seadanya. Kita duduk berdekatan, berbagi cerita ringan—tentang rumah, tentang rencana hidup yang masih samar. Angin dingin Merbabu berhembus, tapi entah mengapa dadaku terasa hangat. Tanpa kusadari, bibit rasa itu mulai bersemi, pelan namun pasti.

Bagian 2

Bus Magelang–Jogja: Ku Ungkap Rasa Padamu

Pendakian berakhir, tapi cerita tidak ikut turun bersama kami. Dari Magelang menuju Jogja, kami duduk di bangku bus yang sama—sebuah kebetulan yang terasa terlalu manis untuk disebut kebetulan.

Bus melaju perlahan, melewati sawah dan desa-desa yang seolah tak peduli pada kegelisahanku. Di dalam, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain, namun pikiranku hanya tertuju padamu. Tanganku dingin, bukan karena AC bus, melainkan oleh keberanian yang sedang kupaksa tumbuh.

Kita membicarakan hal-hal kecil lagi—tentang capeknya kaki, tentang foto-foto yang belum dicetak, tentang Merbabu yang rasanya terlalu cepat ditinggalkan. Lalu ada jeda. Hening yang panjang, cukup untuk membuat jantung berdetak terlalu keras.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” kataku akhirnya. Kau menoleh, menungguku melanjutkan. Kata-kata itu keluar sederhana, tanpa puisi, tanpa janji besar—hanya kejujuran tentang rasa yang tumbuh sejak di jalur pendakian.

Kau tersenyum, tidak terkejut, seolah telah membaca semuanya dari caraku berjalan di sampingmu. Bus terus melaju, tapi sejak saat itu, dunia terasa berhenti sejenak. Aku tak tahu ke mana arah cerita ini, tapi aku tahu satu hal: aku tak lagi menyimpan rasa sendirian.

Bagian 3

Terlanjut Mengungkap Rasa: Tak Pernah Apel Malming

Mengungkap rasa ternyata bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang tak biasa. Kita tidak pernah benar-benar menjadi pasangan seperti di cerita kebanyakan orang. Tak ada apel malam minggu, tak ada janji bertemu rutin di hari libur.

Consideration always came first. Kesibukan, jarak, dan waktu yang tak selalu berpihak membuat hubungan kita berjalan apa adanya. Kita lebih sering berbagi kabar singkat, cerita sederhana, dan kenangan lama yang terus kita rawat.

Aneh memang—tanpa malam minggu, tanpa genggaman tangan di keramaian kota—namun rasa itu tidak pudar. Justru Merbabu menjadi titik pulang dalam ingatan. Setiap kali hidup terasa berat, aku kembali ke sana, pada sabana luas, api unggun kecil, dan bangku bus yang menjadi saksi kejujuran.

Kini, waktu telah berjalan jauh. Rambut mungkin mulai beruban, langkah tak lagi sering mendaki. Tapi “Kenangan Merbabu” tetap utuh—bukan sekadar cerita cinta, melainkan tentang keberanian mengakui rasa, meski akhirnya tak selalu berakhir seperti yang dibayangkan.

Dan mungkin, justru di sanalah keindahannya.





Sunday, December 21, 2025

Tebing Pantai Siung

Aku tak sempat melihat bayangannya berkelebat. Tidak ada teriakan, tidak ada suara jatuh, tidak ada jejak yang bisa kuikuti. Semua begitu cepat—terlalu cepat untuk sebuah penyesalan yang baru kusadari datangnya belakangan.

Debur ombak Pantai Siung seakan menertawakan kebodohanku. Ia menghantam karang dengan irama yang kejam, seperti mengejek ketidakmampuanku menjaga seseorang yang semestinya tak kutinggalkan sendirian di tepi jurang itu. Penyesalan, pada akhirnya, memang selalu datang sebagai barang sisa—tak pernah berguna.

Aku memejamkan mata, mencoba menata ulang ingatan.

Semalam, kami duduk di depan parkiran Mbah Wasto. Hanya berdua. Hujan turun deras, mengguyur bumi tanpa kompromi, tapi kami tidak peduli. Kami berbincang ngalor-ngidul, dari hal remeh sampai perkara yang terlalu dalam untuk disebutkan. Tentang lelah hidup, tentang rindu pulang ke alam, tentang diam yang lebih jujur daripada kata-kata.

Hujan tak memutus percakapan. Malam berjalan tanpa terasa. Kata-kata mengalir seperti sungai yang lupa muaranya. Aku bahkan tak ingat kapan pagi mulai menyelinap di sela-sela gelap, karena suara kami masih saja menyambung—seolah jika berhenti berbicara, sesuatu akan runtuh.

