Wednesday, September 3, 2014
Tuesday, August 19, 2014
Pengertian motif sering dipakai sehari-hari, cerita-cerita misteri atau biasanya dipakai polisi untuk menjelaskan sesuatu perkara yang disebut motif tersangka, seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dll. Motif adalah proses berpikir dan berasa yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan tertentu. Sedangkan motivasi menunjukkan keadaan internal dalam diri individu yang mengarahkan aktifitas dan perilakunya pada tujuan-tujuan dan sasaran tertentu.
Jenis Motivasi Yang Dimiliki Seseorang
Dalam materi achievement syndrom biasanya yang dipakai adalah pembagian motivasi menurut McClelland
a. Motivasi berafiliasi ( Need for Affiliation )
b. Motivasi kekuasaan ( Need for Power )
c. Motivasi berprestasi ( Need for Achievement atau N-ach)
Apa itu N-ach dan Bagaimana Mengukurnya?
N-ach adalah kebutuhan yang memberikan motivasi bagi seseorang untuk melakukan hal-hal yang terbaik, dalam berbagai hal kehidupan, untuk dapat membuat dirinya berharga. Pengukurannya antara lain menggunakan instrumen Skala Keyakinan Motivasi ( SKM ), Acievment Tes, dan Inventarisasi Reaksi Sosial ( IRS)
Ciri-Ciri Seorang High Achiever
1. Menyukai tantangan dan tanggung jawab dalam pekerjaan.
2. Menginginkan feedback ( umpan balik) yang konkret misalnya penghargaan atau kritik membangun.
3. Lebih menyukai pekerjaan personal daripada group.
4. Suka mengambil resiko yang sedang atau moderate
5. Bersifat perfelsionis atau sesempurna mungkin.
6. Senantiasa menentukan targat dan sasaran dalam aktifitas.
7. Terbuka terhadap iklim persaingan dan konflik, seringkali bahkan mencarinya.
8. Tidak suka lama-lama berada dalam pembicaraan, situasi atau aktifitas yang tidak jelas arah dan tujuannya.
9. memiliki Locus of Control Internal ( LOCI)
Thursday, August 7, 2014
Tuesday, July 8, 2014
Monday, July 7, 2014
Sepulang kerja, sekitar pukul 18.15 setelah Magrib, aku melintas di pertigaan lampu merah Piyungan. Di pinggir jalan kulihat seorang bapak tua berdiri sambil sesekali mengangkat tangan ke arah mobil yang lewat. Sepertinya beliau sedang mencari tumpangan. Angkutan umum jam segitu sudah hampir tidak ada.
Aku berhenti dan menghampirinya.
"Pak, mau saya antar?"
Beliau tersenyum kecil, lalu naik ke motor.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Ternyata beliau penjual sapu keliling. Sejak subuh beliau berjalan kaki dari sekitar Imogiri Timur menuju Patuk, memikul sapu di pundaknya. Setelah semua dagangannya habis terjual, hari sudah keburu malam. Tenaganya juga pasti sudah habis. Mau jalan kaki pulang rasanya sudah tidak kuat, sementara angkutan yang ditunggu tak kunjung datang.
Aku jadi lebih banyak diam.
Di kepalaku terus terbayang perjalanan bapak itu. Berjalan kaki sejak subuh, naik turunnya tanjakan Patuk sambil memikul puluhan sapu. Bahkan membayangkannya saja sudah membuatku lelah.
Tak lama kemudian kami sampai di perempatan Ring Road dekat Wojo.
Beliau meminta berhenti.
Sebelum turun, beliau menjabat tanganku sambil berkata,
"Terima kasih, Nak. Semoga selamat di jalan dan dimudahkan rezekinya sama Gusti Allah."
Aku hanya menjawab,
"Aamiin, Pak."
Beliau lalu berjalan pelan meninggalkanku.
Aku memutar motor menuju Wirosaban, tetapi pikiranku masih tertinggal di perempatan itu.
