Tuesday, April 15, 2014

Jalan terjal menuju curug sudah terbayang di didepan mata. Cuaca masih cerah saat aku mulai menyusuri jalan desa, namun cuaca berubah sedikit gelap ketika mulai memasuki jalan setapak. Tak ada tanda-tanda bahwa didepanku banyak orang yang sudah naik ke curug karena jalan berbatu itu sulit untuk mengenali jejak kaki yang masih baru.

Setelah beberapa lama menyusuri tebing yang curam, perjalanan harus menyeberangi sungai beberapa kali. Ada yang sudah dibuatkan jembatan kayu, namun ada juga yang harus masuk ke dalam sungai. Mula-mula sungai tidak begitu terjal dan dalam, namun ketika memasuki kawasan curug berubah menjadi sangat terjal dan dalam. Cukup menantang untuk treker pemula dan juga jalannya bervariasi. Ada tebing, jalanan setapak, aliran sungai dan di sisi kanan dan kiri jalan setapak terdapat bekas-bekas perapian yang dibuat oleh para treker.
Beberapa petunjuk arah cukup membantu kelancaran perjalananku. Namun dibererapa belokan jalan setapak belum ada petunjuk arah sama sekali sehingga kadang harus bergerak ke semua kemungkinan arah yang ada untuk melihat jejak jekak kaki yang ada.


Beberapa pohon tumbang menghalangi jalanku, ada yang mudah untuk dilalui namun ada juga yang membuat bingung, karena pohon tumbang melintang di sungai dan menutup akses jalan setapak. Ibarat bermain seperti pramuka diwaktu sekolah lagi untuk dapat menembus rintangan dengan jalan merunduk, merayap, bergantung di pohon dan juga melompat dan meloncat.
Jembatan kayu yang digunakan untuk menyeberang sungai sebagian sudah lapuk dan sangat licin, sehingga aku harus super hati-hati untuk meniti jembatan itu menuju seberang sungai. Kupikir jembatan kayu ini lebih baik daripada harus masuk ke dalam sungai.
Beberapa saat menjelang curug aku bertemu dengan sepasang muda -mudi yang sudah turun dari curug. Aku sempat berbincang dan bertanya apakah destinasi masih jauh atau sudah mendekati. Muda - mudi itu menjawab bahwa tinggal 3 kali tanjakan lagi sudah sampai di curug benowo.
Dengan semangat aku mulai melangkah lagi untuk segera sampai di tempat tujuan. terbayang indahnya air terjun yang membelah sungai benowo

“Jantungku berdebar kencang, jalan di pinggir tebing itu longsor, nyawaku bergantung pada 3 batang bambu yang ditancapkan di tanah labil itu. Perlahan kuberjalan tanpa melongok ke arah dasar jurang sedalam 20 meter di sisi kiri jalan setapak yang kulalui...”

Aku tau tentang Curug benowo dari internet. Cerita-cerita yang menggugah nyali dan foto-foto yang menggairahkan dari pemandangan alam curug benowo menimbulkan minat mudaku untuk mencoba jalur treking dilereng ungaran itu.

Perjalanan dari rumah menyusuri jalan raya naik ke arah Unnes Sekaran, terus melewati beberapa pedesaan di Gunung Pati. Aku sama sekali buta dengan jalur jalan ini, hanya mengandalkan ingatan bahwa pos pemantauan Curug Benowo ada di desa Kalisidi. Ada yang menyebut masih masuk Gunung Pati, namun ada juga yang mengatakan sudah masuk kecamatan ungaran barat. Dengan sedikit tanya sana – sini sampailah aku di Desa Kalisidi. Desa di lereng bukit ungaran yang sejuk, damai dan tenang.

Di Pos Perhutani nampak segerombol orang yang sedang bercengkerama. Nampaknya sudah ada beberapa treker di depanku yang juga ingin merasakan eksotiknya berjalan menyusuri sungai dan hutan menuju curug benowo. Segera kuhampiri pos itu dan ikut berbincang dengan petugas. Ternyata petugasnya bapak bapak yang berasal dari Kulon Progo. Setelah ngobrol sana – sini sebentar karena sama-sama dari Jogja maka aku segera menghampiri kendaraanku dan naik menyusuri jalan desa yang berbatu-batu.

untuk pengendara dari desa sepertiku tidak menjadi masalah, jalan itu masih cukup baik. Namun bagi pengendara yang biasa jalan di kota, tentu akan menjadi kesulitan tersendiri. Setelah kurang lebih 10 menit, tibalah aku di Pos Penjagaan Curug Benowo. Kembali aku sedikit berbincang untuk memastikan bahwa jalan yang ku ambil benar dan sedikit minta petunjuk untuk jalur treking yang akan kulalui.

Bapak penjaga itu bercerita bahwa di depanku sudah banyak yang naik menuju curug, kira-kira ada 20 sd 30 an pengunjung sejak jam 9 pagi. Waktu itu tepat menunjukkan pukul 11.00. Segera aku bergegas ke warung di seberang jalan untuk melengkapi perbekalan. Ternyata hanya ada kopi, teh dan sebotol aqua. Aku memesan teh untuk menghangatkan badan serta 1 botol aqua untuk kubawa jalan. bersambung


Saturday, April 12, 2014


Walikota Semarang membawakan lagu " Bunga Terakhir " dalam pembukaan Grand Final Pemilihan Denok Kenang Kota Semarang di Hotel Horison Simpang Lima Semarang.

📌 Artikel Pilihan
Pendakian Merbabu
Pendakian Merbabu yang Selalu Haru Biru

Gunung Merbabu bukan sekadar tempat mendaki. Setiap langkah menyimpan cerita, perjuangan, dan haru yang selalu membuat rindu untuk kembali.

➜ Baca Selengkapnya

CATATAN HARIAN

Popular Posts

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Satu Malam, Ranjangku Seperti Kebanjiran

Malam itu aku terbangun karena celana dan sprei basah. Kukira hanya kejadian biasa, tetapi malam itulah awal perjalanan yang akhirnya membawaku menjalani hemodialisis. Sebuah kisah nyata tentang ujian, harapan, dan ikhtiar.

Baca Selengkapnya »
Hubungi Kami Kariswisata