Aneh.
Kami sendiri tak benar-benar tahu obrolan itu milik siapa dengan siapa.

Teman?
Sahabat?
Saudara?
Atau dua orang yang diam-diam saling menunggu keberanian?

Status, semalam, kami sepakat untuk menyingkirkannya. Tak penting, katanya. Apalagi setelah malam di hutan beberapa hari lalu—malam panjang yang kami lewati tanpa kejadian apa pun. Semuanya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kami yakini.

Namun pagi ini membantah semuanya.

Pagi di tepi jurang Pantai Siung membuatku sadar: kami tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dipendam gadis berkaos putih itu. Sesuatu yang tak ia ucapkan, tapi kini berteriak lewat kehilangannya.

Matahari semakin tinggi. Panas kian menyengat. Aku berlari menyusuri tepian, memanggil namanya berulang kali—namun suaraku kalah oleh angin laut. Kekhawatiran menumpuk di dada: apakah ia terjatuh ke jurang? Apakah seseorang membawanya pergi? Ataukah ia tersesat, dikejar kera ekor panjang yang berkeliaran di sekitar tebing?

Tebung Pantai Siung

Aku mencari ke setiap sudut yang bisa kujangkau. Setiap langkah terasa sia-sia, namun berhenti terasa lebih kejam.

Aku belum menemukannya.

Yang kutemukan hanya kaos putih itu—terbayang di kepalaku, berdiri di tepi jurang, dengan mata yang mungkin menyimpan cerita yang tak sempat kuceritakan ulang.

Dan di antara deru ombak yang tak pernah lelah, aku akhirnya mengerti:
ada perpisahan yang tak pernah mengucapkan salam.
Ada kehilangan yang datang bukan karena pergi,
melainkan karena kita terlalu lama mengira semuanya baik-baik saja.

Aku masih mencari.
Dan mungkin, sebagian dari diriku akan terus mencari—
bahkan jika gadis berkaos putih itu hanya tinggal sebagai kenangan
yang tak pernah benar-benar pulang.


Alvin & Kasih

Alvin selalu mudah dikenali. Tubuh atletis, wajah ganteng yang bersahaja, kemeja flanel kotak-kotak yang tak pernah absen, topi outdoor meneduhkan mata, dan tas punggung Eiger yang menemaninya ke mana pun pergi—ke kampus, ke pasar Johar, bahkan ke mimpi-mimpi yang ia simpan rapat. Ia pendaki gunung, dan hidupnya adalah tanjakan yang tak selalu ramah.

Kasih adalah puncak yang paling ia rindukan. Gadis muda yang sangat—sangat—cantik, pendaki gunung dengan gaya anak gunung sejati. Senyumnya hangat, matanya jernih. Namun cinta mereka berdiri di antara dua dunia yang berjarak: perbedaan kasta. Kasih adalah anak pengusaha terkenal dengan kekayaan miliaran; Alvin anak rantau yang kuliah sambil bekerja serabutan, menjadi kuli panggung di Pasar Johar demi bertahan.

Tempat mereka bertemu dunia adalah Kuliner Kampung Jawi, Gunungpati. Murah, syahdu, romantis. Di sana, mereka bisa duduk dari buka sampai tutup, berbagi cerita, menyimpan harap.

“Aku selalu kagum sama kamu,” kata Kasih suatu malam, jemarinya melingkar di gelas wedang.
“Kagum kenapa?”
“Kamu cerdas. Kamu berani. Kamu tetap sopan meski hidupmu keras.”

Alvin tersenyum, menunduk sebentar.
“Kalau aku kagum sama kamu karena kamu memanusiakan manusia,” katanya pelan. “Kamu hangat ke siapa pun.”

Malam Sabtu itu, rencana pendakian mereka mengambang di udara seperti kabut. Mereka mencoba menyusun strategi pamit pada orang tua Kasih—cerita ini, alasan itu—namun selalu mentok. Tak ada celah yang aman.

“Kalau aku bilang ke Mama mau nginep di rumah teman…”
“Nanti dicek,” potong Alvin.
“Kalau ada acara kampus?”
“Sudah terlalu sering,” Alvin menghela napas.

Keheningan jatuh. Lampu-lampu Kampung Jawi berpendar lembut, seolah mengerti.

“Aku capek,” suara Kasih bergetar. “Maaf ya, Vin… belum bisa.”

Air mata jatuh tanpa permisi. Alvin merengkuhnya, pelukan yang tak berisik tapi kokoh.
“Jangan minta maaf,” bisiknya. “Kita cuma sedang menunggu waktu.”

Kasih menggeleng pelan di dadanya. “Aku pengen mendaki sama kamu.”

“Aku juga.”