Aku baru sadar...
Barangkali hari itu aku merasa sedang menolong seorang penjual sapu. Padahal bisa jadi, justru beliau yang sedang mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur.
Karena di usia senjanya, setelah berjalan kaki seharian memikul beban hidup, beliau masih sempat menghadiahkan doa untuk orang yang baru dikenalnya beberapa menit.
Semoga Bapak Penjual Sapu selalu diberi kesehatan, kemudahan rezeki, dan keberkahan dalam setiap langkahnya.
Lalu suatu siang, aku bertemu seorang bapak penjual kerupuk.
Beberapa waktu yang lalu, saat sedang menikmati semangkuk Indomie di sebuah warung pinggir jalan Sorosutan, pandanganku tertuju pada seorang bapak tua yang berjalan pelan di bawah terik matahari.
Di pundaknya tergantung dua kaleng besar berisi kerupuk. Besarnya hampir dua kali tubuh beliau. Di tangan kanannya masih menjinjing termos es yang juga tidak kecil.
Aku hanya bisa memandangi beliau dari kejauhan.
Matahari tepat berada di atas kepala. Udara terasa begitu menyengat. Entah sudah berapa kilometer beliau berjalan siang itu. Yang terbayang di pikiranku hanya satu...
Pasti haus. Pasti lelah.
Saat itu sebenarnya aku ingin menghampiri dan mentraktir beliau makan siang. Tetapi warung sedang ramai. Aku takut niat baikku justru membuat beliau sungkan atau merasa tidak enak.
Akhirnya aku hanya berkata dalam hati,
"Kalau suatu saat bertemu lagi, aku ingin memberi sesuatu untuk beliau."
Esok harinya aku sengaja kembali ke tempat yang sama. Aku menunggu cukup lama dengan harapan beliau lewat lagi. Rencanaku sederhana. Aku ingin mengikutinya sebentar, lalu di tempat yang lebih sepi memberikan sedikit uang sekadar untuk makan siang atau menambah bekal pulang.
Namun beliau tak pernah muncul.
Aku pikir mungkin kesempatan itu memang sudah lewat.
Sampai Minggu malam kemarin...
Sekitar pukul sembilan malam, aku dan istriku hendak makan bakso di daerah Umbulharjo.
Tiba-tiba istriku berkata,
"Mas... berhenti. Sepertinya itu bapak penjual kerupuk yang dulu."
Aku menoleh.
Dan benar.
Beliau masih memikul dua kaleng besar yang sama.
Masih berjalan kaki.
Bedanya, kali ini bukan di bawah terik matahari.
Melainkan di tengah malam.
Saat itu dadaku terasa sesak.
Siang beliau berjalan.
Malam pun beliau masih berjalan.
Entah sejak jam berapa beliau bekerja hari itu.
Yang terlintas di pikiranku bukan lagi soal kerupuk.
Melainkan sebuah pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa kujawab.
Seberat apa hidup seseorang, sampai di usia setua itu ia masih harus memikul beban di pundaknya dari pagi hingga larut malam?
Aku meminta istriku membuka dompet.
Lalu kami menghampiri beliau dan memberikan sedikit uang.
Tidak banyak.
Bahkan mungkin sangat kecil dibanding perjuangan beliau seharian.
Beliau menerimanya dengan senyum yang begitu tulus.
Saat kami berpamitan, justru beliau yang berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Padahal...
Akulah yang merasa mendapat pelajaran malam itu.
Tentang kerja keras.
Tentang harga diri.
Dan tentang betapa seringnya kita mengeluh, sementara di luar sana masih ada orang yang terus berjalan memikul beban hidup tanpa pernah berhenti berharap.
Maaf ya, Pak... Jangan lihat nilainya. Semoga sedikit yang kami berikan bisa bermanfaat untuk Bapak dan keluarga. Semoga Tuhan selalu menjaga kesehatan, menguatkan langkah Bapak, dan melapangkan rezeki Bapak. Aamiin.