Saat mereka berpisah dari pelukan, jarak itu menipis sendiri. Tatapan bertaut. Tak ada rencana, tak ada niat—hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk dihindari. Ciuman itu datang lembut, ragu, indah. Kasih tersenyum malu setelahnya, pipinya merona, matanya berkaca.

“Maaf,” katanya kecil.
“Jangan,” Alvin tersenyum. “Ini bukan salah.”

Malam menutup kisah itu dengan sunyi yang manis. Di antara flanel dan dunia yang berbeda, mereka belajar: cinta tak selalu mendaki hari ini—kadang ia bertahan, setia, menunggu cuaca baik.


Awan dan Ninis di Tugu Jogja

Awan dikenal di kampus sebagai aktivis mahasiswa yang jarang absen dari barisan diskusi dan barisan gunung. Tubuhnya atletis, wajahnya ganteng dan hampir selalu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan tas punggung setia di bahu. Malam itu, malam minggu, ia hendak menengok Pendidikan Dasar Pecinta Alam di lereng Merapi, tepat di belakang rumah almarhum Mbah Marijan, hingga Gua Jepang.

Rencananya sederhana. Datang, menengok, lalu pulang.

Namun rencana sering kalah oleh satu hal: Ninis.

“Aku ikut,” kata Ninis sambil menyilangkan tangan, nada suaranya datar tapi tak memberi celah.

“Ini malam, Nin. Lereng Merapi. Gelap,” jawab Awan.

“Makanya aku ikut kamu.”

Ninis gadis polos berambut panjang, kulitnya hitam manis terbakar matahari, wajahnya cenderung bulat, tubuhnya langsing bahkan hampir kurus. Tatapannya tenang, tapi keras kepala. Awan menyerah.

Perjalanan naik terasa biasa—sampai gelap benar-benar menelan lereng Merapi. Angin menyapu dedaunan, kabut turun pelan, dan lampu senter seperti titik kecil yang mudah hilang.

Sejak itu, Ninis berubah.

“Awan…” suaranya mengecil, tangannya menarik lengan flanel Awan.
“Kamu kenapa?”
“Gelap.”

Sejak saat itu, Ninis nempel. Mau wudhu minta diantar. Mau sholat minta ditungguin.

“Awan, jangan ke mana-mana ya.”
“Aku di sini, Nin.”

Bahkan ketika ia berbisik paling pelan,
“Awan… aku mau pipis.”

Awan terdiam.
“Di toilet sana.”
“Temenin.”
“Di luar aja, Nin.”
“Di dalem. Gelap…”

Awan menghela napas, pasrah.

Kebersamaan yang runtang-runtung itu tak luput dari mata para senior pecinta alam. Bisik-bisik mulai beredar, senyum setengah mengejek, tatapan penuh tafsir.

“Itu pacarnya ya?”
“Kayaknya lebih dari itu.”
“Baru juga datang.”

Ninis mulai gelisah. Tatapannya tak lagi nyaman.

“Awan,” katanya pelan. “Aku pengen turun.”

“Sekarang?”
“Iya. Ke Tugu Jogja.”

Awan menatap jam tangan. Hampir tengah malam.
“Kamu mau apa di Tugu?”
“Foto. Sepi. Aku pengen.”

Mereka turun, menembus malam. Sekitar pukul tiga dini hari, Tugu Jogja berdiri sunyi, lampu-lampu menyala lembut. Jalanan lengang. Kota seperti menahan napas.

Ninis berdiri di depan tugu, rambutnya tergerai, senyum kecil muncul.
“Ambilin aku foto ya.”
Awan mengangguk, mengabadikan momen yang terasa sederhana tapi hangat.

Setelahnya, kantuk datang bersamaan. Mereka mencari penginapan kecil, hanya untuk tidur sejenak sebelum lanjut ke Pantai Siung.

Di kamar sempit dengan lampu temaram, sunyi kembali menyergap—tapi kali ini bukan sunyi yang menakutkan.

Ninis duduk di tepi ranjang.
“Awan…”
“Kenapa?”
“Makasih ya.”

Awan tersenyum. Mereka saling menatap, jarak menipis tanpa rencana. Detik berjalan lambat. Nafas mereka saling bersentuhan.

Tanpa kata, Awan mendekat.

Ninis memejamkan mata.

Ciuman itu singkat, ragu, hangat. Ninis tersenyum malu, menunduk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Awan.

“Jangan ketawa,” katanya pelan.
“Aku nggak ketawa,” jawab Awan sambil tertawa kecil.

Di luar, Jogja tetap sunyi.
Di dalam kamar kecil itu, dua hati menemukan sesuatu yang tak diduga—
namun diam-diam, diharapkan.

Sketsa Foto digambar dengan AI


Damar & Retno 

Di antara gemerisik angin pagi di padepokan kecil di pinggir kota, Damar selalu menemukan ketenangan. Lelaki itu telah lama mengabdikan diri sebagai pelatih silat—bukan sekadar mengajarkan gerak, tetapi menanamkan adab dan rasa. Namun satu hal yang tak ia sangka, bahwa sebuah rasa justru menamparnya kembali.

Retno. Muridnya yang datang dua tahun lalu dengan langkah ringan, wajah manis yang selalu tampak sejuk, dan gerak silat yang rapi seperti sudah sejak kecil ditempa angin dan tanah. Setiap kali Retno melangkah, Damar selalu merasa seperti melihat embun yang jatuh di ujung daun; bening, halus, tapi mampu memantulkan cahaya.

Mulanya Damar menahan diri. Usianya jauh lebih matang, dan ia telah berkeluarga. Tapi hati manusia kadang seperti daun kering yang tiba-tiba terseret angin: tak bisa memilih ke mana harus bergerak. Ia mencoba menjauh, namun justru di situlah ia semakin sering menoleh.

Retno pun tak buta. Ia merasakan sorot mata gurunya yang berubah—bukan sembunyi, tapi tak lantang. Ia pun menyimpan rasa yang tak berani ia beri nama. Hingga waktu yang memanjang dua tahun itu akhirnya memeras keberanian keduanya. Pada suatu sore setelah latihan panjang, Retno berdiri menunduk—entah menutupi lelah atau menahan gemuruh.

“Mas… jika perasaan itu memang ada, aku tak sanggup pura-pura tidak melihatnya,” ucap Retno lirih.

Damar terdiam. Ada hujan yang jatuh tanpa suara dalam dadanya. “Retno… hidupku bukan halaman kosong. Aku takut kita menanam sesuatu di tanah yang salah.”

Retno mengangguk, namun matanya basah. “Tapi hati manusia… kadang tumbuh di tempat yang tidak kita duga.”

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya, Damar menggenggam tangan Retno. Genggaman yang tak boleh dilihat siapa pun. Genggaman yang akan mereka bawa dalam perjalanan panjang penuh diam dan sembunyi.

Tahun berganti. Malam terakhir sebelum pergantian tahun, mereka memutuskan pergi ke Gunung Sumbing. Bukan sebagai guru dan murid. Bukan pula sebagai dua manusia yang mencari pembenaran. Mereka hanya ingin menjadi dua hati yang sedang mencari ruang bernapas.

Angin di punggungan Sumbing malam itu menggigit. Kabut turun pelan seperti tirai tipis. Api kecil yang mereka buat tak benar-benar menghangatkan. Damar menatap Retno yang duduk memeluk lutut, wajahnya memerah oleh dingin.

“Dingin banget, Mas,” bisiknya.

Tanpa banyak kata, Damar merentangkan tangannya. Retno masuk ke dalam pelukan itu—perlahan, namun pasti. Di sana, di puncak dunia kecil milik mereka, tubuh mereka bertaut bukan karena nafsu, tetapi karena dingin yang begitu menyelimuti dan rindu yang sudah terlalu lama bersembunyi.

Angin melolong, tapi dada mereka terasa tenang.

Jam-jam itu berjalan pelan. Retno memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Damar. “Andai waktu bisa berhenti, Mas… aku ingin berhenti di sini saja.”

Damar menatap gelap yang tak sepenuhnya gelap. Hatinya penuh tanya. “Retno… aku takut. Takut pada apa yang kita jalani.”

“Tapi aku bahagia,” jawab Retno, suara serak oleh udara tipis.

Pelukan itu menguat. Dingin tak lagi menusuk. Yang tersisa hanya hangat yang sulit dijelaskan. Saling merapat, saling menjaga, seolah dunia luar tak pernah ada. Di sana cinta mereka mengikat semakin erat—bukan karena benar, bukan pula karena salah—tapi karena manusia kadang butuh tempat untuk meletakkan hatinya meski hanya sesaat.

Ketika kembang api di kejauhan meletup menyambut tahun baru, Damar dan Retno masih saling memeluk. Tidak merayakan, tidak bersorak. Mereka hanya diam—karena banyak hal dalam hidup lebih baik disimpan di antara dua dada yang saling bersandar.

Dan Gunung Sumbing malam itu menjadi saksi: bahwa cinta tak selalu datang pada saat yang tepat, tapi ia tetap datang. Membawa bahagia, membawa luka, membawa keraguan.

Namun pada pelukan panjang itu, mereka tak memikirkan apa pun selain satu hal:

Bahwa untuk satu malam, mereka diperbolehkan menjadi dua hati yang saling membutuhkan.

Noted : Sketsa digambar dengan AI


📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata